SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 35


__ADS_3

Pagi ini Stella sudah berada di pinggir jalan, tempat bertemunya dengan Kakek itu. Kakek itu tak kunjung datang padahal Stella sudah menunggu dari tiga puluh menit yang lalu.


Tak lama kemudian Kakek turun dari mobil mewahnya, ia menuju ke tempat di mana Stella berada.


"Nak, kenapa melamun?" tanya Kakek itu.


"Tidak, Kek. Ayo Stella bantu Kakek menyebrang!" ajak Stella.


Setelah sampai di sebrang jalan, Kakek itu memberi upah pada Stella.


"Kek, ini terlalu banyak," ucap Stella.


"Jangan menolak rezeki, Nak. Anggap saja itu sebagai tanda terimakasih Kakek," ujar Kakek.


"Tapi, Kek," ucap Stella.


"Uang seratus ribu tiada artinya di banding dengan ketulusan mu," kata Kakek. Apa rencana kamu hari ini?" Lanjutnya.


"Stella akan mencari pekerjaan lagi, Kek," ucap Stella sembari tersenyum.


"Jangan lupa besok pagi datang ke sini lagi!" kata Kakek.


Stella kemudian mencari pekerjaan di sebuah toko, tetapi ditolak karena Stella sedang hamil. Stella tidak menyerah begitu saja, ia masih melanjutkan mencari pekerjaan.


Rasa lelah, lapar dan capek yang didapatkan Stella hari ini, langkahnya terasa berat saat berjalan menuju ke rumah kontrakan.


***

__ADS_1


"Stella, sedang apa kamu?" tanya William sembari memandang foto Stella di layar ponselnya.


"William, maafkan Mamah yang sudah memaksa kamu menyetujui permintaan terakhir Ayah mu," ucap Karin seraya menepuk pundak William.


"Mamah tidak bersalah, William yang salah," kata William.


Karin kemudian mengajak William untuk makan, karena dari pagi William hanya mengurung diri. Di meja makan sudah ada Kiana dan Rico yang menunggu.


"Tuan, ini makanan kesukaan mu," ucap Mbok Yem sembari memberikan semangkok sup buntut.


"Makasih, Mbok," ucap William.


Kiana mengambilkan sepiring nasi untuk William, dia sangat prihatin dengan keadaan William. Walaupun kadang sangat menyebalkan dan membuat emosi.


"Rico, bagaimana perkembangan pencarian Stella?" tanya William.


"Kita do'akan saja, semoga Stella dan bayi yang dikandungnya baik-baik saja," sahut Kiana.


"Tuan, besok ada meeting di luar kota. Tuan sendiri yang harus menghadiri," kata Rico.


William kemudian meminta Rico untuk menyiapkan semua, karena besok pagi mereka harus segera berangkat.


"Kiana, apa yang harus Tante lakukan?" tanya Karin.


"Tante, tidak perlu khawatir William akan baik-baik saja tanpa Stella. Nyatanya dia tega menyuruh Stella mengugurkan kandungnya," ucap Kiana.


"Tante juga merasa bersalah, harusnya waktu itu kita tahan Stella agar tidak pergi," kata Karin.

__ADS_1


Keesokan harinya Helena datang ke rumah Karin untuk mencari William, tetapi hanya bertemu dengan Wilda.


"Kak, apa William ada di rumah?" tanya Helena.


"Tidak ada! William sudah beberapa hari tidak pulang," jawab Wilda.


"Kenapa William sekarang berubah, Kak? bahkan datang ke rumah harus di minta," ucap Helena.


"Helena, aku heran sama kamu! dari dulu kamu juga tau kalau William tidak suka sama kamu, kenapa kamu terus memaksa?" tanya Wilda.


"Namanya juga cinta, Kak," jawab Helena.


"Lepaskan dia, dari pada kamu menderita," kata Wilda memberi nasehat pada Helena.


"Helena akan selalu bahagia, harusnya William bersyukur aku menyukainya," kata Helena.


"Terserah kamu! kalau menurutku mending kamu lupakan William," kata Wilda tetapi selalu di kekang oleh Helena.


Helena tidak menghiraukan apa kata Wilda, dia teguh dengan pendiriannya.


"Dasar gadis bodoh!" kata Wilda setelah Helena pergi dari rumahnya.


***


Pagi ini Stella sudah menunggu Kakek lagi, tiba-tiba ada orang yang menghampirinya. Orang itu memberitahukan kalau Kakek tidak ke kantor, karena ada keperluan keluarga. Kakek tetap memberikan uang untuk Stella, ia akan mengembalikan uang itu pada Kakek esok hari saat bertemu lagi.


Stella lalu mencari pekerjaan lagi, saat berjalan tiba-tiba perutnya terasa sakit. Stella menghentikan jalan kakinya, ia duduk di pinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2