
"Bayi yang sangat cantik, putih bersih seperti wanita itu," kata Nyonya Jennie menatap wajah Angelica.
Ponsel Nyonya Jennie berbunyi, dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Saat mengetahui yang menghubunginya adalah anak semata wayangnya, ia mematikan ponselnya.
Nyonya Jennie dan pengawalnya akan segera kembali ke negara asalnya, ia berencana untuk membesarkan Angelica.
"Bagaimana kalau Tuan muda marah, Nyonya?" tanya salah satu pengawalnya.
"Dengan cara seperti ini dia akan pulang," jawab Nyonya Jennie.
Angelica sangat anteng berada di pangkuan Nyonya Jennie, bahkan dia sudah tidak menangis lagi. Nyonya Jennie ingin merasakan merawat bayi perempuan, karena dia hanya mempunyai satu anak itupun laki-laki dan sudah dewasa.
"Aku tidak perduli ini anak Rico atau bukan!" ucapnya dalam hati.
***
"Stella... Stella... kamu harus bertahan," ucap Rico seraya menepuk pipi Stella dengan pelan.
Perawat rumah sakit menyuruh Rico keluar dari ruangan, karena dokter akan segera memeriksa Stella. Beruntung saja Rico membawa Stella tepat waktu.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan Stella? apa dia baik-baik saja?" tanya Rico sangat khawatir dengan keadaan Stella.
"Tenang, Tuan! Nona Stella baik-baik saja, dia hanya kelelahan," jelas Dokter sembari menuliskan resep obat untuk Stella.
Dokter lalu memberikan resep itu pada Rico, dan menyuruh Rico untuk segera menebus obat itu. Rico bergegas untuk segera menebus obatnya, demi kesembuhan Stella dia rela melakukan apapun.
Setelah mendapatkan obat, Rico menemui Stella yang ternyata sudah sadar. Stella sedang menangis saat ini, dia teringat dengan anaknya.
"Stella, minum obat ini dulu," kata Rico seraya memberikan obat dan segelas air putih.
Pyarrrr....
"Siapa yang membawa? apa sebenarnya yang telah terjadi?" tanya Rico.
Stella kemudian menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya, dia sangat sedih kehilangan anaknya.
Rico sudah tau kalau Angelica di bawa Nyonya Jennie, kemudian dia menenangkan Stella. Tidak mungkin Rico memberitahu pada Stella, hanya akan menambah masalah saja.
Rico kemudian berpamitan pada Stella, dia keluar dan menelpon Nyonya Jennie. Untuk menyuruh mengembalikan bayi Stella, tetapi Nyonya Jennie sudah terlanjur membawanya ke luar negeri. Ia kemudian berencana akan mengambil Angelica, Rico tidak tega melihat Stella.
__ADS_1
***
Keadaan William sudah membaik, dia kembali ke rumah Helena lagi. Helena sangat senang menyambut suaminya datang.
"William, apa kerjaan kamu di luar kota sudah selesai? aku merindukan kamu, sayang," ucap Helena mencium lembut bibir William.
William yang diperlakukan seperti itu langsung terbuai, seakan-akan yang berada di depannya adalah Stella. Ia membalas ciuman Helena, bahkan memperdalam sentuhan bibirnya.
"Stella... " ucapnya lirih.
Helena yang mendengar perkataan William memanggil nama Stella tidak menghiraukan sama sekali, dia menikmati sentuhan demi sentuhan yang William lakukan.
"Tak apalah aku di anggap Stella, yang penting aku merasakan sentuhan William. Aku akan terus menggodanya," ucap Helena dalam hati.
William terus melakukan aksinya, hingga menyentuh gundukan dada Helena. Membuat Helena seperti cacing kepanasan.
Ketukan pintu dari luar menghentikan pergumulan mereka berdua, dengan cepat William merapikan kemejanya.
"Sial!" umpat William.
__ADS_1
Helena segera membuka pintu rumahnya dan menyambut tamunya dengan sopan, ternyata yang datang adalah Karin. Dia mengantarkan berkas William, yang beberapa hari yang lalu tertinggal di rumahnya.