SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 74


__ADS_3

Sepanjang jalan pulang dari rumah Rico, Kiana menggerutu tidak jelas karena Karin tidak jadi berbicara dengan Rico justru bernostalgia dengan Jennie.


Kiana kembali ke kantor William, dari pada mengikuti kemauan Karin mending dia tadi berkerja.


"Kenapa tidak jadi libur kerja?" tanya William tanpa melirik ke arah Kiana sama sekali.


"Acaranya berubah! Tante Karin kalau sudah ketemu temannya lupa segalanya," jawab Kiana kemudian mengambil berkas untuk dia kerjakan.


"Memangnya kalian pergi ke mana?" tanya William lagi. Dia penasaran rencana apa lagi yang mereka susun.


"Ke rumah Rico," jawab Kiana tanpa sadar.


"Apa? jadi teman Mamah...


William langsung mengambil jasnya dan kunci mobil, kemudian ia langsung pergi ke rumah Rico. Kiana hanya bisa menatap kepergian William, ia menepuk jidatnya karena sudah salah lagi.


William mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hampir saja dia menabrak orang yang hendak menyebrang. Beruntung saja orang itu cepat berlari, kalau tidak pasti sudah menjadi masalah baru buat William.

__ADS_1


Saat ini dia sudah berada di depan pintu rumah Rico, ia lalu mengetuk pintu. Jennie dengan cepat membuka pintu untuk William, karena dia yang berada di ruang tamu bersama Karin sedang mengobrol.


"William! kamu tampan sekali sekarang," ucap Jennie sembari memeluk William.


"Tante, kenapa pulang tidak kasih kabar William? apa sudah lupa," ucap William seraya membalas pelukan Jennie.


"Anakku dari dulu juga tampan," sahut Karin yang sedang duduk.


William menanyakan keberadaan Rico, Jennie hanya menjawab kalau Rico berada di ruang atas. William tanpa permisi langsung menaiki lift rumah itu dan menuju di mana Rico berada.


Saat hendak menuju ke ruangan di mana Rico berada, William mendengar tangisan bayi lalu mencari di mana asal suara itu.


Rico saat ini sedang berbicara dengan Stella, agar Stella tidak menemui Jennie terlebih dahulu. Mereka berdua kaget melihat kedatangan William.


Stella tidak tau harus berbuat apa, dia hanya bisa mengeluarkan air mata. Rico sangat panik karena bersembunyi pun sudah tidak sempat.


"Rico, Stella... " ucap William lirih.

__ADS_1


"Tuan, bisa kita bicara sebentar," kata Rico mendekati William.


"Dasar penghianat!" teriak William yang mulai mengepalkan kedua tangannya hendak memukul Rico, tetapi dia mengurungkan niatnya saat melihat ke arah Stella.


"Rico tidak salah! kamu yang pecundang!" sahut Stella dengan keras.


William menuduh Rico menyembunyikan Stella, hingga mereka semua beradu mulut. Ia juga mengatakan kalau anak yang menangis tadi anak Rico dan Stella.


"Pintar juga kamu bersandiwara! dasar perempuan j4l4ng!" teriak William.


Plak... plak...


Tamparan keras itu mengenai pipi William, dengan sekuat tenaga Stella melakukan semua. Dia tidak terima dengan ucapan William, Rico hanya diam saja karena merasa bersalah dengan William.


Karin dan Jennie yang mendengar keributan, lalu bergegas menuju ruangan itu. Kekhawatiran Jennie terjadi juga, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"Stella, mana cucuku?" sahut Karin.

__ADS_1


"Anak ku bukan cucu, Nyonya!" ucap Stella dengan mata memerah karena kesal bercampur emosi.


"Bayi yang dilahirkan Stella bukan anak William, tetapi anak Rico! mereka berdua penghianat!" teriak William yang tidak mengakui Angelica adalah anaknya.


__ADS_2