
Lima bulan sudah berlalu Stella juga belum di temukan oleh William, hidup William juga tidak bersemangat seperti biasanya. Perubahan sikap William sangat mencolok, dia hanya mau berbicara panjang lebar jika ada keperluan saja.
Hidup William seakan hancur, penyesalan demi penyesalan telah menyelimuti dirinya. Helena juga terus memaksa untuk bertunangan saat ini, rencana nanti malam mereka akan mengadakan pesta.
"Tuan, persiapan untuk nanti sudah beres semua," ucap Rico.
"Terserah kamu saja, Rico! Stella di mana dia," kata William selalu mengingat Stella.
"Aku yakin Nona Stella dalam keadaan baik-baik saja, jangan terlalu khawatir, Tuan," ucap Rico.
William lalu masuk ke dalam kamarnya, kebiasaan barunya saat ini adalah mengurung diri.
Acara pertunangan William dan Helena malam ini berjalan dengan lancar, walaupun muka William tampak murung. Tetapi tidak mengurangi ketampanan seorang William.
Helena sangat bahagia, dia juga meminta agar pernikahan mereka di percepat. William meminta waktu tiga bulan lagi, dia masih berharap menemukan Stella.
"William, kenapa kamu selalu mengundur hari bahagia kita? aku sudah tidak sabar memiliki mu," ucap Helena yang selalu mendesak William, padahal William tidak terlalu respect dengannya.
"Aku butuh waktu! lebih baik temui teman-teman kamu," kata William.
"Oke! aku ke depan dulu!" ucap Helena lalu melangkahkan kaki untuk menemui temannya yang datang.
Karin dan Kiana turut hadir ke pesta pertunangan William dan Helena, mereka nampak tidak bahagia dengan acara ini. Terutama Karin dia sangat menyayangkan putra kesayangannya menikah karena keterpaksaan.
"Kiana, mungkin perut Stella saat ini sudah mulai membesar. Di mana gadis itu berada?" kata Karin.
"Tante, nanti ada yang dengar. Stella semoga baik-baik saja," ucap Kiana.
"Biar saja ada yang dengar! seandainya dulu Stella mau mengikuti saran kita, pasti aku bisa bertemu cucuku," sesal Karin. Dia lebih bisa menerima Stella ketimbang Helena, karena Karin pernah menjadi orang yang tidak mempunyai apa-apa seperti Stella.
Di sebuah desa Stella tinggal bersama Rayhan, Stella menempati rumah Rayhan karena rumah itu kosong. Rayhan seminggu sekali pulang ke rumah, sisanya dia gunakan untuk berkerja di kota sebagai tukang ojek online.
Hari ini hari sial buat Stella, karena warga setempat menuduh Stella dan Rayhan tinggal bersama dan berbuat tidak semestinya.
"Keluar kalian!" teriak seorang warga.
"Ada apa, Pak?" tanya Rayhan dengan sopan.
"Perbuatan kamu tidak bisa dibiarkan! bisa mencoreng nama baik desa ini!" ucap salah satu warga lainnya.
Rayhan masih belum paham dengan maksud para warga, dia merasa tidak berbuat apa-apa. "Maksudnya apa?" ujarnya.
"Kalian semua tenang! biar saya yang menjelaskan pada, Nak Rayhan!" kata kepala desa dengan keras.
Rayhan dan kepala desa itu duduk bersama, lalu kepala desa mengutarakan maksud kedatangan warga.
"Nak, kamu membawa perempuan ke dalam rumah ini sampai hamil, lebih baik tinggalkan desa ini. Kami semua tidak bisa menerima warga yang berbuat tidak layak," kata Kepala Desa.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya hamil bukan karena Rayhan. Jadi tolong jangan usir kita," sahut Stella.
"Bohong!" teriak seorang Ibu yang tak lain tetangga Rayhan.
"Benar Pak, Stella datang ke sini karena butuh pertolongan dan sudah dalam keadaan hamil," jelas Rayhan.
"Kalian harus pergi!" teriak para warga. Mereka tidak percaya dengan penjelasan Rayhan dan Stella.
"Rayhan, biar aku saja yang pergi! terimakasih sudah menerima aku dan membantu ku," kata Stella.
"Stella, kamu sedang hamil! kasihan bayi yang ada dalam perut mu," ucap Rayhan.
"Tenang saja! Ayah anak ku orang kaya, kamu lupa itu?" kata Stella untuk melindungi Rayhan, sebenarnya dia bingung mau pergi ke mana.
Karena warga terus mendesaknya, Stella kemudian pergi meninggalkan rumah Rayhan. Dia pergi ke kota lain, kalau kembali ke rumahnya Stella takut William memaksa mengugurkan kandungannya lagi.
Stella berjalan kaki menyusuri jalan, dengan perut yang mulai membesar membuatnya mudah lelah. Keringat bercucuran membasahi wajah cantiknya, sesekali dia usap dengan punggung tangganya.
Hidup Stella benar-benar berat, sudah hamil di luar nikah masih saja ada orang yang tidak suka. Sebenarnya tetangga Rayhan yang menghasut warga, agar mengusir Stella.
Stella mencari kontrakan terlebih dahulu untuk beristirahat, beruntung dia sudah menemukan walaupun hanya ada satu ruangan. Lumayan untuk dia beristirahat, karena waktu juga sudah hampir petang tidak memungkinkan untuk mencari lagi.
Esok hari Stella mulai mencari pekerjaan, Stella melamar kerja di sebuah perusahaan.
"Nona, sedang hamil ya? maaf kita tidak bisa menerima," tolak perusahaan pertama yang dia tanya.
"Kalau aku tidak mendapatkan pekerjaan, bagaimana dengan nasib anak ku," ucapnya pelan sembari mengelus perutnya.
Hari ini Stella gagal mendapatkan pekerjaan, uang yang dia bawa hanya cukup untuk satu minggu itu pun juga pemberian dari Rayhan.
Sungguh malang nasib Stella, tetapi dia bukan orang yang mudah menyerah apapun pasti akan dilakukan demi janin yang ia kandung.
William hari ini tidak ke kantor, ia mengurung diri di dalam kamar yang dulu ditempati Stella. Dia sangat merindukan sosok Stella yang cantik dan baik, perasaan bersalahnya mulai timbul.
"Stella, apa kamu baik-baik saja? pasti perut mu sudah mulai membesar, aku merindukan mu Stella..." ucapnya lirih.
Baru kali ini seorang William meneteskan air matanya, untuk seorang perempuan. Dia menyesal telah meminta Stella untuk menggugurkan kandungnya, demi rasa takutnya pada Ayah Helena.
Sebenarnya perjanjian itu tidak sah, karena Ayah William juga di paksa dan di ancam. Bukan karena kemauannya sendiri, tetapi William sudah terlanjur berjanji akan menikah dengan Helena.
Karin khawatir dengan keadaan William akhir-akhir ini, sehingga membuatnya tinggal di rumah William untuk sementara waktu.
***
Stella masih berusaha mencari pekerjaan, hari ini ada seorang Ibu yang mau menerima Stella kerja di rumahnya. Pekerjaan itu untuk satu hari saja, Stella di minta untuk mengemas barang-barang yang tidak terpakai. Terpaksa Stella menerima pekerjaan itu, karena dia sangat membutuhkan.
"Nona, sedang hamil? bagaimana nanti bisa kerja, paling hanya bikin repot," kata Seorang karyawan kantor saat Stella mencari pekerjaan.
__ADS_1
"Saya bisa kerja dan janji tidak akan merepotkan. Tolong terima saya," ucap Stella dengan wajah melasnya.
"Pergi! jangan banyak bicara!" bentak karyawan lain.
Stella sangat sedih karena banyak orang menghinanya, tidak mudah baginya menjalani semua ini.
Langit mendung tidak mematahkan semangatnya, dia masih berusaha mencari lagi. Hujan turun memaksanya untuk berteduh di sebuah halte, hanya ada seorang wanita yang berada di halte.
"Nona, kenapa anda hujan-hujanan? kasihan anak yang ada di dalam perut," ucap Wanita yang kiranya seumuran dengan Stella.
"Saya butuh pekerjaan, Nona," jawab Stella dengan senyum.
"Anda sedang hamil, lebih baik biar suami yang berkerja," kata wanita itu.
"Suami... " ucapnya lirih. Membuat Stella teringat dengan William, laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
"Kenapa, Nona? ada apa dengan suami, Nona?" tanya Wanita itu.
"Saya belum menikah," jawab Stella dengan malu.
Stella menceritakan semua pada wanita itu, lalu wanita itu merasa kasihan dengan Stella. Dia memberikan Stella sebuah kartu nama dan menyuruh Stella untuk datang ke kantornya. Wanita itu akan memberikan pekerjaan untuk Stella, dengan pertimbangan pengalaman kerja Stella pernah menjadi sekertaris.
Wanita itu ternyata tau tentang perusahaan milik William, perusahaan besar yang sangat maju. Stella sangat berterima kasih kepada wanita itu, karena hujan sudah reda wanita tadi pergi dengan naik bus. Sedangkan Stella kembali ke kontrakan dengan berjalan kaki.
Hatinya sangat bahagia karena sudah mendapatkan pekerjaan, Stella sangat bersyukur dengan apa yang telah ia terima.
Sampai di kontrakan Stella sudah hampir malam, ia hanya berjalan kaki. Rasa lelah tidak dia rasakan, sudah terbayar lunas karena ada yang mau menerimanya kerja. Stella sudah tidak sabar untuk nmenanti hari esok, dia merasa sangat beruntung.
Perut yang mulai membesar bukan alasan untuk tidak berkerja, dia juga butuh makan dan biaya persalinannya nanti.
***
Mbok Yem mengetuk pintu kamar William, ia mengantarkan sarapan pagi untuk William. Tetapi William tak kunjung membukakan pintu.
"Tuan, makan dulu! kalau sakit nanti tidak bisa melihat anak, Tuan!" teriak Mbok Yem.
William menuruti perkataan Mbok Yem, ia membuka pintu dan menyuruh Mbok Yem masuk.
"Mbok, aku menyesal telah menyakiti Stella, membuat dia menderita," ucap William.
"Tuan, setiap orang pasti punya kesalahan. Tuan tidak perlu bersedih, kalau suatu saat nanti bertemu dengan Nona Stella tebus kesalahan, Tuan," ucap Mbok Yem.
"Apa dia mau memaafkan, Mbok?" tanya William.
"Nona Stella orang yang sangat lembut dan baik, pasti memaafkan, Tuan," kata Mbok Yem.
William merasa lega mendengar ucapan Mbok yem, walaupun belum tentu Stella mau memaafkannya.
__ADS_1