
Nyonya Jennie memperkenalkan Stella pada seluruh karyawan kantor, sekaligus memberitahu kalau dia adalah pemiliknya dulu. Mereka semua menyambut Stella dengan senang, apalagi sikap Stella yang ramah dan baik pada semua karyawan.
Stella di minta langsung kerja untuk menggantikannya dan mengambil alih kantor itu.
"Semangat Stella, ingat cicilan kamu," ucap Nyonya Jennie yang hendak pergi ke kantor lain.
"Terimakasih, Nyonya. Stella pasti bisa," ucapnya langsung memeluk Nyonya Jennie.
"Aku gak di peluk ini?" tanya Rico.
"Rico! sana cepat pergi ke kantor kamu, bukannya ada meeting," kata Nyonya Jennie.
Rico dan Nyonya Jennie pergi meninggalkan Stella, mereka pergi ke kantor masing-masing. Mereka sedang semangat mengejar karier, Stella paling bersemangat karena ada Angelica yang harus dia bahagiakan seorang diri.
*
*
Rico memulai kariernya dari awal lagi, perusahaan yang baru dia dirikan sangat membutuhkan dana yang cukup besar. Dia tidak mau melibatkan Mamahnya kali ini.
Tanpa di sengaja Rico akan berkerja sama dengan perusahaan milik Lukman, yang tak lain adalah Papah Helena. Saat ini mereka sedang mengadakan meeting bersama perusahaan lain juga, kebetulan perusahaan Rico yang paling kecil.
"Tidak salah ini! perusahaan kecil minta kerja sama kita," kata Lukman dengan sombong.
Peserta lain tertawa seraya berbisik, kali ini mental Rico sedang di uji. Dia yakin bisa melewati semua, karena berjuang dari awal memang tidak mudah.
"Kebetulan perusahaan itu baru saya dirikan," ucap Rico.
Hanya ada satu perusahaan yang mau berkerja sama dengannya, yang lain menolak. William yang kebetulan berada di situ juga ikut menolak, bahkan dia tidak mau menyapa Rico.
"Terimakasih, Pak. Sudah mau menerima saya untuk berkerja sama dengan perusahaan Bapak," kata Rico.
"Besok datanglah ke kantor, kita bicarakan," kata orang itu yang memang sudah lanjut usia.
Rico tersenyum, ada bahagia tersendiri pada dirinya. "Dulu pasti Mamah juga kesulitan, untuk membesarkan perusahaannya. Aku harus bisa dan menunjukkan pada mereka semua, kalau aku berhasil," ucapnya dalam hati.
*
*
__ADS_1
Kiana dan Karin sedang berada di depan rumah Rico, mereka akan mengambil Angelica.
"Bagaimana caranya mengambil anak Stella, Tante. itu penjaga rumah sangat banyak," kata Kiana sambil memanjat pagar rumah Rico.
"Kita masuk ke dalam, tunggu sampai lengah baru bawa lari anak Stella," kata Karin memberikan ide.
Mereka lalu mengetuk pintu rumah Rico, penjaga dan asisten rumah tangga tidak ada yang menaruh curiga. Mereka mengira hanya tamu kemarin yang mencari Nyonya Jennie.
"Nyonya, Nona, kebetulan Tuan Rico, Nyonya Jennie dan Nona Stella pergi ke kantor, ada pesan yang mau ditinggalkan?" tanya suster Lela yang sedang menggendong Angelica.
"Buatkan saya minum, biar aku yang gendong Angelica," ucap Karin.
"Aku saja, Tante," sahut Kiana.
Suster Lela kemudian memberikan Angelica kepada Kiana, lalu masuk ke dalam dapur. Kiana kemudian membawa lari Angelica ke luar rumah, Karin ikut berlari dibelakangnya.
Mereka berdua berhasil membawa Angelica kabur dari rumah Rico, Karin lalu mengendong cucu cantiknya itu. Dia merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa menyentuh Angelica.
"Kita bawa ke rumah William, dia harus melihat anaknya," kata Karin.
"Dari pada di usir mending Kiana tidak ke sana, Tante," ucap Kiana sembari menjalankan kendaraannya.
"Tidak semudah itu, Tante! William hampir menghilangkan nyawaku," kata Kiana.
Kiana tidak mau pergi ke rumah William lagi, dia membawa Angelica ke rumah Karin. Karin juga meminta William untuk datang ke rumah secepatnya, William menurut apa kata Mamahnya.
*
*
Suster Lela teriak saat Angelica tidak ada, lalu menghubungi Rico. Rico sangat panik saat mendengar ucapan suster Lela, dia kemudian bergegas pulang.
"Apa yang terjadi? kenapa bisa Angelica di bawa kabur? siapa yang membawa?" ucap Rico memberondong pertanyaan pada suster Lela.
"Semua salah saya Tuan, telah ceroboh memberikan Angelica untuk di gendong teman Nyonya. Saya pikir dia orang baik, Tuan," jelas suster Lela.
Suster Lela menyesal harusnya dia tadi menolak untuk membuatkan minuman atau menyuruh asisten rumah tangga saja, tapi semua juga sudah terlanjur. Kebetulan para penjaga sedang beristirahat di rumah belakang, mereka juga sengaja mencari waktu yang senggang.
"Teman Mamah siapa? katakan suster," ucap Rico terkejut dengan perkataan suster Lela.
__ADS_1
"Yang kemarin datang kesini, Tuan. Kedua wanita itu yang membawa Angelica," jelas Suster Lela.
Rico langsung bergegas pergi ke rumah William, dia justru berfikir kalau William yang menyuruh Kiana dan Karin. Di rumah William tidak ada orang, hanya ada Mbok Yem yang menemui Rico.
"William! kelua!" teriak Rico dengan amarahnya.
"Aduh! ada apa Rico, kenapa teriak begini," kata Mbok Yem baru saja keluar dari dalam rumah.
"Saya akan membuat perhitungan dengan William! di mana dia, Mbok," kata Rico.
"Tuan belum pulang dari kantor, ayo masuk dulu! Mbok sudah masak makanan kesukaan kalian," kata Mbok Yem.
Rico menjadi teringat saat baru pertama kali memasuki rumah ini, dia dibuatkan makanan kesukaannya yang kebetulan William juga suka. Mereka berdua sampai berebut saat hampir habis, seulas senyum menghiasi bibir Rico.
Rasanya baru kemarin dia bersama William, kini kebersamaan mereka hancur begitu saja karena keegoisan masing-masing. Rico mematung teringat kebersamaannya bersama William.
"Rico, kenapa melamun? ayo masuk!" ajak Mbok Yem seraya mengoyak tangan Rico.
"Tidak, Mbok! saya kesini mencari anak Stella yang di bawa kabur Nyonya dan Kiana.
"Stella sudah mempunyai anak! jangan-jangan anak...
"Mbok Yem, tebakan mu tidak salah. Tetapi William tidak mengakuinya," jelas Rico.
"Kebetulan Nyonya juga tidak datang kesini, coba saja ke rumah Nyonya Karin," kata Mbok Yem.
Rico kemudian berpamitan pada Mbok Yem, dia pergi ke rumah Karin untuk mencari Angelica. Perjalanan Rico terhalang kemacetan yang sangat parah, entah kapan dia akan sampai di rumah Karin. Tidak seperti biasanya, jalan yang di lalui biasanya sepi.
*
*
William datang ke rumah Karin bersama Helena, dia kaget karena melihat Kiana yang sedang mengendong bayi. William dan Helena langsung menuju di mana Karin berada, mereka menanyakan kenapa menyuruh datang ke rumah.
Karin terkejut William datang dengan Helena, sehingga dia tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan William. Padahal Karin ingin memperlihatkan Angelica pada William, mungkin dengan jarak yang dekat William akan mengakui Angelica sebagai anaknya.
Angelica menangis dalam gendongan Kiana, lalu Karin memintanya agar bisa diam. Angelica terus menangis, hingga membuat Helena kesal.
"Berisik sekali bayi ini! ajak keluar," kata Helena langsung mendapatkan tatapan sengit dari Karin.
__ADS_1
Helena memang tidak menyukai anak kecil, sehingga mendengar tangisan bayi dia terganggu.