SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 46


__ADS_3

Hari pertama kerja Stella.


"Apa aku tidak salah lihat," ucap Stella dengan pelan seraya mengusap-usap kedua matanya dengan kedua tangannya.


Stella saat ini di suruh untuk mengantarkan berkas ke ruang meeting oleh pemilik perusahaan itu, dan dia melihat Martin sedang berada di dalam ruang meeting. Dia hendak mengurungkan langkahnya, tetapi orang yang berada di ruang meeting sudah melihat ke arahnya. Terpaksa Stella masuk dan memberikan berkas itu, lalu ia keluar dengan buru-buru.


Martin yang berada di ruang itu meminta izin untuk ke toilet, ia mengejar Stella.


"Berhenti, Stella!" teriak Martin dengan lantang sehingga menjadikan mereka pusat perhatian orang yang ada di situ.


"Ada yang bisa Stella bantu, Tuan?" tanya Stella dengan lembut, ia berlagak seperti orang yang belum pernah ketemu sebelumnya.


"Ayo ikut aku! kamu sudah membuat ku tidak bisa tidur," ucap Martin.


"Tuan, ayo kembali ke ruang meeting! sekarang giliran perusahaan kita harus presentasi," kata asisten Martin.


"Kamu urus saja! aku sudah menemukan wanita yang hampir membuat ku gila," kata Martin seraya menarik tangan Stella.

__ADS_1


"Lepas, Tuan! saya harus berkerja!" bentak Stella.


"Benar apa kata Nona itu, Tuan. Kita bisa rugi besar kalau tidak ikut meeting," terang asistennya.


Martin akhirnya menuruti apa perkataan asistennya itu dan melepaskan Stella, lalu mereka berdua kembali ke ruang meeting. Stella berlari ke tempat meja kerjanya, beruntung atasannya tidak ada.


"Stella, kamu kenal dengan Tuan Martin? dia pemilik saham terbesar di perusahaan ini," kata Tania teman kerja Stella.


"Iya, aku mengenal laki-laki bejat itu," kata Stella.


"Maksudnya? dia baik banget, apalagi kalau melihat karyawannya berdandan pasti langsung di kasih tips," terang Tania.


Stella memberitahukan hal ini kepada Rico, dia takut Martin akan datang dan menggangunya lagi. Apalagi setelah mendengar Martin mempunyai saham terbesar di perusahaan ini.


Di tempat lain, Rico yang mendapat pesan dari Stella langsung menghubungi pemilik perusahaan.


Pulang dari kerja Stella langsung pulang ke rumah, saat akan turun dari angkot ia melihat William berada di depan rumahnya. Stella kemudian mengurungkan niatnya untuk turun dari angkot, saat ini dia bingung mau pergi kemana.

__ADS_1


"Nona, sebenarnya anda mau turun di mana?" tanya sopir angkot itu.


"Rumah saya sudah terlewat! turunkan saya di depan hotel itu, Pak!" kata Stella menunjukkan salah satu hotel.


Stella turun dari angkot itu, dia duduk di depan hotel. Dia bingung mau menginap atau pulang lagi, Stella takut William mengikutinya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Stella.


"Rayhan!" teriak Stella langsung memeluk Rayhan.


"Stella, apa yang terjadi? kenapa kamu duduk di tempat ini?" tanya Rayhan.


Stella kemudian menjelaskan pada Rayhan, apa saja yang dia alami seharian ini. Rayhan kaget mendengarkan cerita Stella.


"Stella, kamu seharusnya tidak perlu kabur dari laki-laki itu. Tunjukkan kalau kamu bisa membesarkan anaknya, buat dia menyesal," ucap Rayhan.


"Angelica masih terlalu kecil untuk aku tunjukkan ke William," kata Stella.

__ADS_1


Rayhan memberitahu Stella kalau Angelica saat ini semakin bertambah berat badannya, dia semakin gemuk dan lucu. Dia juga memperlihatkan foto Angelica, membuat Stella merindukan buah hatinya.


__ADS_2