SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 66


__ADS_3

Di sebuah restoran tepatnya Helena dan William saat ini sedang makan malam, kali ini Rico sudah tidak mengawal William lagi.


"Helen, cepat habiskan makanan kamu," ucap William yang sudah selesai makan.


"Kamu bisa tidak romantis sedikit saja, ini juga baru di makan," kata Helena sembari bermain ponsel.


"Kita sudah hampir tiga jam, jangan bercanda kamu," kata William menatap arah Helena.


Helena kemudian menyimpan ponselnya lalu menghabiskan makanan itu, tetapi mendadak selera makannya hilang. Saat mereka berdua hendak pulang tiba-tiba Martin datang, menghampiri mereka.


"Helena, William, akhirnya kita bisa bertemu," ucap Martin kemudian duduk di kursi depan Helena.


Martin menatap Helena penuh misteri, membuat Helena ketakutan. Martin tidak akan membongkar masa lalunya dengan Helena, tetapi dia ingin menuntut William agar bertanggung jawab.


"Cepat apa katakan mau kamu! kita mau pulang," kata Helena dengan rasa khawatir.


"Apa yang kamu takutkan, Helena? aku datang kesini untuk makan, kebetulan lapar," bohong Martin padahal tadi saat lewat depan restoran dia melihat mobil William.


"Martin, kita pulang dulu," ucap William hendak berdiri dari tempat duduknya, begitu juga dengan Helena yang sudah melangkah tetapi Martin mencekal tangan Helena.


"Lepaskan, Martin!" kata Helena berusaha memberontak agar terlepas dari Martin.


"Martin, lepaskan tangan istri ku!" sahut William menatap sengit ke arah Martin.


"William, seharusnya bukan wanita penghianat ini yang kamu nikahi! kemana rasa tanggung jawab kamu sebagai laki-laki, tega membiarkan seorang wanita sendirian mengurus bayinya," ucap Martin kemudian melepaskan tangan Helena lalu meninggalkan mereka berdua yang masih mematung di tempat.


Helena kaget mendengar ucapan Martin, dia sama sekali tidak mengerti apa yang di maksudnya. Rasa penasaran pun muncul di benak Helena, hendak menanyakan pada suaminya.


"Ayo kita pulang! jangan dengarkan ucapan Martin, apa maksudnya wanita mengurus bayi sendiri," kata William belum menyadari kalau Martin kenal dengan Stella.


Helena menuruti ajakan suaminya untuk pulang, dia juga tidak menanyakan lagi pada William walaupun masih penasaran. "Besok aku harus menemui Martin untuk menanyakan semua," ucapnya dalam hati.


Di sepanjang jalan menuju rumah Helena hanya diam, dia sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun. William menatap Helena aneh, tidak biasanya Helena akan diam seperti itu.

__ADS_1


*


Martin tersenyum puas sudah membuat William dan Helena terkejut, dia juga berencana untuk mengatakan semuanya pada Helena.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya asisten pribadinya yang bernama Bima.


"Sayang sekali aku tidak berhasil membujuk Stella, untuk berkerja dengan ku. Kalau dia mau dengan mudah aku melindunginya," kata Martin.


"Apa Tuan masih ingin menghancurkan Nona Helena?" tanya Bima yang selalu siap menjalankan perintah Martin.


Martin mengatakan kalau dia hanya ingin memberi pelajaran pada Helena dan Ayahnya, agar tidak seenaknya memperlakukan orang. Apalagi dia orang yang berkuasa, tidak seharusnya mereka menggunakan kekuasaan untuk menindas orang.


Dia teringat saat masih berpacaran dengan Helena, setiap mengantarkan Helena pulang dari sekolah selalu di hina. Karena Martin saat itu belum bertemu dengan Ayahnya yang ternyata sangat kaya raya.


Orang tua Helena tidak menyetujui hubungan Helena dengan Martin, maka dari itu dia memaksa seseorang pengusaha di kota ini untuk menjodohkan anaknya dengan Helena. Pengusaha itu adalah Ayah dari William, dan saat bertemu dengan William pertama kali Helena sudah menyukainya. Sehingga Ayah Helena menjebak Ayah William, sampai terjadilah perjodohan ini.


Martin sakit hati dengan semua itu, kemudian dia merencanakan untuk membalas dendam pada keluarga Helena.


"Aku akan membuat kamu menyesal Helena," ucapnya dengan geram.


**


Suara pintu terbuka menyadarkan dia dari lamunannya, ternyata yang datang adalah William.


"Tuan!" kaget Rico.


"Kamu kenapa, Rico? sepertinya akhir-akhir ini sering melamun," ucap William.


Setelah dari makan malam tadi William mengantarkan Helena pulang terlebih dahulu, lalu dia pulang ke rumahnya sendiri. Dia langsung menuju ke kamar Rico, dia ingin meminta pendapat pada Rico.


"Tidak ada, Tuan. Saya hanya memikirkan Mamah yang tidak mau tinggal di sini," kata Rico berbohong pada William.


"Biar aku yang membujuk Tante Jennie, pasti dia mau," kata William dengan percaya diri.

__ADS_1


"Jangan, Tuan! itu sudah kewajiban saya membujuk Mamah dan menjaganya kelak nanti," kata Rico.


William menepuk pundak Rico, dia memberi semangat. Kalau Nyonya Jennie sudah kembali ke kota ini, tandanya Rico sudah berhenti berkerja pada William. Rico harus meneruskan perusahaan keluarganya, walaupun saat ini belum banyak orang tau kalau Nyonya Jennie mempunyai keturunan.


"Rico, apa sebaiknya aku menceraikan Helena saja," kata William.


"Ada masalah apa, Tuan? sepertinya Nona Helena juga baik-baik aja," kata Rico.


William kemudian menceritakan keadaan rumah tangganya kepada Rico, yang selama ini dia pendam. Rico memberikan nasehat agar William tidak salah dalam mengambil langkah, William harus memikirkan keputusannya lagi.


Menurut William saat ini Stella tidak akan kembali lagi, harapannya sudah pupus. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Stella, begitu mudah William mengambil keputusan.


"Stella sudah tidak mungkin lagi kembali, apa aku harus mengajak Helena untuk berbulan madu," kata William.


"Tuan, anda harus tegas. Mau menceraikan Nona Helena dan mencari Nona Stella atau melupakan Nona Stella dan memperbaiki hubungan anda dengan Nona Helena," jelas Rico.


Pilihan yang sangat sulit untuk William tentukan, karena dia belum bisa mencintai Helena dengan sepenuh hati. Sedangkan Stella, dia tidak yakin akan bertemu dengan Stella lagi.


William tidak bisa menjawab perkataan Rico, dia kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengunci pintu.


**


Keesokan harinya Stella tidak bisa berangkat masuk kerja, karena badan Angelica sangat panas. Stella menghubungi Rico untuk meminta bantuan, Rico segera datang ke rumah Stella.


"Rico, aku merepotkan kamu lagi," ucap Stella saat membuka pintu untuk Rico.


"Jangan memikirkan itu, bagaimana keadaan Angelica?" tanya Rico dengan khawatir.


Stella kemudian mengajak Rico melihat keadaan Angelica yang memang sangat panas, kemudian Rico mengajak Stella untuk membawa Angelica ke dokter.


"Stella, aku sudah bilang lebih baik cari pengasuh. Sekarang kamu tau akibatnya kan," ucap Rico dengan kesal.


"Aku tau Rico, aku salah. Tapi tidak ada pilihan lain," ucap Stella.

__ADS_1


Rico kemudian mengangkat tubuh mungil Angelica untuk dia bawa ke rumah sakit, dengan kecepatan tinggi Rico mengendarai mobilnya.


Setelah sampai Rico berteriak-teriak, dia meminta agar dokter segera memeriksa keadaan Angelica. Dia takut terjadi apa-apa dengan bayi itu.


__ADS_2