
"Stella, aku tidak mau menikah dengan mu! harus berapa kali aku bilang," ucap Rico dengan tegas.
"Alasannya apa?" tanya Stella menatap tajam Rico.
"Aku sudah menganggap kamu seperti adik ku sendiri, bahkan aku sangat menyayangi kamu dan Angel," jelas Rico.
Stella tidak puas dengan apa jawaban Rico, ia kemudian keluar dari dalam mobil lalu menutup pintu mobil Rico dengan kencang. Rico yang masih berada di dalam mobil tersenyum, melihat tingkah Stella.
Rico masuk ke dalam rumah mengikuti Stella, di ruang tengah ada Nyonya Jennie dan Angelica.
"Daddy!" teriak Angel lalu berlari ke arah Rico dan memeluknya.
Rico menggendong Angelica dan hendak membawanya ke kamar, ia akan membersihkan tubuhnya lalu bermain dengan Angelica.
"Kenapa Angelica lebih dekat dengan Rico, dia kan anak ku," ucap Stella.
"Lebih baik kalian segera menikah saja," kata Nyonya Jennie dengan tiba-tiba.
"Rico menolak ku, Tante! pernikahan ini tidak akan pernah terjadi," kata Stella.
Rico yang berada di kamarnya berfikir kalau dia harus segera mempunyai kekasih agar tidak di paksa menikah dengan Stella, dia berencana akan mencari kekasih pura-pura.
"Daddy, kenapa melamun? ayo temani Angel bermain," kata Angelica membuyarkan lamunan Rico.
Rico lalu membawa Angelica keluar, ia duduk di sebelah Nyonya Jennie dan Stella.
Akibat Stella sibuk dengan pekerjaan membuat Angelica lebih dekat dengan Rico, sebenarnya Stella sangat iri dengan Rico.
"Rico, kenapa kamu tidak mau menikah dengan Stella?" tanya Nyonya Jennie.
"Aku sudah mempunyai seorang kekasih, Mah! besok aku perkenalkan dengan kalian," jawab Rico padahal belum ada sama sekali wanita yang di sebut sebagai kekasih.
"Kekasih!" kaget Nyonya Jennie dan Stella.
Nyonya Jennie dan Stella saling berpandangan, mereka tidak percaya dengan ucapan Rico. Rico tersenyum lebar melihat Nyonya Jennie dan Stella kaget, walaupun dalam hatinya harus mencari wanita ke mana.
"Jangan bercanda, Rico," kata Stella.
"Lihat saja besok! nanti aku atur waktunya," ucap Rico.
Rico menyuruh Stella untuk membersihkan diri karena ia akan mengajak makan malam bersama, selesai makan malam Rico pergi ke kantor. Kebetulan karyawan Rico sedang lembur dan banyak kerjaan.
Rico mengelilingi ruangan staf di mana karyawan sedang berkerja, ia hendak mencari gadis mana yang pantas untuk diperkenalkan dengan Nyonya Jennie dan Stella.
"Nama kamu siapa?" tanya Rico yang tidak mengetahui identitas karyawannya, tidak biasanya Rico keliling seperti ini.
"Ruby, Tuan," jawab karyawan itu sembari menundukkan kepala.
__ADS_1
"Cepat ke ruangan ku sekarang juga," kata Rico kemudian keluar dari ruangan staf.
Ruby segera menyusul Rico ke ruang kerjanya, dengan rasa takut dan malu ia berjalan mengendap-endap. Dengan pelan ia membuka pintu, lalu Rico mempersilahkan dia masuk dan duduk.
"Gak usah tegang gitu! duduk," kata Rico.
Ruby baru pertama kali ini masuk ke dalam ruang kerja atasannya, ia hanya sekedar menyapa jika bertemu. Ia tidak berani melihat ke arah Rico, dari tadi hanya menundukkan kepalanya.
"Tolong jangan pecat saya, Tuan. Apa kesalahan saya?" ucap Ruby dengan rasa takutnya.
"Aku mau kamu pura-pura menjadi kekasih ku! Aku tidak akan memecat mu," jelas Rico sembari tersenyum tipis.
"Tapi...
"Tidak ada tapi-tapian! ikuti saja apa perintah ku," kata Rico.
Ruby terpaksa mengikuti apa mau Rico, walaupun sebenarnya sangat takut. Baru kali ini dia mendapatkan perintah yang menurutnya konyol, dan tidak masuk akal.
*
*
William dan Helena saat ini sedang berada di pengadilan agama, mereka melaksanakan sidang perceraian mereka.
Helena sudah memantapkan diri untuk bercerai dengan William, begitu juga William yang sebenarnya masih ingin kembali pada Helena.
"Dasar tidak punya malu!" ketus Lukman kemudian mengajak Helena pergi.
"Mohon maaf kan aku, Pah," kata William sembari bersimpuh di kaki Lukman.
Lukman menendang William hingga jatuh terjengkang, Karin yang kebetulan mengetahui hal itu marah-marah pada Lukman.
"Orang tua macam apa kamu, Lukman!" teriak Karin.
"Kamu yang tidak bisa mendidik anak!" kata Lukman.
"Dulu waktu suamiku masih hidup kamu memaksanya agar William menikahi putri mu itu, sekarang kamu memisahkan mereka. Sebenarnya apa mau kamu," kata Karin.
"Semua yang aku harapkan sudah terpenuhi, bahkan perusahaan ku sudah berkembang pesat. Aku sudah tidak butuh anak kamu," terang Lukman.
"Kurang ajar, kamu!" teriak Karin seraya menampar keras muka Lukman.
Lukman memegang pipinya yang di tampar oleh Karin, rasa perih yang dia rasakan tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakan oleh Karin.
"Hentikan, Mah!" teriak Helena saat Karin mengambil sebuah batu hendak di lempar ke arah Lukman.
"Minggir kamu, Helena! jangan ikut campur," kata Karin.
__ADS_1
William menghalangi Karin, ia takut Mamahnya berurusan dengan hukum. Bagi Karin dirinya di penjara tidak masalah, asal bisa membalas sakit hatinya.
"Helen, ajak Papah pergi dari sini! Biar aku tenangkan Mamah," ucap William.
Helena dan Lukman akhirnya pergi, mereka menuju ke dalam mobil.
"Pah, aku masih mencintai William," ucap Helena dengan pelan.
"Buang jauh-jauh rasa cinta kamu! lelaki itu tidak pantas kamu pertahankan," kata Lukman dengan tegas.
"Tapi...
"Papah muak dengar nama laki-laki itu! jangan sebut namanya lagi. Kamu lihat perkembangan perusahaan kita, maju pesat," ucap Lukman.
Lukman kemudian menghentikan mobilnya di depan restoran mewah, ia mengajak Helena untuk makan terlebih dahulu.
Saat menunggu makanan datang, tak sengaja mata Lukman tertuju pada wanita cantik yang berada di sebrang tempat duduknya. Dia sangat mengagumi wanita itu, tetapi tidak pernah bisa ia dapatkan walaupun hartanya sangat banyak.
"Papah, lihat siapa? sampai segitunya," kata Helena.
"Jennie... " ucapnya lirih.
Penampilan Nyonya Jennie yang elegan dan berwibawa membuat seorang Lukman terpesona, bahkan ia ingin mendapatkan wanita cantik itu.
"Ingat usia, Pah," kata Helena.
Lukman kemudian berdiri dari duduknya, ia menghampiri wanita yang dia sebut Jennie.
"Jennie," ucap Lukman dengan lembut.
Perlahan wanita itu menoleh ke arahnya, ternyata bukan Jennie yang dia maksud. Lukman sangat malu, apalagi wanita itu bersama seorang laki-laki.
"Jennie! siapa itu? kenapa anda memanggil istri saya Jennie," kata laki-laki itu menatap sengit Lukman.
"Maaf, saya salah orang," kata Lukman kemudian kembali ke tempat duduknya tadi.
"Sial aku pikir dia Jennie, kenapa penampilannya sama persis," ucapnya dalam hati.
Helena menahan tawanya, ia melihat tingkah lucu Papahnya.
Mereka kemudian hendak memakan makanan pesanan mereka yang baru datang.
"Lama sekali menyiapkan makanan," ucap Helena saat pelayanan restoran itu menaruh makanan di mejanya.
"Maaf, Nona," ucap pelayanan itu.
Harusnya Helena bisa memaklumi karena restoran saat ini sedang banyak pengunjung, dan ia datang terakhir.
__ADS_1
"Lukman," kata seseorang yang baru datang dan duduk di depan Lukman.