SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 34


__ADS_3

Stella pagi ini sangat bersemangat untuk melamar pekerjaan, di tempat kerja wanita yang dia temui di halte kemarin.


Stella bingung karena tidak mempunyai baju untuk kerja. Tidak banyak pakaian yang di bawa Stella, karena memang tidak ada. Jadi dia menggunakan pakaian seadanya saat berkerja, Stella bercermin seraya mengelus perutnya yang mulai membesar.


Buat Stella semua tidak masalah, yang terpenting buat dia saat ini adalah mendapatkan pekerjaan. Stella lalu bergegas meninggalkan rumah kontrakannya, menuju ke alamat kantor yang di beri oleh wanita kemarin.


Saat berada di jalan, ada seorang Kakek meminta tolong pada Stella.


"Nak, tolong Kakek!" ucap Kakek itu.


Stella menghentikan langkahnya, lalu mendekati Kakek itu. "Ada yang bisa Stella bantu, Kek?" tanyanya.


"Bantu Kakek menyebrang jalan," ucap Kakek.


Memang saat ini jalanan sedang padat, banyak kendaraan berlalu lalang melintasi jalan. Kakek itu hendak pergi ke sebuah kantor yang ada di sebrang jalan.


"Bagaimana ini, kalau aku bantu Kakek pasti terlambat ke perusahaan itu," ucap Stella dalam hati.


Sempat ada keraguan dalam hati Stella untuk menolong Kakek itu, Stella akhirnya menggandeng tangan Kakek itu lalu membantunya menyebrangi jalan.


"Ayo Kek! pelan-pelan, ya," ucap Stella.


Kakek itu tersenyum, melihat Stella dengan tulus mau membantunya. Akhirnya mereka sampai juga di sebrang jalan, Stella lalu melanjutkan jalanya.


"Nak, terimakasih. Kakek tidak bisa memberimu apa-apa," ucap Kakek.


"Stella senang bisa membantu, Kakek," ucapnya.


Perjalanan Stella masih lumayan jauh, dia berjalan dengan penuh semangat. Sampai di perusahaan itu Stella sudah telat.


"Permisi, apa bisa bertemu dengan Ibu Dian?" tanya Stella dengan lembut.


"Apa anda, Nona Stella?" tanya seorang satpam.


"Iya, saya Stella," jawabnya.


"Bu Dian tadi berpesan kalau Nona datang tidak terlambat boleh masuk dan lagsung kerja, tetapi Nona datang terlambat," jelas satpam.


"Tolong beri saya kesempatan, Pak,"ucap Stella dengan wajah melasnya.


"Tidak bisa, Nona! Di sini yang diutamakan adalah kedisiplinan," jelas satpam itu. Apalagi Nona sedang hamil apa bisa kerja, paling hanya merepotka," Lanjutnya.


Dengan wajah kecewa Stella pergi meninggalkan kantor itu, seandainya dia tadi tidak menolong Kakek lebih dulu mungkin tidak akan terlambat.


Stella pulang dengan langkah gontai, semangatnya hilang seketika. Harapannya semua telah hilang, tetapi saat melihat perutnya yang mulai membesar dia kembali bersemangat.

__ADS_1


Stella duduk sambil menangis di tepi jalan, Kakek yang dia tolong tadi mendatanginya.


"Nak, menangislah jika membuat kamu tenang," ucap Kakek sembari memberikan tisu pada Stella.


"Kakek..." ucapnya lirih seraya menerima tisu itu.


Stella mulai menghapus air matanya, dengan tisu yang di beri oleh Kakek.


"Ceritakan apa masalah kamu!" kata Kakek.


"Apa Stella begitu hina, Kek? tidak ada yang mau menerima Stella kerja, dengan alasan kehamilan Stella," ucap Stella.


"Mungkin mereka kasihan dengan kamu, Nak. Apa suami kamu tidak berkerja? sampai kamu harus mencari pekerjaan," kata Kakek.


"Stella tidak punya suami, tetapi Ayah dari bayi yang Stella kandung orang kaya. Dia tidak menginginkan anak ini," kata Stella.


Kakek menepuk pundak Stella, dia merasa iba dengan apa yang di alami oleh Stella.


"Kakek ada kerjaan buat kamu," ucap Kakek.


"Kerja apa, Kek? di mana? Stella mau demi anak yang Stella kandung," kata Stella.


"Di sini, mau tidak?" tanya Kakek.


"Maksudnya?" Stella mengernyitkan dahinya, ia tak paham dengan maksud Kakek itu.


"Pulanglah! istirahat jangan terlalu capek, kasihan bayi yang kamu kandung," kata Kakek.


Stella menuruti perkataan Kakek itu, dia pulang dan beristirahat.


***


"William, sebenarnya kamu tinggal di mana? kenapa tidak ada di rumah setiap aku ke rumah kamu?" tanya Helena yang tiba-tiba datang ke kantor William.


"Bukan urusan kamu, Helen! tolong jangan membicarakan hal pribadi di kantor," kata William.


"Kamu selalu membuatku kesal," ucap Helena.


"Rico, antar Helena pulang!" kata William tidak suka dengan keberadaan Helena.


"Apa? kita sudah mau menikah tapi, masih saja dingin sikap kamu, William," ujar Helena.


"Ayo saya antar pulang, Nona!" ajak Rico.


"Tidak perlu!" ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang kerja William.

__ADS_1


Begitu sikap William pada Helena tidak ada manisnya, herannya Helena masih saja mengejar. Helena pulang lalu mengadu pada Papahnya, agar menegur William.


"Tuan, jaga sikap anda pada Nona Helena," ujar Rico.


"Aku tidak perduli! biar dia mundur dengan perjodohan ini," kata William.


"Terlambat!" sahut Kiana yang baru saja datang hendak memberikan berkas pada William.


"Nona, jangan menambah masalah lagi," kata Rico.


"Stella tidak ada aku jadi repot sendiri! harus meeting kesana kemari," ucap Kiana.


"Keluar kalian!" ucap William mengusir Kiana dan Rico.


William melamun teringat wajah cantik Stella, yang setiap hari mengisi kekosongan hatinya. Rasa penyesalan kini kian mendalam, di tambah masalah Papah Helena yang selalu mendesaknya untuk segera menikah.


Untuk menghilangkan stres karena memikirkan Stella William jalan-jalan ke sebuah mall sambil mengecek usaha temannya, dia di temani oleh Rico.


Di dalam mall bukanya hilang stres tetapi malah semakin ingat dengan Stella, William melihat wanita yang mirip dengan Stella.


"Stella," panggil William dengan lembut seraya menyentuh bahu orang itu.


"Anda siapa? saya bukan Stella," kata orang tadi.


"Tuan William sudah gila ternyata, aku harus mencari psikolog," ucap Rico dalam hati.


"Maaf Nona, Tuan saya mungkin teringat dengan seseorang yang mirip dengan Nona," terang Rico.


"Ayo kita pulang!" ajak William.


William mengajak Rico pulang karena pikirannya sudah sangat kacau, dia tidak ingin terlihat bodoh di depan orang.


"Tuan, apa perlu kita cari psikolog?" tanya Rico.


"Apa kamu bilang? aku tidak gila, Rico!" bentak William.


"Aku tau Tuan pasti sangat menyesal bukan? karena telah mencampakkan Nona Stella. Apalagi kesalahan terbesar Tuan, akan menggugurkan darah daging Tuan sendiri," ujar Rico.


"Diam!" bentak William.


Rico hanya menggelengkan kepalanya saja, dia semakin heran dengan William. Mugkin sudah karma atas apa yang telah diperbuat.


Mbok Yem juga merasa kasihan dengan William, yang nampak tidak punya semangat. Dia berharap agar segera bisa menemukan Stella.


Hanya Stella yang bisa membuat William hampir gila, karena tidak bisa melupakannya. Jika William menikah dengan Helena nanti, pasti Helena yang akan menyesal.

__ADS_1


Mbok Yem juga sudah menasehati William agar jujur soal masalah Stella, apapun itu resikonya. Sebelum semua terlambat, William juga akan tenang jika Helena mundur. Entah apa yang akan terjadi nanti, jika William mengatakan semua ketika mereka sudah menikah.


__ADS_2