SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 85


__ADS_3

"Rico!" kaget William.


"Apa maksudnya kamu membentak Kiana di depan Angelica?" tanya Rico penuh dengan amarah.


"Kamu datang ke sini hanya untuk membela Kiana! Rico, urus saja pekerjaan kamu," kata William.


"Jadi kamu masih menemui anak itu! kenapa kamu berbohong, William?" tanya Helena kemudian pergi meninggalkan William dan Rico. Helena merasa hanya di bohongi oleh William, ia sangat kecewa.


William menyalahkan Rico karena Helena marah, padahal sudah jelas dia yang tidak jujur pada Helena. Rico lalu menyampaikan apa yang dia harus katakan, William tidak bisa Terima karena dia tetap tidak mengakui kalau Angelica adalah anaknya.


"Ingat! kamu pasti akan menyesal," kata Rico kemudian pergi dari rumah William.


Belum sampai di luar rumah Rico harus menghentikan langkahnya, dia melihat Karin dan Kiana turun dari mobil. Mereka berdua lewat di sebelah Rico tanpa menyapa, Kiana hanya melirik saja sedang Karin sangat acuh. Rico lalu meneruskan langkahnya menuju ke dalam mobil, dia malas melihat keributan.


"William!" teriak Karin dengan keras.


William yang hendak menjelaskan pada Helena menjadi tertunda, ia harus menemui Karin dan Kiana lebih dulu. "Ada apa lagi?" ucapnya.


"William, kenapa kamu tidak mau mengakui Angelica? dia anak kamu," ucap Karin membuat Helena mendengar semua.


"Anak itu bukan anakku, Mah! jangan paksa untuk mengakuinya!" bentak William


"Masalah ini sepertinya tidak ada habisnya," sahut Helena.


Karin dengan terpaksa mengatakan apa sebenarnya yang terjadi, memang seharusnya Helena mengetahui semuanya. Dari pada tau dari orang lebih baik ia mengatakan, Helena sangat marah dan kecewa mendengar cerita tentang William.

__ADS_1


William saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.


Helena kemudian memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper, ia akan pergi dari rumah meninggalkan William.


"Helen, kamu dengar dulu penjelasan ku," kata William sembari memegang tangan Helena.


"Tidak perlu! lebih baik kamu bertanggung jawab atas semua perbuatan mu," kata Helena.


"Jangan tinggalkan aku, Helen!" teriak William.


Helena tidak mempedulikan ucapan William, dia tetap pergi meninggalkan William. Karin dan Kiana tersenyum, mereka menyangka kalau usahanya kali ini berhasil.


Setelah Helena pergi, William marah kepada Karin dan Kiana. Tidak seharusnya Karin yang mengatakan pada Helena, William sangat kecewa dengan Mamahnya.


"Pergi kalian dari rumahku!" bentak William.


Amarah William sudah tidak bisa di bendung lagi, rasa kecewa yang mendalam membuatnya hilang kendali. Karin dan Kiana terpaksa harus pergi, mereka tidak mau membuat William bertindak kasar pada keduanya.


Kini tinggallah William seorang diri, tidak ada siapapun di rumah itu. Ponsel William berdering, ada sebuah panggilan masuk dari Lukman. Dia sangat marah kepada William karena telah melukai hati anaknya, Lukman juga mengancam akan mengurus perceraiannya.


William segera bersiap-siap datang ke rumah mertuanya untuk mencari Helena, dia harus segera membuat Helena kembali lagi kalau tidak perusahaannya bisa terancam.


"Masih berani kamu datang ke rumahku!" bentak Lukman.


"Pah, tolong izinkan aku menjelaskan semua. Stella adalah masa lalu saya, sedangkan Helena adalah masa depan yang akan saya bahagiakan," jelas William.

__ADS_1


Plak... plak...


Tamparan keras mengenai muka William, Lukman sangat Marah.


"Masih bisa kamu bicara seperti itu! Laki-laki macam apa kamu? tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali!" bentak Lukman.


Lukman hendak kembali menampar William, tetapi Helena datang menghalangi. Dia mengusir William dan besok akan segera menceraikan William, pengacara Lukman yang akan mengurus semua.


*


*


"Rico, kamu dari mana saja? kenapa baru pulang," ucap Stella saat ini sedang menonton televisi dengan Nyonya Jennie di ruang keluarga.


"Tadi ada urusan sebentar," jawab Rico kemudian duduk dekat Stella.


"Rico, Stella, apa sebaiknya kalian menikah saja! Semua demi kebaikan Angelica nanti saat sekolah, Mamah khawatir dia akan dibully temannya karena tidak mempunyai seorang Ayah," kata Nyonya Jennie.


Rico menatap Stella, mereka berdua tidak ada niatan untuk menikah. Stella juga tidak ingin jatuh cinta pada lelaki manapun, rasa cintanya sudah mati. Hanya kebahagiaan Angelica yang dia utamakan saat ini, lambat laun Angelica juga akan mengetahui siapa Ayah kandungnya yang sebenarnya.


"Angelica memanggil ku Daddy, pasti semua orang mengira aku Ayahnya," sahut Rico. Kita tidak perlu menikah," Lanjutnya.


"Pikirkan ulang ucapan, Mamah," kata Nyonya Jennie kemudian pergi meninggalkan Stella dan Rico.


Stella bingung mau menjawab apa, di sisi lain dia merasa berhutang budi dengan keluarga ini tapi dia tidak ingin menyakiti hati Rico.

__ADS_1


"Stella, kamu tidak perlu memikirkan ucapan Mamah," kata Rico.


"Makasih atas pengertiannya," ucap Stella.


__ADS_2