SEBATAS RASA

SEBATAS RASA
Bab 28


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Stella, siapkan berkas untuk meeting sekarang juga!" ucap William.


"Baik Tuan," kata Stella, seraya memilih berkas yang akan digunakan untuk meeting.


Setelah semua siap William mengajak Stella untuk ke ruangan meeting. Rico dan Kiana sudah berada di ruangan itu, mereka sudah lumayan lama menunggu William dan Stella.


Meeting pun sudah di mulai, berjalan dengan lancar. Saat mau di tutup tiba-tiba Stella pingsan, William sangat panik dan membawanya ke ruangan kerjanya.


"Rico, bubarkan meeting nya! biar aku yang urus Stella," ucap William seraya mengendong tubuh Stella.


Kiana mengikuti William masuk ke ruang kerjanya, dia juga ikut panik dengan keadaan Stella.


"Bagaimana ini, apa perlu panggil dokter," ucap William, yang nampak kebingungan.


"Tidak perlu!" kata Kiana, sembari mengoleskan semacam minyak kayu putih ke hidung Stella.


"Kamu apakan Stella? awas saja kalau terjadi apa-apa!" kata William.


"Tenang saja dulu! sebentar lagi Stella juga sadar. cepat ambilkan air putih!" kata Kiana.


Beberapa saat kemudian Stella mulai membuka matanya, ia memegang kepalanya.


"Stella, syukurlah kamu sudah sadar!" kata William, sembari memeluk Stella.


"Aku baik-baik saja, William..." ucap Stella lirih.


Stella merasa mual lalu masuk ke dalam toilet, untuk memuntahkan isi perutnya. Kiana membantu Stella keluar dari toilet lalu menyuruh duduk dan mengambilkan minum.


"Stella, apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kiana.


"Mungkin aku kelelahan," ucap Stella. Kepala ku pusing sekali, badanku juga tidak enak," Lanjutnya.


"Sepertinya kamu harus istirahat, ayo aku antar pulang!" ajak Kiana.


"Biar aku saja yang mengantarkan Stella pulang!" sahut William, yang tidak terima jika Stella bersama Kiana.


"Biarkan aku pulang sendiri, tidak perlu di antar," ucap Stella.


"Stella, kamu kelihatan pucat sekali. Ayo aku antar," bujuk Kiana.


"Tuan, apa perlu panggil dokter?" tanya Rico.


"Jangan! aku baik-baik saja," kata Stella.

__ADS_1


Stella terlihat lemas dan pucat, kemudian William mengajaknya untuk makan siang di luar kantor.


"Stella, kamu mau makan apa?" tanya William.


"Aku ingin makan salad buah," jawab Stella.


"Nanti aku belikan! kamu harus makan nasi dulu," kata William.


"William, aku hanya ingin makan salad buah tidak yang lain," ucap Stella, mengerucutkan bibirnya membuat William semakin gemas.


Akhirnya William menuruti permintaan Stella, membelikan salad buah lalu membawanya pulang ke rumah.


"Untuk sementara waktu tinggal di rumahku saja! ada Mbok Yem yang akan mengurus mu," kata William.


"Yang aku takutkan kejadian di hotel itu terulang lagi..." ucap Stella lirih.


"Percayalah! aku tidak akan melakukan lagi," terang William.


Sampai di rumah William meminta Mbok Yem menyiapkan kamar untuk Stella. Stella meminta kamar yang bersebelahan dengan Mbok Yem, tetapi William melarang dan menyuruh Stella tidur di kamar sebelah William.


Stella kembali mual- mual, dia masuk ke dalam toilet memuntahkan isi perutnya lagi.


"Stella, lebih baik kita ke dokter saja!" ajak William.


"Setiap hari juga aku pakai, kenapa tidak bilang dari kemarin?" kata William, sembari mengendus lengan bajunya.


"Hari ini baunya aneh," ucap Stella.


"Nona, seperti orang hamil saja," sahut Mbok Yem, sembari merapikan sprei.


"Hamil? memang kalau hamil seperti ini, Mbok?" tanya Stella.


"Biasanya kalau orang hamil sering mual kalau mencium bau yang tidak di sukai," jelas Mbok Yem.


"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan," sahut Rico, yang tiba-tiba datang.


Rico mengajak berbicara William di ruang kerja William, karena ada sesuatu yang sangat penting.


"Ada apa, Rico?" tanya William.


"Tuan Lukman ingin bertemu dengan, Tuan," kata Rico.


"Kapan?" tanya William singkat.


"Sekarang, Tuan. Lebih baik segera di temui sebelum mencari Tuan," kata Rico.

__ADS_1


"Sampaikan aku ke sana sekarang!" kata William.


Rico mengantarkan William menemui Lukman yang tak lain adalah Ayah Helena. Mereka bertemu di sebuah resto mewah yang sudah di pesan oleh Lukman. Ketika kedatangan Lukman resto itu tidak akan menerima pengunjung dan hanya melayani Lukman.


"Akhirnya kamu datang juga, William," ucap Lukman.


"Tentu saja saya akan datang, Om," kata William.


"Helena besok pagi pulang, bagaimana kalau pertunangan kalian dipercepat?" tanya Lukman.


"William harus minta persetujuan Mamah dulu," jawab William.


"Ingat kamu tidak bisa kecewakan putri saya! walaupun Karin tidak setuju pernikahan ini tetap harus berlangsung!" jelas Lukman.


"Iya, Om," ucap William singkat.


Dalam hati William dia ingin menolak lalu menikahi Stella, tetapi tidak mungkin dia lakukan. Pertemuan dengan Lukman hanya singkat, karena Lukman orang yang sibuk dan anak buahnya yang bergerak jika ada keperluan yang tidak begitu penting.


"Apa yang harus aku lakukan, Rico?" tanya William.


"Seandainya Nona Helena tidak menyukai Tuan, pasti akan sangat mudah untuk membatalkan," ucap Rico.


William mengacak-acak rambutnya, dia pusing dengan kehidupan percintaannya. Di satu sisi ingin memiliki Stella seutuhnya, apa lagi dia sudah merenggut mahkota Stella yang sama saja menghancurkan masa depannya.


William sangat menyesal telah membuat hidup Stella hancur, dia juga tidak akan rela melihat Stella dimiliki oleh orang lain.


Penyesalan memang selalu datang di akhir, harusnya sebelum melakukan sesuatu harus dipikirkan kembali. Jika semua sudah takdir, manusia hanya bisa menerima dengan ikhlas dan berdoa kepada Tuhan. Semoga apapun ketentuan Tuhan adalah versi terbaik buat diri kita.


Stella saat ini sedang merenung, dia teringat apa yang telah dia lakukan dengan William saat pesta malam itu. Ada rasa penyesalan yang mendalam dalam hatinya, walaupun dia melakukan dengan orang yang dicintai.


"Non, makan dulu! dari tadi Non Stella belum makan," ucap Mbok Yem.


"Stella tidak lapar, Mbok," tolak Stella.


"Non, nanti sakit kalau perutnya tidak di isi. Apalagi Non Stella lemas gitu," kata Mbok Yem.


Stella tersenyum ke arah Mbok Yem, akhirnya dia mau makan bersama Mbok Yem. Di meja makan terdapat banyak hidangan yang sudah tertata di meja, tak lupa buah-buahan juga ada sebagai pencuci mulut.


"Mbok ambilkan ya, Non? Non Stella, mau pakai lauk apa?" tanya Mbok Yem, sembari mengambilkan nasi di piring Stella.


"Jangan banyak-banyak, Mbok! pakai telur saja," ucap Stella.


Mbok Yem melayani Stella dengan baik, setelah selesai makan Mbok Yem menyiapkan air hangat untuk mandi Stella. Stella merasa tidak enak diperlukan bagaikan putri raja, apa-apa selalu di layani. Kemudian ia meminta Mbok Yem untuk beristirahat.


William sampai rumah langsung melihat Stella, dia takut terjadi sesuatu dengan Stella. William sebenarnya sudah menyuruh dokter keluarga datang ke rumah, tetapi dokter keluarganya belum bisa datang sekarang.

__ADS_1


__ADS_2