
Tiga bulan kemudian.
Hari ini tepat tiga bulan, janji William untuk menikahi Helena harus di tepati. Acara pesta sudah di siapkan di hotel berbintang, tentunya sangat meriah. Tamu undangan yang datang juga dari kalangan orang terpandang dan kaya.
"William, kamu harus mempersiapkan diri," ucap Karin dengan tersenyum. Dia tidak ingin membuat suasana menjadi kacau.
"Mah, mungkin ini sudah menjadi nasib William menikah dengan wanita yang tidak William cintai," ujar William.
"Maafkan Mamah! sudah ikut menyetujui permintaan Ayah mu, harusnya dulu Mamah tidak setuju," kata Karin sembari meneteskan air mata.
"Semuanya sudah terlanjur, tidak ada yang perlu di sesali," kata William.
Helena datang menghampiri William, saat ini mereka sudah berada di hotel sedang bersiap-siap. Ia hendak mengajak William keluar menemui tamu undangan.
"William, ayo kita keluar!" ajak Helena.
"Kamu tau gak? aku sedang bicara dengan Mamah," ucap William.
"Bicaranya nanti saja! jangan membuat malu keluarga besar kita!" kata Helena.
__ADS_1
"Mah, William ke depan dulu!" pamit William pada Karin.
Setelah William keluar dari kamar hotel, air mata Karin kembali menetes. Rico yang dari tadi mematung di situ, hanya melihat Karin menangis.
"Nyonya, hapus air mata Nyonya! kata Tuan tidak ada yang perlu di sesali bukan?" ujar Rico sembari memberikan tisu pada Karin.
"Rico, jaga ucapan kamu! sebagai orang tua, pasti akan sedih dan menyesal kalau anaknya tidak bahagia," kata Karin.
"Sebaiknya Nyonya segera ke depan, sebelum Ayah Nona Helena tau kalau Nyonya menyesal," kata Rico.
Ucapan Rico ada benarnya juga, saat ini Karin harus pura-pura bahagia.
Sejak tiga bulan yang lalu, Kiana sering ke luar kota. Dia semakin sibuk akhir-akhir ini. William tidak mengetahui soal Kiana yang sering pergi ke luar kota.
"Nona Kiana di mana, Nyonya?" tanya Rico karena dari tadi pagi tidak melihat Kiana.
"Aku tidak tau, Rico! dia sering menghilang begitu saja sekarang," bohong Karin.
"Nyonya, harusnya keponakan Nyonya mendampingi Tuan William," kata Rico.
__ADS_1
Karin memarahi Rico agar tidak membahas soal Kiana lagi, dia sudah lelah mendengar ocehan Rico. Kalau Karin kelepasan bicara semuanya akan berantakan.
Rico mengajak Karin untuk menemui para tamu undangan, tamu undangan William sendiri juga sangat banyak.
Wilda datang bersama suaminya, dia hanya mengucapkan selamat lalu pulang. Karin heran dengan putrinya yang tidak pernah akur dengan putranya.
Helena terlihat sangat bahagia malam ini, impiannya menikah dengan William sudah terwujud. Dia sangat berterimakasih pada Papahnya.
"William, aku sangat bahagia! apa kamu juga?" tanya Helena.
"Seperti yang kamu lihat, Helena," kata William.
William masih kepikiran dengan sosok Stella, dia tidak bisa melupakan Stella. Saat ini dirinya hanya menepati janji pada almarhum Ayahnya.
Mbok Yem yang begitu dekat dengan Stella juga sangat sedih, dia tak menyangka William harus menikah dengan anak seseorang yang jahat.
Harusnya pernikahan ini di iringi dengan suasana bahagia, tetapi ini tidak. Justru di iringi dengan kesedihan yang mendalam.
Stella pasti akan sangat terluka kalau mengetahui semua ini, bahkan dia belum tentu bisa memaafkan William.
__ADS_1