SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 78


__ADS_3

"Nona Kiana, mari silahkan masuk Tuan ada di dalam," ucap Mbok Yem kebetulan dia yang membukakan pintu untuk Kiana.


"Terimakasih, Mbok," kata Kiana lalu masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan William.


William ternyata sedang duduk di tepi kolam, sembari menikmati secangkir kopi dan kue yang sudah di potong berada dalam piring.


Byuurrrr


Kiana mendorong William hingga jatuh ke dalam kolam, dia kesal dengan William yang tidak mengakui kalau Angelica adalah anaknya.


"Dasar wanita gila! apa yang kamu lakukan," kata William yang hendak naik dari dalam kolam.


"Kamu yang gila! tidak mau mengakui anak sendiri," kata Kiana menatap sengit William.


William marah dengan ucapan Kiana, kemudian dia naik ke atas dan langsung mencekik leher Kiana. Kiana memegang tangan William agar bisa terlepas.


Uhuukkk... uhuukkk...


"Jangan pernah coba-coba mengatakan aku tidak bertanggung jawab! kamu tidak tau kebenarannya," kata William dengan keras.


"Lep... as! Wil... " ucap Kiana kesulitan berbicara seraya berusaha agar bisa terlepas dari cekikan William.


"Tuan! Lepaskan! Nona Kiana bisa mati," teriak Mbok Yem yang ternyata ia menyaksikan kejadian itu.


William kemudian melepas cekikannya dan mendorong Kiana hingga tersungkur di lantai, Mbok Yem membantu Kiana berdiri.


"Pergi dari sini! jangan pernah datang lagi!" teriak William mengusir Kiana.


Mbok Yem meneteskan air mata, dia merasa gagal menjadi orang tua. Ia juga merasa bersalah, apakah dia salah mendidik William selama ini.


Walaupun dia hanya seorang asisten rumah tangga, tetapi dia mengganggap William sudah seperti anaknya sendiri, bahkan dia rela mengabdikan hidupnya untuk keluarga William. Padahal dia sering menasehati William, agar menjadi orang yang baik.


Mbok yem kemudian mengambilkan handuk untuk William, lalu memberikan pada William. "Tuan, jangan sampai anda menyesal," ucapnya lalu hendak melangkahkan kaki.


"Apa Mbok juga memilih untuk pergi?" tanya William sembari mengusap kepalanya dengan handuk.


"Tidak Tuan, asal Tuan mau meminta maaf pada Nona Stella dan mengakui anak anda," kata Mbok Yem memberanikan diri.


William masih mengelak dan tidak mau meminta maaf pada Stella, dia bersikukuh kalau Angelica bukan anaknya. "Stella tinggal di rumah Rico," ucapnya.

__ADS_1


Mbok Yem jadi berfikiran buruk dengan Rico dan Stella, mungkin benar kata William hingga membuatnya tidak mau mengakui anaknya.


Kiana menangis di sepanjang jalan, dia sakit hati dengan sepupunya yang tidak punya tanggung jawab itu. Ingin rasanya dia keluar juga dari kantor William, tetapi dia tidak tau dengan nasib keluarganya jika tidak berkerja pada William lagi.


"Kiana, kenapa kamu datang kesini menangis? ada masalah apa?" tanya Wilda dengan ketus.


"Mana Tante Karin?" tanya Kiana.


Wilda tidak menjawab pertanyaan Kiana, dia kesal karena pertanyaannya tidak di jawab oleh Kiana.


"Tante!" teriak Kiana.


"Aduh... kenapa kamu teriak-teriak, sayang?" sahut Karin yang sedang menuruni tangga hendak menuju di mana Kiana berada.


"Kiana benci sama William, dia hampir saja membunuhku Tante," adu Kiana.


"Kamu pasti melakukan kesalahan! sayang, William sedang menghadapi masalah seharusnya kamu jangan menambah dong," jelas Karin dengan lembut.


"William tidak mau mengakui anaknya, Tante! Kiana jadi kesal dan William aku dorong masuk kolam," ucap Kiana dengan jujur.


Karin menggelengkan kepalanya, dia heran dengan keduanya bukan mencari jalan keluar malah berantem. Karin mempunyai rencana untuk merebut Angelica dari tangan Stella, karena tidak mungkin William menikah dengan Stella.


Helena mencari William ke kantor tetapi tidak ada, kemudian dia memutuskan untuk pergi ke kantor Martin.


"Mbak, Martin ada tidak?" tanya Helena saat berada di kantor Martin.


"Tuan baru ada tamu, Nona. Kalau mau silahkan tunggu saja di sebelah sana," kata seorang karyawan Martin sembari menunjukkan ruang tunggu.


Helena lalu mengikuti apa yang di katakan karyawan Martin, dia duduk menunggu Martin sambil memainkan ponselnya. Baru kali ini Helena mau menunggu Martin, biasanya dia akan memaksa untuk masuk ke dalam ruang kerja Martin walaupun tidak diperbolehkan.


"Lama sekali, seperti mau ketemu orang penting saja," gerutu Helena.


Martin saat ini sedang berada di ruangannya, dia bersama Nyonya Jennie untuk membahas proyek baru mereka. Ide cemerlang Martin sangat dibutuhkan oleh Nyonya Jennie, begitu juga sebaliknya.


Helena bosan menunggu Martin, dia nekad masuk ke dalam ruangan kerja Martin.


"Helena!" kaget Martin.


"Bisa ketuk pintu dulu, Nona! kita sedang membahas pekerjaan," kata Nyonya Jennie.

__ADS_1


"Martin, aku bosan setiap bertemu denganmu harus menunggu terus," kata Helena.


"Kamu bisa menunggu dulu kan?" ucap Martin.


"Ada yang ingin aku bicarakan, ini penting sekali," kata Helena.


"Siapa dia, Martin? kekasih mu?" tanya Nyonya Jennie sembari melihat ke arah Martin.


"Istri William," jawab Martin.


Helena tidak terima diperkenalkan sebagai istri William, dia marah dengan Martin. Nyonya Jennie yang melihat sikap Helena menjadi kurang suka, tidak punya sopan santun dan etika.


"Menantu Karin benar-benar tidak punya etika, bisanya pergi ke kantor laki-laki lain hanya untuk cari simpati," ucap Jennie dalam hati.


Helena menanyakan siapa Jennie, dia penasaran karena dari tadi Nyonya Jennie menatapnya sengit. Martin mengatakan kalau dia Nyonya Jennie pemilik perusahaan terbesar di kotanya, Helena mendadak tersenyum dengan Nyonya Jennie. Lalu Helena meredakan amarahnya, ia meminta maaf pada Martin dan memperkenalkan diri pada Nyonya Jennie.


"Helena, kita akan melanjutkan pekerjaan. Lebih baik kamu pulang saja dulu, nanti aku akan ke rumah mu," kata Martin.


"Kamu mengusir ku? tidak bisa, aku akan menunggu kamu kerja di sini," kata Helena keras kepala kalau ada kemauan.


Martin kemudian memanggil security untuk membawa Helena keluar dari ruang kerjanya, dia paling malas saat berkerja ada yang mengganggu.


"Maaf atas kejadian ini, Nyonya," kata Martin meminta maaf pada Jennie.


"Tidak masalah, ayo kita lanjutkan," ucap Nyonya Jennie.


Mereka kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda, karena kedatangan Helena. Untung saja Nyonya Jennie bisa mengerti, kalau tidak sudah merugikan pihak Martin.


Helena yang di bawa security keluar dari kantor memberontak, dia tidak terima dengan perlakuan Martin. Kemudian Helena mengingat apakah Papahnya berkerja sama dengan Martin atau tidak, dia berencana ingin menghancurkan.


"Lebih baik aku ke kantor Papah, untuk mencari tau," ucapnya lalu masuk ke dalam mobil dan menjalankannya menuju kantor Papahnya.


Helena berjalan dengan angkuh saat memasuki kantor Papahnya, bahkan ada karyawan yang menyapa tetapi dia tidak membalas.


"Nona Helena, selamat datang. Lama sekali Nona tidak pernah datang, apa kabarnya?" tanya sekertaris Papahnya.


"Diam! gak tau orang lagi kesal apa! Mana Papah?" ucapnya dengan kasar.


Sekertaris itu lalu mengantarkan Helena menuju ke ruangan di mana Papahnya berada, dia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan oleh Helena.

__ADS_1


__ADS_2