
Papah Helena menyambut kedatangan putri kesayangannya dengan lembut, sudah beberapa hari Helena tidak datang ke rumahnya. Helena kalau datang ketika membutuhkan sesuatu, dia hanya mementingkan ambisinya sendiri.
"Helena, kamu datang juga," kata Papahnya yang bernama Lukman.
"Pah, Helena butuh bantuan," ucap Helena.
"Bantuan apa? kalau Papah bisa bantu kenapa tidak," ucapnya kemudian mendekati Helena.
"Helena mau lihat daftar perusahaan yang berkerja sama dengan, Papah," terang Helena mengutarakan maksud tujuannya.
"Itu saja?" tanyanya singkat. Kemudian menelpon asisten pribadinya untuk meminta data perusahaan yang di maksud oleh Helena.
Asisten pribadi Lukman datang membawa sebuah map yang berisi data perusahaan terbaru, yang berkerja sama dengannya.
Helena memulai membuka map itu, dia mencari nama perusahaan mana saja yang berkerjasama dengan perusahaan Papahnya. Ternyata perusahaan Martin tidak tercantum, Helena mempunyai ide buruk.
"Pah, kenapa perusahaan Martin tidak ada?" tanya Helena.
"Perusahaan itu di bawah naungan Jennie grup, susah untuk dikendalikan. Kalau mau kerja sama harus dengan Jennie grup terlebih dahulu," jelas Lukman.
"Bagaimana kalau Papah meminta kerjasama dengan mereka," ucap Helena.
"Jennie! wanita itu sudah menghancurkan impian Papah," ucapnya seraya mengepalkan tangan.
Helena meminta Lukman untuk bercerita tentang Jennie, tetapi Lukman tidak mau mengatakan. Helena terus mendesak dan mengatakan ingin membantu balas dendam.
"Ayo cerita, Pah! Helena ingin mendengar, apa yang telah diperbuat oleh pemilik perusahaan terbesar itu," kata Helena.
"Sekarang kamu pulang saja! jangan ikut campur urusan perusahaan," kata Lukman.
"Helena ingin menghancurkan perusahaan Martin, Pah! dia sudah membuat Helena malu," kata Helena.
Lukman menyetujui dan mendukung rencana Helena, dia akan menawarkan kerja sama dengan perusahaan Jennie lalu menghancurkan keduanya. Helena sudah mengatur strategi bagaimana masuk ke dalam perusahaan besar itu, dia juga akan turun tangan sendiri.
Lukman menyuruh orang untuk memata-matai kedua perusahaan itu, dia juga meminta orang untuk mengawasi Jennie secara pribadi.
"Jennie namamu tidak akan pernah aku lupakan! aku harus melenyapkan mu, agar tidak ada orang yang memilikimu selamanya," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Tak lama kemudian orang suruhan Lukman datang memberikan kabar, dia memberitahu kalau Jennie memiliki cucu. Lukman geram ternyata Jennie diam-diam sudah menikah dan memiliki seorang cucu. Dia bertanya-tanya siapa anaknya dan suaminya, lalu menyuruh orang untuk mencari tau.
*
*
*
Suster Lela membawa Angelica jalan-jalan di taman depan, karena sudah di perbolehkan oleh Stella. Rico dan Nyonya Jennie masih melarang siapapun membawa Angelica keluar rumah.
"Angel, nanti kalau sudah besar jangan lupa sama suster ya," ucap suster Lela mengajak bicara bayi yang belum bisa berbicara itu.
"Iya suster! Angelica pasti mengingat," sahut Stella yang baru saja datang lalu duduk di sebelah suster Lela.
"Nona Stella!" kaget suster Lela.
Stella lalu mengajak suster Lela masuk ke dalam rumah, karena sudah waktunya Rico pulang kerja. Dia tidak mau ribut dengan Rico karena sudah banyak berkorban untuknya, Stella tidak tau bagaimana dia akan membalas kebaikan Rico.
Malam hari saat semua sudah santai, Stella meminta izin pada Rico dan Nyonya Jennie untuk berkerja. Rico tidak memberi izin, karena keadaan masih tidak memungkinkan apalagi di tambah Martin yang selalu mencari Stella.
Nyonya Jennie yang bersedia membantu Stella dan mengizinkannya untuk berkerja, dia tau bagaimana perasaan Stella pasti tidak enak hidup numpang di tempat orang apalagi tidak punya penghasilan.
Stella menolak karena takut kalau merugikan Nyonya Jennie, dia juga tidak mau di beri secara gratis. Stella tidak mau menambah hutang pada Rico, sudah cukup banyak dia berhutang budi pada Rico.
"Kamu jangan salah paham! aku tidak akan memberikan secara gratis, kamu harus bisa mengembalikan modal yang telah saya keluarkan," Jelas Nyonya Jennie.
"Terima saja, Stella! kinerja kamu sangat bagus, aku yakin kamu bisa menjalankan perusahaan sendiri," sahut Rico.
Stella menanyakan modal yang dikeluarkan oleh Nyonya Jennie, ia kaget saat tau jumlahnya. Rico memberikan semangat untuk Stella, agar dia mau menerima tawaran Mamahnya. Tetapi Stella takut tidak bisa mengembalikan, karena jumlah modal yang sangat fantastik.
"Baik, Nyonya saya menerima," ucap Stella dengan penuh percaya diri.
Letak kantor perusahaan itu ada di sebuah gedung tertinggi di kota ini, berada di lantai lima puluh. Besok mereka berencana menunjukkan pada Stella, kantor itu sebenarnya sudah berdiri sejak lama.
"Kamu harus membayar setiap bulan, tidak boleh terlambat dan harus disiplin," kata Nyonya Jennie.
Stella menyanggupi semua perkataan Nyonya Jennie, karena dia juga harus bangkit dari keterpurukan yang selama ini dia rasakan. Sangat beruntung sekali Stella bisa bertemu dengan Rico dan Nyonya Jennie.
__ADS_1
"Aku harus bisa memulai hidup dengan hal yang baru! William aku harus berterimakasih padamu, karena sudah memperkenalkan aku dengan orang yang baik," ucap Stella dalam hati.
*
Pagi ini dengan semangat baru Stella berdandan dengan cantik, dia akan menjadi seorang pemimpin perusahaan.
"Cantik sekali Stella," ucap Nyonya Jennie yang sedang duduk bersama Rico menikmati secangkir teh.
Stella sedang berpamitan pada Angelica yang di gendong oleh suster Lela, lalu ia mengajak Rico dan Nyonya Jennie berangkat ke kantor.
Rico tersenyum ke arah Stella, kebetulan dia satu mobil dengan Stella. Nyonya Jennie di antar oleh para pengawal dan sopir pribadinya.
"Rico, kenapa tersenyum? apa ada yang aneh dengan ku," ucap Stella seraya melihat ke arah bajunya.
"Kamu cantik sekali, Stella," kata Rico.
"Baru sadar kalau aku cantik? kemana saja kemarin," kata Stella menatap Rico dengan kesal.
"Pantas saja William tergila-gila dengan mu," kata Rico.
"Rico!" teriak Stella.
Rico kembali fokus dengan mobilnya, dia menjalankan dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di gedung tinggi itu, mereka turun dari mobil.
"Rico, serius kita ke lantai lima puluh," kata Stella.
"Kalau kamu mau belanja di sebrang sana," kata Rico.
"Rico! aku bertanya bukan bercanda," kata Stella.
Rico kemudian menunjukkan berbagai ruangan kantor itu, ternyata sangat luas walaupun berada di lantai lima puluh.
"Ini ruang kerja kamu! bagaimana kamu suka tidak?" tanya Rico.
"Sepertinya nyaman sekali, ruangan ini juga luas," ucap Stella berjalan menuju ke arah jendela yang menampakkan pemandangan kota itu dari atas gedung.
"Kalau kamu kerja malam, kamu bisa menikmati keindahan kota ini dari atas gedung. Kamu suka?" tanya Rico.
__ADS_1
"Rico, aku tidak tau bagaimana caranya berterimakasih! kamu sudah banyak membantuku," ucap Stella.
Rico tidak mau membahas masalah itu lagi, dia hanya berniat membantu tidak meminta imbalan sedikit pun.Ia membantu Stella dengan ikhlas, dengan caranya sendiri.