
Stella terpaksa kerja harus dengan membawa bayinya, saat ini dia masih kerja dengan Martin. Ia juga menyukai kinerja Stella yang cekatan dan pintar dalam menemukan ide, maka dari itu Martin membutuhkan Stella.
Pihak kantor belum mengetahui kinerja Stella, karena hanya di tempatkan di staf biasa sedang saat membantu Martin tugas yang diberikan sudah di luar kepala Stella.
"Pak, saya boleh membawa bayi saya?" tanya Stella pada atasan di kantornya.
"Kamu niat kerja tidak? baru beberapa hari kerja sudah bikin ulah!" kata atasan itu dengan keras.
"Tapi, saya terpaksa karena belum ada orang yang mau menjaga anak saya," kata Stella sembari menundukkan kepala.
"Nanti kamu hanya sibuk mengurus bayi mu yang rewel, gimana mau kerja?" kata atasan itu lagi. Lebih baik kamu keluar saya!" Lanjutnya.
Martin kebetulan baru datang dan melihat kejadian itu, membuat dia kesal lalu mengajak Stella masuk ke ruang kerjanya.
Stella sangat berterimakasih pada Martin, karena telah menyelamatkan dari atasannya tadi.
"Aku melakukan semua ini tidak gratis, Stella," ucap Martin sembari memainkan ponselnya.
"Saya tidak punya uang untuk menggantikannya, Tuan" kata Stella.
"Stella, kamu bodoh apa polos! tentu saja saya tidak menginginkan uang, tapi saya mau kamu kerja di kantor saya," kata Martin.
__ADS_1
"Tapi, Tuan! saya di sini masih terikat kontrak," tolak Stella.
Martin tidak perduli dengan semua, dia ingin menemui pemilik perusahaan ini.
"Tuan, juga harus meminta izin Rico," kata Stella lagi.
Martin tertawa mendengar ucapan Stella yang di suruh nya untuk meminta izin Rico, dia jadi menebak kalau Stella dan Rico ada sesuatu.
***
Kiana saat ini sedang berada di rumah William, karena William badannya tiba-tiba demam dan Rico membawanya pulang ke rumah.
"William, badan kamu panas sekali! aku panggil dokter dulu," ucap Kiana dengan panik.
"Sempat-sempatnya kamu bicara seperti itu, nyawa kamu lebih penting!" bentak Kiana.
Kiana mencoba menghubungi dokter keluarga William, tetapi dia tidak mau memeriksa William karena bayarnya pelit. Kiana mengancam dokter akan mencabut gelarnya kalau tidak segera datang, dokter itu ketakutan lalu pergi ke rumah William.
"Rico!" teriak William.
"Rico sudah dengar, jangan teriak seperti di hutan," kata Kiana.
__ADS_1
Rico akhirnya masuk ke dalam kamar William, tadinya dia berada di luar. "Ada apa, Tuan?" tanyanya.
William meminta agar Rico menemaninya saat dokter nanti memeriksanya, dia tidak mau berdebat dengan dokter.
Tak lama kemudian dokter itu datang, lalu memeriksa William yang terbaring lemah tetapi masih kuat untuk berteriak.
"Tuan, ternyata anda bisa sakit juga," ucap dokter mengejek William.
"Cepat periksa aku! jangan banyak bicara," ucap William.
"Sepertinya Tuan membutuhkan suntikan agar tidak lemas," terang dokter.
"Jangan coba-coba menyuntik ku, atau kamu akan tau akibatnya," kata William.
Dokter itu tersenyum miring, sembari memeriksa kondisi William. Ia juga meminta bantuan Rico untuk memegang William.
William teriak sagat kulitnya tersentuh jarum suntik, dia tidak bisa menahan rasa sakit. Dokter tertawa melihat ekspresi William yang takut dengan jarum.
"Tuan, jangan lupa obatnya di minum! saya harus segera pergi. ke rumah sakit," ucap dokter dengan sopan.
"Cepat pergilah! aku muak melihat muka mu," kata William.
__ADS_1
Walaupun William membentak nya, dokter tetap bekerja dengan profesional. Dia tidak memasukkan ucapan William ke dalam hati, karena hatinya sudah di isi dengan rasa kasih sayang.