
William kali ini kembali menanyakan soal Stella lagi, membuat Rico sedikit gugup saat menjawabnya. Hampir setiap hari William datang ke rumah Stella, tetapi tetap saja tidak melihat apalagi bertemu Stella.
"Rico, hentikan pencarian Stella!" kata William sembari menyangga kepalanya dengan tangan.
"Baik, Tuan," jawab Rico singkat.
"Aku sudah menyerah untuk mencari Stella, sudah sekian lama menunggu di depan rumahnya tetapi Stella tidak pulang," ucap William merasa putus asa.
"Bagaimana dengan anak yang di kandung Nona Stella?" tanya Rico. Kemungkinan sudah lahir," Lanjutnya.
"Kenapa aku bodoh! sampai lupa dengan anakku sendiri. Suatu saat kalau bertemu aku akan meminta anak itu," ucap William.
Rico yakin kalau Stella tidak akan pernah memberikan anak itu, apalagi dia membesarkan anaknya seorang diri tanpa bantuan dari ayah kandung anak itu.
***
Martin datang lagi ke tempat kerja Stella, dia sudah meminta izin pemilik perusahaan agar bisa bertemu dengan Stella.
"Stella, hari ini kamu bantu Tuan Martin di ruang kerja sebelah ya," ucap seorang atasannya.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain, Stella terpaksa mengikuti perintah atasanya itu. "Baik, Bu," ucap Stella dengan terpaksa.
Atasan itu mengantar Stella masuk ke dalam ruangan, Martin sudah berada di dalam ia sibuk dengan berkas dan laptopnya.
"Tuan, Nona Stella sudah datang," kata atasannya itu memberitahu Martin.
Martin lalu menyuruh atasannya Stella keluar dari ruangan itu dan menyuruh Stella untuk duduk di depan meja kerjanya.
"Silahkan duduk, Stella!" kata Martin dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.
Stella duduk dengan wajah tegangnya, ia merasa tidak nyaman dengan Martin. Apalagi melihatnya tersenyum, sangat mengerikan bagi Stella. Ibarat dia seakan di mangsa.
"Tidak usah tegang! aku hanya ingin menyuruhmu menyelesaikan berkas ini," kata Martin memberikan setumpuk berkas pada Stella.
Stella kemudian mulai mengerjakannya, sesekali ia melirik ke arah Martin yang dari tadi menatapnya.
"Tuan, tolong jangan melihatku seperti itu! atau aku keluar dari ruangan ini sekarang juga," ucap Stella dengan tegas.
"Berani kamu mengancam ku!" bentak Martin kemudian berjalan untuk mengunci pintu.
__ADS_1
Stella menghentikan pekerjaannya, dia kemudian berdiri dari duduknya hendak keluar tetapi dengan cepat Martin memegang tangan Stella.
"Ruangan ini kedap suara, jadi percuma kamu teriak!" ucap Martin mendorong tubuh Stella sampai terjatuh di lantai.
Stella mencoba berdiri dengan sekuat tenaga, tetapi Martin menahannya dengan tangan.
"Tuan, apa yang akan anda lakukan? tolong jangan sakiti aku, niat saya di tempat ini berkerja untuk membesarkan anak saya," kata Stella.
Martin teringat dengan ibunya, yang dulu membesarkannya seorang diri karena di tinggal oleh ayahnya. Kemudian ia membantu Stella untuk berdiri dan menyuruhnya melanjutkan pekerjaannya, sedangkan dia kembali fokus dengan laptopnya.
"Kemana suami kamu?" tanya Martin tanpa melihat Stella.
"Saya belum menikah, Tuan," jawab Stella.
"Apa? bagaimana bisa kamu hamil sedangkan menikah saja belum! cih... munafik juga kamu," kata Martin.
Stella kemudian menceritakan semua yang dia alami pada Martin, ia tidak mengetahui kalau Martin mengenal William karena pernah berkerja sama.
"Ayo kita ke sana! aku ingin membuat laki-laki itu bertanggung jawab," ajak Martin hendak mengajak Stella untuk pergi ke kantor William.
__ADS_1
Stella menolak ajakan Martin dan mengatakan apa alasannya. Martin tetap memaksa Stella, karena tidak suka dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab.