
William pulang dengan keadaan kesal, sehingga Helena yang menjadi sasaran atas kemarahannya. Biasanya William cuek dan tidak terlalu memperhatikan Helena, tapi kali ini dia mencari kesalahan.
Saat ini Helena sedang duduk sembari minum teh dan membaca buku, kebetulan William melintas di depannya. Helena sama sekali tidak menyapa William, dia justru fokus dengan buku yang dia baca.
"Helen, suami datang bukannya menyambut malah sibuk membaca buku!" kata William seraya melepas jasnya dan menaruh di sofa.
"Biasanya kamu tidak mau aku perhatikan, kenapa datang-datang protes," ucapnya menaruh buku itu dan mendekat ke arah William.
Helena membantu melepaskan dasi yang melekat di leher William, William juga tidak menolak di bantu Helena.
"Aku mandi dulu," kata William mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Helena menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Helena sangat senang karena William sudah mulai membutuhkannya, itu artinya sebentar lagi Helena akan memiliki William seutuhnya. Dia berjalan menuju dapur hendak membuatkan kopi sembari tersenyum.
"Nyonya, biar saya saja yang membuat minum," kata asisten rumah tangganya.
"Aku membuatkan minuman untuk suamiku," ucapnya sambil mengaduk minuman yang dia buat.
"Biasanya Tuan tidak suka manis, Nyonya," kata asisten rumah tangganya lagi.
Helena memarahi asisten rumah tangganya itu, karena kebanyakan bicara. Padahal berniat baik memberi tahu kesukaan William, sedangkan dirinya sama sekali belum tau.
Karena bahagia yang dia rasakan Helena menyiapkan makanan sendiri tanpa di bantu asisten rumah tangganya, ia memasak sendiri sembari menunggu William keluar dari kamar.
"Kamu yang masak, Helen?" tanya William sembari mengambil makanan yang tersedia di meja.
"Spesial buat kamu, cobain enak gak," kata Helena seraya menyuapi William.
Awalnya William ragu menerima suapan dari Helena, tetapi dia juga tidak enak dengan istrinya. William pun menerima suapan dari Helena, dia langsung minum air putih yang sudah tertuang di gelas. Untung saja Helena sudah menyiapkan, kalau tidak pasti William akan marah.
"Pedas sekali," kata William. Membuat nafsu makan ku hilang," Lanjutnya.
Kemudian William pergi dari ruang makan, dia batal makan bersama Helena. Helena mengikuti William untuk meminta maaf, karena tidak tau kalau William tidak suka makanan yang pedas. William melarang Helena untuk memasak untuknya, hanya Mbok Yem yang menurutnya masakannya enak.
"Helen, lain kali jangan memasak! aku tidak akan makan di rumah," kata William.
"What? harusnya kamu bilang kalau tidak suka makan pedas, jadi aku bisa memasak sesuai seleramu," terang Helena.
__ADS_1
"Jangan banyak bicara, Helen," kata William mengambil kunci mobilnya hendak pulang ke rumah.
Helena sangat kesal dengan William, karena telah meninggalkannya begitu saja. Dia kemudian ke dapur untuk mencari asisten rumah tangganya.
"Bik, kenapa tidak bilang kalau suami saya tidak suka makanan pedas?" tanya Helena.
"Nyonya, tadi menyuruh saya pergi. Jadi saya tidak memberitahu," ucap asistennya.
"Besok kasih tau sebelum pergi," kata Helena kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan membaca buku.
*
*
*
Di kantor Nyonya Jennie.
Martin masih berkerja sama dengan perusahaan Nyonya Jennie, yang dulu tempat Stella berkerja. Pagi ini akan ada meeting dengan Nyonya Jennie sendiri, kebetulan beliau sudah menetap di sini.
Nyonya Jennie kali ini sudah bertekad untuk menampakkan diri, dia sudah tidak peduli lagi dengan orang yang menurutnya sangat mengancam. Rico juga sudah mau memimpin perusahaan sendiri, ia memilih mengawali karier mulai dari nol.
Martin mengenal Nyonya Jennie sudah lama, makanya dia dengan mudah bisa menjalin kerjasama. Dia juga sangat profesional dalam berkerja, walaupun agak nakal.
"Martin, aku ingin mengembalikan saham kamu," ucap Nyonya Jennie saat selesai meeting.
"Tidak! ambil saja Nyonya, karena dulu Nyonya sudah menyelamatkan Mamah," kata Martin merasa berhutang budi dengan Nyonya Jennie.
"Saham ini hak kamu, kenapa kamu menolaknya?" tanya Nyonya Jennie mengernyitkan keningnya.
"Lebih baik kamu terima, bisa di kembangkan di perusahaan lain," sahut Rico.
Rico baru saja mengetahui kalau Mamahnya mengenal baik Martin, karena sebelumnya tidak ada yang memberitahu dan menjelaskan padanya.
"Aku tidak butuh harta! yang aku butuhkan teman," kata Martin. Kita akan tetap berkerja sama dan mencari keuntungan bersama," Lanjutnya.
Kebaikan Martin membuat Rico kagum, tidak mudah mendapatkan teman seperti Martin yang rela memberikan sahamnya.
__ADS_1
Martin juga menawarkan kerja sama dengan perusahaan milik Rico, yang baru mulai dia bangun. Rico menolak karena ingin memulainya dari awal dengan usahanya sendiri.
"Rico, kamu akan kesulitan dalam pemasaran. terimalah tawaran ku," kata Martin.
"Aku akan berusaha sendiri, terimakasih atas tawarannya," ucap Rico menepuk bahu Martin.
Nyonya Jennie mengundang Martin untuk datang ke rumahnya nanti malam, Rico khawatir jika nanti Martin bertemu dengan Stella. Dia berencana mengajak Stella keluar saat Martin datang.
Rico khawatir Stella akan menerima tawaran Martin, dia kemudian menanyakan pada Martin langsung.
"Martin, apa kamu masih menginginkan Stella?" tanya Rico berharap kalau Martin sudah tidak menginginkan Stella lagi.
"Tidak, saya hanya ingin membantu wanita itu! hidupnya sangat malang seperti Mamahku dulu," kata Martin.
Perasaan Rico sangat lega mendengar ucapan Martin, dia juga senang ternyata Martin masih punya rasa peduli.
*
*
Keadaan Stella saat ini masih sering melamun, dia menyesali perbuatannya dan kecewa dengan William. Cinta membutakan segalanya, orang yang benar-benar dia percaya, dia sayangi, dia cintai akhirnya mematahkan hatinya.
"Nona, matikan kran airnya! saluran air bisa penuh," kata Suster Lela yang kebetulan sedang bersama Stella dan Angelica di taman belakang.
"Maaf Suster, aku tidak tau," kata Stella lalu mematikan kran air itu.
"Sepertinya Nona harus istirahat, agar lebih enakan," kata Suster Lela.
Stella menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena masih kepikiran dengan masalah yang dia hadapi. Baginya sangat berat dan menyedihkan, anaknya tidak di akui oleh Ayahnya sendiri.
William sebenarnya juga merasa bersalah, tetapi dia malu untuk mengakuinya. Perasaannya sangat tidak tenang setelah melihat jelas wajah Angelica sangat mirip dengannya.
Cobaan hidup Stella sangat berat, banyak yang tidak peduli dengannya.
"Nona, lebih baik kita masuk ke dalam! dari tadi Nona banyak melamun," kata Suster Lela.
"Aku tidak melamun, hanya kepikiran saja," kata Stella.
__ADS_1
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah, Suster Lela mengantarkan Stella untuk beristirahat di dalam kamar. Dia sangat perihatin dengan apa yang Stella alami.
Harusnya William menceraikan Helena dan membangun rumah tangga dengan Stella. Apalagi anak Stella perempuan pasti sangat membutuhkan sosok Ayah