
William terpana saat melihat wanita yang dia kenalnya memasuki ruang meeting, mata itu tertuju pada wanita yang duduk disebelahnya. Mulutnya membisu tidak berani menyapa, dia teringat perlakuannya pada wanita itu.
"Nona Stella, silahkan lakukan presentasi perusahaan anda," kata pemilik perusahaan itu.
"Terimakasih atas waktunya, Tuan," ucap Stella kemudian menuju ke depan lalu memulai presentasi.
Rico yang kebetulan datang untuk mewakili perusahaan Nyonya Jennie tersenyum, dan memberikan semangat dengan isyarat. Stella membalas senyuman Rico, membuat William geram melihat semuanya.
Martin orang yang pertama kali ingin berkerja sama dengan perusahaan milik Stella, dia ingin membantu Stella. William juga ikut berkerja sama dengan Stella, tiba-tiba rasa kagum muncul kembali. Rico menjadi khawatir dengan hal ini, lalu ia berencana untuk membicarakan dengan Stella.
"Stella...
"Aku bisa jaga diri," sahut Stella tersenyum ke arah Rico.
Rico percaya pada Stella walaupun ada rasa sedikit khawatir, karena Martin dan William sama-sama orang yang tega. Stella juga mempunyai tujuan tertentu, makanya dia mengajak William berkerjasama.
Meeting akhirnya selesai juga, Helena nampak kesal melihat William yang nampak berbicara dengan Stella. Kemudian Helena menuju di mana William berada, dia meminta William memperkenalkan dirinya pada semua rekan kerjanya.
William menuruti apa kemauan Helena, dia juga memperkenalkan pada Stella.
"Apa kabar, Helena?" tanya Martin sengaja bertanya pada Helena.
"Baik, Martin," jawab Helena singkat.
Sebenarnya Helena sangat kesal dengan Martin, karena sudah mengatakan kalau William tidak bertanggung jawab. Helena berusaha menahan rasa kesalnya, agar terlihat baik hubungannya dengan Martin.
"Stella, karena kita akan berbulan madu. Untuk masalah kerjasama bisa kita bicarakan minggu depan," kata William.
"Silahkan! kapan pun anda bisa silahkan hubungi saya, Tuan William," ucap Stella lalu berjalan meninggalkan William dan Helena. Tak sengaja bahu Stella menyentuh bahu Helena, membuat Helena kesal sedang Stella tersenyum seperti orang mengejek.
Rico kemudian mengantarkan Stella ke kantornya, dia tidak tega jika Stella harus kembali ke kantor sendiri. Apalagi Helena sudah mengetahui semua, dia takut sewaktu-waktu akan meledak.
*
*
Di kantor itu tinggal William, Helena dan Martin yang belum pergi. Martin masih menunggu seseorang, sedangkan William dan Helena baru saja akan pergi.
"Siapa nama wanita tadi?" tanya Martin pada William menanyakan Stella. Cantik sekali wanita itu," Lanjutnya.
"Itu tadi Stella namanya," jawab William.
"Martin, bukannya kamu sudah mengenal wanita tadi," sahut Helena.
__ADS_1
"Saya tau namanya Stella saja, dia mempunyai seorang bayi tapi sayang orang yang menghamili nya tidak mau bertanggung jawab," kata Martin menyindir William.
"Jangan berbelit, Martin! aku tau arah pembicaraan kamu kemana," sahut Helena.
Martin memang sengaja berbicara seperti itu agar William tersinggung, tetapi nyatanya dia tidak merasa sama sekali. Helena lebih peka, dia tau apa maksud dari ucapan Martin.
"Ayo kita pulang, Helen," ajak William.
"Tunggu! apa kalian tidak ingin menemaniku lebih dulu," kata Martin membuat Helena semakin geram.
William dan Helena tidak menghiraukan ucapan Martin, mereka berdua pergi lebih dulu sedangkan Martin masih berada di kantor itu.
"William, kamu dengar ucapan Martin tadi? Stella Ibu dari anak kamu," kata Helena saat mereka sedang berada di dalam mobil.
"Aku tidak menghamili siapapun! sudah jangan bahas soal itu lagi," kata William.
Helena pun terdiam, dia sudah tidak berani untuk bertanya lagi, karena percuma William tidak mau mengakui.
*
*
*
4 Tahun Kemudian.
"Daddy!" teriak Angelica saat melihat Rico baru pulang dari kerja.
"Sayang, kamu sudah mandi belum?" tanya Rico sembari menggendong Angelica.
"Sudah dong, Daddy," jawab gadis kecil itu sembari mencium pipi Rico.
Saat ini Stella sedang sibuk dengan pekerjaannya, hutang dengan Nyonya Jennie sudah lunas. Perusahaan yang dikelola oleh Stella kini sudah menjadi miliknya, Stella juga berencana untuk membeli rumah untuknya dan Angelica.
Rico membawa Angelica masuk ke dalam kamarnya, dia menyuruh Angelica untuk duduk. Gadis kecil yang bersamanya sangat nurut dan mau melakukan apa perintahnya.
Nyonya Jennie yang baru saja pulang dari kantor langsung mencari Angelica, dia semakin dekat juga dengan Angelica.
"Oma datang, Daddy! Angel sembunyi dulu," ucapnya kemudian masuk ke dalam almari baju milik Rico.
Angelica memanggil Rico dengan sebutan Daddy, karena Nyonya Jennie yang sudah mengajarinya. Rico hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu, dia kemudian menemui Nyonya Jennie dan mengatakan kalau Angelica bersembunyi.
"Kenapa kamu perbolehkan masuk almari, Rico! nanti kalau tidak bisa nafas bagaimana?" tanya Nyonya Jennie kemudian masuk ke dalam kamar Rico.
__ADS_1
Nyonya Jennie sudah beberapa kali memangil Angelica, tetapi anak itu tidak mau keluar dari persembunyiannya.
"Angelica, sayang! oma bawa es krim," kata Nyonya Jennie.
"Waow... pasti enak Oma," sahutnya dari dalam almari.
Nyonya Jennie berusaha keras membuat Angelica keluar dari persembunyiannya, setelah keluar gadis kecil itu menagih es krim.
"Oma, mana es krim Angelica?" tanya gadis kecil itu.
"Ada di bawah, sayang. Tunggu Oman mandi dulu, ya," kata Nyonya Jennie membawa keluar Angelica dari kamar Rico.
Setelah Stella datang mereka semua berkumpul di ruang makan, Angelica masih menagih es krim.
"Sayang, kita makan dulu," ucap Stella degan lembut sembari menatap Angelica.
Keluarga Rico tampak harmonis saat kehadiran Stella dan bertambahnya usia Angelica. Setelah dapat berbicara gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Oma, mana es krim Angel," ucap gadis kecil itu.
"Makan dulu, Angel," kata Rico.
"Gak mau, Daddy! Angel mau es krim," rengeknya lagi.
Nyonya Jennie lalu memanggil suster Lela, untuk mengambilkan es krim. Kalau sudah merengek pasti akan menangis, jika tidak di kasih.
"Yummy... enak sekali, Oma," ucapnya lalu mencium pipi Nyonya Jennie.
Semuanya tertawa melihat tingkah Angel yang mengemaskan, dia akan mencium orang yang memberikan sesuatu sebagai ucapan terimakasih tetapi tidak berlaku untuk orang asing.
Keesokan harinya Angelica tidak mau di tinggal kerja oleh Rico, dia ingin Rico berada di rumah. Bahkan saat Stella berpamitan hendak kerja Angelica sama sekali tidak menangis.
"Rico, kenapa aku diperbolehkan kerja sedangkan kamu tidak boleh! kamu racuni apa anakku," ucap Stella protes dengan Rico.
"Mana aku tau, Stella. dia lebih sayang sama aku sepertinya," Kata Rico membuat Stella kesal.
Mereka kemudian berangkat ke kantor bersama, Angelica ikut dengan Rico tanpa mengajak suster Lela.
"Daddy meeting dulu, sayang. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana," ucap Rico meninggalkan Angelica di dalam ruangannya.
Angelica pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, gadis kecil itu kemudian memegang benda yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah merasa bosan Angelica keluar dari ruangan itu, kebetulan sedang sepi karena karyawan di kantor sedang meeting.
__ADS_1
"Angelica," panggil seseorang dari kejauhan.
Karena yang memanggil orang tidak di kenal Angelica, diam di tempat. Orang itu melihat ke arah kanan-kiri, lalu mendekat ke arah Angelica.