
Kiana menemui Karin juga, dia tidak tahan memendam apa yang pernah dia lihat. Dia menceritakan soal Rico pada Karin, membuat Karin tidak terima dan akan memarahi Rico. Rico di anggap telah berkhianat pada William, karena tidak memberitahu soal Stella.
Kiana meredakan amarah Karin, dia tidak mau terjadi apa-apa karena masalah Stella. Semua ini terjadi di luar dugaan mereka, Rico yang dia percaya bisa menyembunyikan hal seperti ini.
"Beraninya Rico tidak mengatakan pada William, kalau dia bertemu dengan Stella," kata Karin dengan kesal.
"Mungkin ada alasan tertentu, atau Rico suka dengan Stella," ucap Kiana menduga-duga.
"Bagaimana kalau kita ambil anak Stella saja, itung-itung sebagai pertanggung jawaban William," kata Karin.
Kiana menyetujui ide Karin, lalu mereka membuat rencana hendak mencari keberadaan Stella dan meminta Angelica. Mereka tidak peduli lagi dengan William dan Helena, mereka juga berfikir William sudah menjadi suami Helena jadi kecil kemungkinan Papah Helena melakukan hal yang melukai William.
Martin sengaja membuat perjanjian dengan Helena, mereka akan bertemu di sebuah restoran. Karena Helena selalu memaksa Martin untuk bertemu, maka ia menuruti permintaan Helena.
Martin sudah datang lebih awal, sembari menunggu Helena ia memesan secangkir kopi terlebih dahulu. Sesekali ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, tiga puluh menit sudah Helena tak kunjung datang. Martin sudah berdiri hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba Helena sudah ada di dekatnya.
"Maaf aku terlambat, tadi kena macet di jalan," ucap Helena kemudian duduk di kursi.
"Kamu mau mempermainkan ku, Helena? aku banyak urusan," kata Martin dengan tegas.
"Paling juga ke club," kata Helena yang tau betul kebiasaan Martin.
Martin hanya tersenyum mendengar ucapan Helena, dia juga tidak bisa menyangkal karena sudah kebiasaan sejak dulu. Akhir-akhir ini saja dia mulai berubah, dan memikirkan masa depan.
"Jangan bahas soal itu lagi! cepat katakan apa mau kamu?" tanya Martin kembali duduk di sebelah Helena.
"Martin, apa maksud kamu selalu bilang William tidak bertanggung jawab?" tanya Helena.
"Ternyata kamu berduaan dengan laki-laki lain, Helena," sahut Karin yang ternyata berasa di restoran itu.
Helena kaget melihat Karin, sedangkan Martin hanya tersenyum sambil menghisap rokoknya. Karin merasa malu dengan teman-temannya, karena mendapati menantunya sedang berduaan dengan laki-laki lain.
__ADS_1
"Mah, aku bisa jelasin! ini semua tidak seperti yang Mamah lihat," ucap Helena.
"Tidak perlu! aku sudah melihat dengan kedua mata ku sendiri," kata Karin. Aku harus memberitahu William," Lanjutnya.
Karin mengambil ponselnya di dalam tas, ia hendak menghubungi William. Tetapi Martin melarang, dia yang menjelaskan pada Karin.
"Untuk apa, Tante? saya tidak nafsu dengan menantu anda, buang-buang waktu saja," ucap Martin kemudian meninggalkan Helena dan Karin.
"Martin! tunggu!" teriak Helena.
"Kamu tidak dengar laki-laki itu bicara apa?" kata Karin menatap Helena dengan kesal.
"Martin pergi gara-gara, Mamah! padahal ini penting sekali," kata Helena lalu pergi meninggalkan Karin.
"Dasar menantu tidak tau diri," gerutu Karin.
Teman Karin menanyakan apa yang baru saja terjadi, mereka dari tadi memperhatikan Karin dan Helena. Karin sangat malu dengan teman-temannya, harusnya kejadian seperti ini tidak terjadi. Karin berencana untuk menemui Helena lagi, untuk membuat perhitungan karena sudah mempermalukan nya.
Hari ini Angelica sudah diperbolehkan untuk pulang, Rico hendak mengajak Stella pulang ke rumahnya lagi. Tetapi Stella menolak, dia bersikukuh untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Rico tetap tidak mengizinkan Stella pulang ke rumahnya sendiri, apalagi keadaan Angelica yang baru saja sembuh. Dengan cara paksa Rico membawa pulang Stella ke rumahnya, di sana sudah ada penjaga yang akan mengawasi gerak-gerik Stella.
"Aku tidak suka di tempat ini, seperti dalam penjara! banyak pengawal," ucap Stella setelah turun dari mobil.
"Harusnya kamu senang bisa masuk ke rumah ku, Stella," kata Rico sembari membuka pintu rumah.
Asisten rumah tangga juga sudah siap untuk menyiapkan keperluan Stella, Rico sudah memberi tahu mereka. Ada juga seorang baby sitter yang sudah disiapkan oleh Rico, untuk menjaga Stella.
"Kenalan itu Suster Lela yang akan menjaga Angelica, dia sudah berpengalaman dalam bidangnya dan kamu tidak perlu khawatir," jelas Rico.
"Apa? maksudnya apa semua ini, Rico?" tanya Stella dengan kaget. Dia tidak menyangka kalau Rico akan melakukan semua ini.
__ADS_1
"Lusa Mamah akan datang menjenguk Angelica, tolong persiapkan dengan baik," kata Rico lagi.
Stella makin geram dengan perlakuan Rico, tanpa meminta persetujuannya lebih dulu. Suster Lela langsung mengambil Angelica dari gendongan Stella, ia membawa Angelica agar bisa istirahat.
"Rico, kamu apa-apaan! aku tidak mau seperti ini," ucap Stella.
"Bersihkan tubuhmu! bukannya kamu belum mandi selama dua hari," kata Rico kemudian meninggalkan Stella untuk pergi ke rumah William.
"Rico!" teriak Stella.
Seorang asisten rumah tangga lalu menunjukkan di mana kamar Stella berada, dia juga menyiapkan baju ganti untuk Stella.
Stella mencium bajunya yang dia pakai, ternyata memang sudah bau keringat. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
"Pantas saja Rico menyuruhku mandi, ternyata sangat bau," kata Stella dengan pelan.
Stella berendam dalam bathtub yang tersedia, agar tubuhnya lebih rileks. Karena kelelahan tak terasa Stella tertidur dalam air, beruntung saja asisten rumah tangga masih berada di dalam kamarnya. Satu jam berlalu, Stella tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi, asisten rumah tangga itu panik.
Asisten rumah tangga itu mengetuk pintu dengan keras, Stella sedikit mendengar lalu terbangun dari tidurnya. "Apa yang terjadi dengan ku? kenapa bisa tertidur," ucapnya.
"Iya sebentar, Mbak!" sahut Stella dengan teriak. Lalu ia membersihkan tubuhnya kembali dengan cepat dan keluar dari kamar mandi.
Asisten rumah tangga itu menyuruh Stella untuk berganti baju dengan cepat, lalu mengajaknya untuk makan. Di meja makan hidangan dengan beberapa jenis sayuran sudah di siapkan, karena Stella harus memberikan asi terbaik untuk Angelica.
Rico ternyata sudah menunggu Stella di meja makan, dia tadi pergi ke rumah William hanya mengambil beberapa berkas.
"Rico, terimakasih kamu sudah menyiapkan semua! aku tidak tau lagi harus berkata apa," ucap Stella sembari mengambil makanan.
"Cepat makan! jangan banyak bicara," kata Rico.
Stella kemudian memberikan makanan dalam piring itu ke pada Rico sambil menatap Rico, begitu juga dengan Stella yang tak sengaja menatap Rico sehingga mata mereka saling bertemu.
__ADS_1
"Rico, seandainya aku istrimu pasti sangat bahagia," ucapnya dalam hati.
Setelah selesai makan Stella melihat Angelica di dalam kamar, bayi itu masih terlelap dalam tidurnya.