SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 61


__ADS_3

Martin tiba-tiba datang ke cafe di mana Helena dan Alika berada, dia tiba-tiba duduk di sebelah Helena. Membuat Helena kesal, dia takut ketahuan oleh William.


"Martin!" kaget Helena.


"Kenapa? jangan panik, sayang," ucap Martin tersenyum ke arah Helena.


Kebetulan Alika juga sudah lama mengenal Martin, jadi mereka sangat akrab dan sering bertemu. Mereka juga rekan kerja, jadi tak heran kalau saat ini Martin datang karena Alika yang memberitahu keberadaannya.


"Maaf, aku yang kasih tau Martin. Kalau kita berada di sini Helena," sahut Alika lupa kalau Martin adalah mantan kekasih Helena.


"Tidak perlu meminta maaf! Helena saja yang pura-pura tidak mau bertemu dengan ku, coba kalau berdua," kata Martin dengan santai.


Helena kesal mendengar ucapan Martin, semua karena salah Helena sendiri yang meninggalkan Martin demi mengejar William.


"Martin! ingat aku sudah bersuami," kata Helena dengan keras.


"Suami tidak bertanggung jawab itu yang kamu bangga-banggakan, Helena," kata Martin sembari tersenyum sebelah.


"Tau apa kamu tentang William? jangan sok tau," ucap Helena.


"Dia sudah meng...


"Tuan Martin, kita harus segera ke rumah Tuan besar," kata seorang anak buah Martin.


Martin hampir saja mengatakan pada Helena, untung saja anak buahnya datang. Dia kemudian pergi meninggalkan Helena dan Alika.


"Helena, jangan dipikirkan omongan Martin. Ayo kita makan dulu!" ajak Alika sebenarnya dia penasaran dengan yang akan dikatakan oleh Martin.


"Selera makan ku hilang, kamu saja yang makan!" kata Helena.


Dua kali Helena bertemu dengan Martin, saat akan mengatakan sesuatu tidak jadi. Helena menjadi penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Martin.


**


Rico dan Nyonya Jennie mendapatkan kabar kalau William tidak jadi datang, hal itu membuat Rico lega. Stella juga aman untuk kali ini, dia masih bisa bebas.


"Stella, William tidak jadi datang. Kamu jangan takut lagi," ucap Rico seraya menepuk pundak Stella.


"Makasih, Rico! aku sedikit tenang," kata Stella tersenyum ke arah Rico.

__ADS_1


Nyonya Jennie hanya menatap mereka berdua, seperti ada yang sedang dipikirkannya. "Stella, kalau kamu mau menghindari William pergi dari rumah kamu," sahutnya.


"Aku tidak punya tempat tinggal dan banyak uang, Nyonya. Rumah itu satu-satunya peninggalan orang tua ku," kata Stella.


"Izinkan aku merawat anak mu," ucap Nyonya Jennie masih berusaha ingin merawat Angelica tetapi Stella tidak mudah untuk di rayu.


Stella menatap Rico, mengisyaratkan kalau dia meminta pendapat Rico agar tidak salah bicara. Walaupun Nyonya Jennie orang yang berkuasa, tetapi dia tidak pernah memanfaatkan itu semua.


Rico juga tidak pernah di didik menjadi orang yang terpandang, dari kecil Rico sudah di ajari hidup tanpa fasilitas apapun.


"Mah, Angelica tanggung jawab Stella. Dia juga berhak menyaksikan tumbuh kembang anaknya sendiri, jadi Mamah jangan paksa Stella lagi," jelas Rico.


"Yang penting saya sudah mengingatkan, lambat laun William pasti akan mengetahui semua," kata Nyonya Jennie.


Rico dan Stella kemudian berpamitan dengan Nyonya Jennie hendak kembali ke negara asalnya. Dia juga tidak mau merepotkan Nyonya Jennie.


"Rico, apa kamu tega meninggalkan Mamah kamu seorang diri?" tanya Nyonya Jennie meneteskan air mata.


Rico membalikkan badannya lalu memeluk Mamahnya, sebenarnya Rico tidak tega, tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan William begitu saja.


"Mah, ayo kita pulang! percuma di sini harta Mamah banyak tetapi kesepian," kata Rico.


"Segera menikah kalau kamu ingin membuat Mamah bahagia," kata Nyonya Jennie.


Nyonya Jennie mencium Angelica lebih dulu, seperti seorang nenek yang hendak di tinggal pergi cucunya.


"Entah kapan kita akan bertemu, sayang. Jaga diri baik-baik, ingat oma di sini," kata Nyonya Jennie memeluk Angelica.


Stella menjadi tidak tega melihat Nyonya Jennie, walaupun baru bertemu Stella yakin kalau Nyonya Jennie orang yang baik.


"Rico, sepertinya aku tidak jadi pergi," kata Stella.


"Tidak Stella! kita harus segera pergi," ucap Rico seraya menggandeng tangan Stella.


Nyonya Jennie sudah menyiapkan jet pribadi untuk mengantarkan mereka pulang. Rumah yang mereka tempat i ternyata berada di tengah hutan. Itu sebabnya mereka menutup mata Stella, saat datang ke sini.


**


William kembali ke ruangannya setelah selesai meeting, dia mencari Helena yang tidak ada di ruangannya.

__ADS_1


"Kiana, mana Helen? apa dia sudah pulang?" tanya William dengan panik. William tidak mau di anggap tidak bertanggung jawab oleh Papah Helena.


"Tadi dia pergi, coba saja telepon dulu," jawab Kiana tanpa menoleh ke arah William.


"Merepotkan saja!" gerutu William seraya mengambil ponselnya dari dalam saku.


"Dari dulu juga merepotkan! kenapa kamu masih menikahinya," sahut Kiana.


William kemudian menelpon Helena, ia di minta menyusul Helena tetapi William menolak dengan alasan masih banyak pekerjaan.


Kiana dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, dia hendak pergi mencari wanita yang di bawa Rico. Selama ini yang dia tau Rico tidak pernah mempunyai teman wanita.


Saat ini Kiana sudah berada di jalan dekat rumah Stella, ia mengamati sepanjang jalan di mana Rico membawa wanita.


"CCTV itu bisa menjadi bukti," ucapnya kemudian mencari tau pengelola jalan setempat.


Setelah menemukan Kiana melihat CCTV itu, ternyata masih ada rekaman dari beberapa hari yang lalu.


"Stella! anak itu pasti anak William..." ucapnya lirih.


Kiana berinisiatif untuk memberitahukan semua pada Karin, tetapi ia mengurungkan niatnya.


"Terimakasih, Pak! saya pergi dulu," kata Kiana kemudian pulang.


Di dalam mobil Kiana masih bertanya-tanya apa yang baru saja dia lihat, wanita yang membawa pergi anak Stella dan Rico membawa Stella.


William kalau mengetahui hal ini pasti akan marah besar dengan Rico, Kiana sendiri juga berfikir kalau Rico ternyata menyembunyikan Stella.


Kiana berencana akan menanyakan pada Rico agar lebih jelas, dia tidak mau menduga-duga.


Suara klakson mobil yang dibelakang mobil Kiana mengagetkannya, sehingga membuat Kiana tersadar dari lamunannya.


"Nona, minggir kalau berhenti!" teriak seorang pengguna jalan lain.


"Dasar bawel!" teriak Kiana.


Kiana mendatangi Karin, dia mengatakan kalau tidak menemukan apa-apa soal Rico.


"Tante, siapa Nyonya Jennie yang sebenarnya? kenapa Kiana taunya dia seorang pengusaha terkenal," ucap Kiana.

__ADS_1


"Aku tidak berhak menjelaskan, besok kamu akan tau dia siapa," kata Karin sembari menatap Kiana.


Karin dulu bersahabat dengan Jennie, bahkan mereka sering di kira orang kembar. Mereka berdua memiliki paras yang sama-sama cantik. Bahkan mereka juga pernah memiliki kekasih yang sama, dan akhirnya orang itu tidak mendapatkan keduanya.


__ADS_2