
William saat ini tengah berada di kota, dimana Stella berada. Saat melintasi jalan William seperti melihat sosok Stella, yang sedang duduk di tepi jalan.
"Stella...
"Tuan, Nona Stella tidak ada disini," kata Rico.
"Berhenti!" teriak William.
Rico memberhentikan kendaraannya di tepi jalan, beruntung jalanan saat ini tidak terlalu padat.
William lalu berlari menuju tempat di mana ia melihat wanita yang dia kira Stella, tetapi wanita itu sudah tidak ada di tempat. Rico mengejar William sampai di tempat itu, dia takut terjadi apa-apa dengan Tuanya.
"Tuan, ayo kembali ke mobil!" ajak Rico.
"Stella tadi ada di tempat ini, kemana dia!" ucap William.
"Mungkin semua itu halusinasi, Tuan," ucap Rico.
"Aku tidak gila, Rico! aku sadar dengan apa yang aku lihat!" bentak William.
Mereka lalu melanjutkan perjalanannya menuju lokasi meeting, yang tidak jauh dari tempat itu.
***
__ADS_1
Rayhan saat ini hendak berangkat bekerja lagi, saat di jalan ia melihat Stella duduk di tepi jalan sambil memegang perutnya. Ia lalu berhenti dan bertanya dengan Stella.
"Stella, apa yang terjadi dengan mu?" tanya Rayhan.
"Perutku sakit, Rayhan," ucap Stella.
Rayhan akhirnya mengantarkan Stella ke rumah kontrakannya, ia kagum dengan Stella yang sangat mandiri.
"Lebih baik kamu tinggal ikut aku saja," kata Rayhan.
"Aku tidak mau merepotkan kamu lagi, Rayhan," tolak Stella.
"Stella, saat ini yang harus kamu pikirkan adalah bayi kamu. Aku ikhlas bantu kamu," ucap Rayhan.
Stella tidak mau merepotkan Rayhan lagi, ia takut kejadian di kampung itu terulang. Hal yang sangat memalukan, Stella juga merasa kasihan dengan Rayhan.
"Stella, kamu jangan keras kepala," kata Rayhan.
"Aku tidak bisa, Rayhan," kata Stella.
Usaha Rayhan tidak membuahkan hasil, niat baiknya di tolak oleh Stella. Kemudian dia berpamitan untuk berkerja, Rayhan berjanji akan menengok Stella jika ada waktu.
Rayhan kepikiran dengan Stella, perutnya yang semakin membesar dan tidak ada lagi saudara. Stella hidup sebatang kara.
__ADS_1
"Dasar biadap! laki-laki yang mencampakkan kamu, Stella," ucap Rayhan dalam hati.
"Rayhan, kamu tidak perlu menghawatirkan aku," ucap Stella.
"Jaga dirimu baik-baik!" kata Rayhan. Rayhan pun pergi, dia juga harus segera berkerja lagi.
***
"Rico, selesai meeting antar aku ke tempat tadi! aku yakin itu Stella," ucap William.
"Tuan, mungkin anda salah lihat," kata Rico.
"Aku yakin itu Stella, Rico!" ucap William lagi.
Rico tidak berani lagi membantah perintah William, karena akan marah ketika tidak di turuti.
Selesai meeting Rico mengantarkan William di tempat tadi, ia menunggu Stella sampai larut malam. William sampai menyuruh Rico untuk mencari penginapan di daerah itu.
William juga berencana untuk mencari Stella sampai ketemu. Tetapi tidak akan mudah, karena Stella tidak akan mau bertemu dengan William.
Rico sangat peduli dengan keadaan William, walaupun sering di bentak. Dia selalu berusaha menuruti apa perintah William.
"Rico, apa penginapan kita sudah siap?" tanya William.
__ADS_1
"Sudah Tuan, mari kita ke sana! Tuan harus istirahat," ucap Rico.
Setelah sampai di penginapan William tidur dengan lelap, karena kecapean. Rico juga ikut mengistirahatkan badannya yang terasa remuk. Hari ini sangat melelahkan buat mereka berdua, karena perjalanan jauh.