SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 82


__ADS_3

Stella dan Nyonya Jennie mendekati Rico, mereka sangat panik.


"Rico, siapa yang berani melempar batu ke rumah kita?" tanya Nyonya Jennie dengan panik.


"Kita cari tau dulu, Mah. Mungkin orang suruhan," ucapnya kemudian keluar dari rumah untuk melihat rekaman CCTV yang ada di sekitar rumah.


Terlihat dalam rekaman itu ada seorang wanita yang mondar-mandir agar bisa masuk ke dalam, tetapi penjagaan yang sangat ketat orang itu tidak bisa masuk lalu mengambil sebuah batu dan melemparkan dengan kencang.


Rico tidak bisa mengenalinya karena tidak begitu jelas wajah orang itu, kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah.


"Rico, siapa orang yang melakukannya?" tanya Stella sembari menggendong Angelica yang sudah terbangun.


"Rekaman CCTV itu tidak begitu jelas, hanya terlihat seorang wanita," jawab Rico. Kamu tidak usah khawatir, aku akan memperketat penjagaan rumah ini," Lanjutnya.


*


*


Setelah kejadian di rumah Karin tadi, Helena pergi ke rumah Papahnya. Air matanya tidak berhenti menetes, hatinya sangat kecewa mengetahui kenyataan pahit yang selama ini terpendam.


Dia masuk ke dalam kamarnya yang dulu dia tempati saat masih tinggal di rumah ini, Helena merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menangis.


Melihat anaknya datang dengan kondisi tidak baik, Lukman mengikutinya masuk ke dalam kamar. Di elusnya pucuk kepala sang anak, dia tau anak semata wayangnya sedang terluka.


"Ceritakan apa yang sudah terjadi," ucapnya dengan lembut selayaknya seorang ibu.


"Pah, William sudah membohongi kita," kata Helena kemudian bangun dari tidurnya dan memeluk Papahnya.


"Maksudnya? kenapa bisa terjadi!" tanya Lukman kaget.


Helena menceritakan kejadian tadi di rumah Karin, Papahnya pun geram mendengar cerita dari anaknya. Padahal dahulu William sudah berjanji tidak akan pernah menyakiti dan menyia-nyiakan Helena.


"Papah akan temui William sekarang juga," kata Lukman kemudian berdiri hendak pergi, Helena mencekal tangan Papahnya.


"Jangan sakiti William, Pah! ini sudah menjadi resiko Helena terlalu memaksakan William untuk menikah," kata Helena.


Lukman hanya menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah keluar. Dia mengambil jas lalu menyuruh sopir dan pengawalnya untuk mengantarkan ke kediaman William.


William saat ini sedang berada di ruang kerja, dia masih terngiang dengan tangisan bayi yang dia gendongnya tadi, wajah cantik bayi yang mirip dengannya. Kali ini dia berfikir kalau bayi itu adalah anaknya atau bukan, tetapi dia tetap tidak akan mengakuinya. William sudah tidak peduli lagi dengan Stella dan lainnya, entah sekarang apa yang dia mau.

__ADS_1


Ketukan pintu yang sangat keras membuyarkan lamunannya, dia bergegas keluar dari ruang kerjanya dan menuruni tangga dengan cepat.


"Papah, silahkan duduk! ada perlu apa, malam-malam datang ke sini?" tanyanya dengan sopan.


Plak... plak...


Tamparan keras mendarat di mukanya lagi, kali ini sampai dia terjatuh. William tidak membalas perlakuan Lukman, dia sudah menduga kalau hal ini akan terjadi.


"Mana janjimu padaku, William? kenapa kamu mengingkari!" teriak Lukman dengan amarahnya.


"Janji apa, Pah?" tanyanya sembari bangkit dari jatuh.


"Kenapa kamu tega menyakiti putri ku? jangan macam-macam kamu atau aku hancurkan perusahaan mu!" teriaknya.


"Lakukan kalau bisa!" ucap William dengan lantang.


"Oh... kamu sudah berani menantang ku! tunggu saja!" kata Lukman kemudian hendak pergi dari rumah William.


William tersenyum licik, ada sesuatu yang telah dia rencanakan. Setelah Lukman keluar dari rumahnya dia menghubungi istrinya agar mau pulang ke rumah, William meyakinkan Helena kalau anak yang di bawa oleh Rico bukan anaknya. Dia juga mengajak Helena untuk pergi ke luar negeri berbulan madu.


Helena pun senang mendengar perkataan William, dia lalu pulang ke rumahnya tanpa menunggu Lukman pulang. Dia seperti orang yang terhipnotis, hanya mendengar perkataan William akan di ajak bulan madu langsung percaya.


Tak lama kelamaan Helena datang, dia langsung menemui William. Helena yang sudah tidak sabar langsung berhambur ke pelukan William.


"Sayang, aku minta maaf sudah tidak mempercayaimu," ucap Helena seraya mempererat pelukannya di tubuh William.


"Aku tau kamu pasti akan marah mendengar semuanya," kata William sembari membalas pelukan Helena dan mencium kening istrinya.


Untuk menghindari masalah ini William besok akan langsung mengajak Helena ke luar negeri, bahkan dia juga akan memanjakan Helena.


"Kita bulan madu kemana? aku maunya di daerah pantai saja," kata Helena dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Kemana saja asal dengan mu, sayang," ucap william mencolek dagu Helena.


William kemudian mengajak istrinya untuk beristirahat agar besok tidak lelah, karena perjalanan jauh pasti akan menguras tenaga.


*


Sampai di rumah Lukman marah-marah karena Helena kembali lagi ke rumah William, dia juga mengancam Helena tidak akan membantunya lagi.

__ADS_1


"Awasi terus William, dia sangat berbahaya," ucap Lukman pada seseorang.


"Baik Tuan," kata Orang itu.


Helena memang mengemaskan dan membuat kesal Papahnya. Tau akan seperti tadi dia tidak akan mendatangi William, hanya terkesan membuat malu orang tua.


Lukman masih penasaran dengan perkataan Helena, dia akan mencari tau sendiri apakah benar yang dikatakan Helena.


*


Keesokan paginya Helena membangunkan William dari tidurnya, dia sudah tidak sabar untuk di ajak pergi bulan madu.


William susah sekali dibangunkan, sepertinya dia sangat lelah.


"Sayang, kapan kita berangkat? jadi tidak kita pergi," ucap Helena sembari mengoyak tubuh suaminya.


"Nanti pulang dari kantor," jawabnya dengan suara khas orang bangun tidur.


Helena mengerucutkan bibirnya, dia ingin berangkat pagi ini biar nanti malam bisa menikmati keindahan negara yang akan mereka tuju.


Sudah lama Helena tidak pergi berlibur, makanya dia sudah tidak sabar.


William kemudian bangun dan bersiap untuk pergi ke kantor dulu, karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan. Helena mengikuti William pergi ke kantor, dia tidak mau di rumah sendiri.


Ternyata William tidak pergi ke kantornya sendiri, dia pergi ke kantor rekan kerjanya. Tak sengaja di tempat itu ada Martin, yang sepertinya sedang menunggu seseorang.


"Helen, kamu tunggu di sini dulu. aku meeting sebentar," ucap William menyuruh Helena menunggu di kursi yang memang sudah di sediakan.


William masuk kedalam ruangan itu, Martin yang mengetahui ada Helena langsung menemui Helena.


"Helena, kamu menunggu ku," ucap Martin meledek.


"Diam! jangan banyak bicara," kata Helena dengan kesal.


"Baik istri orang tidak bertanggung jawab," kata Martin.


Martin lalu masuk ke dalam ruang meeting, tetapi mereka belum memulai meeting karena masih ada orang yang di tunggu.


Dari kejauhan Helena melihat sosok wanita cantik dengan rambut panjang, wanita itu hendak memasuki ruang meeting.

__ADS_1


"Seperti pernah melihat orang ini, tapi dimana?" ucapnya Helena dalam hati seraya melihat wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


__ADS_2