
Karena teringat perut Stella yang sedang sakit, Rayhan hari ini datang lagi ke tempat Stella. Dia takut terjadi apa-apa dengan kandungan Stella, Rayhan membawa Stella ke dokter. Kata Dokter Stella hanya butuh istirahat, ia kelelahan.
"Stella, kamu harus istirahat di rumah," ucap Rayhan.
"Aku butuh pekerjaan, untuk melahirkan dan membesarkan anak ini," jelas Stella.
Rayhan menawarkan diri untuk membantu Stella, tetapi Stella menolak dia tetap akan berusaha sendiri. Tiba-tiba Stella teringat dengan Kakek.
"Kakek pasti nungguin aku," ucapnya dalam hati.
Stella kemudian berpamitan pada Rayhan kalau ada sesuatu yang penting, Rayhan menawarkan diri untuk mengantarkan Stella. Karena tidak ada pilihan lain akhirnya Stella mau di antar Rayhan.
"Berhenti! Rayhan biasanya Kakek menunggu di tempat ini," ucap Stella.
Rayhan menghentikan motornya di tepi jalan. "Kakek siapa?" tanya Rayhan melihat sekeliling tempat itu tetapi tidak ada seorang Kakek.
"Kakek yang setiap hari meminta tolong pada ku," jawab Stella. Pasti aku terlambat," Lanjutnya.
Stella duduk dengan wajah menyesal karena terlambat datang ke tempat itu, dan Kakek tidak ada di tempat.
Tak lama kemudian orang yang kemarin menemui Stella datang lagi, ia mengatakan kalau Kakek belum ke kantor. Stella merasa lega karena tidak terlambat.
"Nona, ini ada titipan dari Kakek," ucap orang itu seraya memberikan uang pada Stella.
"Maaf, saya tidak bisa menerima! tolong sampaikan sama Kakek," ucapnya Stella menolak uang itu.
"Tapi, Nona sudah datang ke sini," kata orang itu.
"Saya datang karena Kakek, bukan karena uang," ujar Stella.
Orang itu lalu pergi ke tempat Kakek, hendak menyampaikan pesan dari Stella.
"Stella, ayo kita pulang! ingat janin kamu," ujar Rayhan.
"Aku tau, Rayhan! perut ku sudah tidak sakit lagi," ucap Stella.
Mereka lalu pergi dari tempat itu, lalu menuju ke tempat Stella. Kebetulan William dan Rico melintasi jalan itu, tetapi mereka tidak melihat Stella.
"Tuan, ayo kita pulang saja! pasti Nona Helena mencari Tuan," ujar Rico.
"Baiklah Rico, mungkin belum waktunya aku dan Stella bertemu," ujar William.
__ADS_1
Mereka berdua kembali ke rumah Karin, karena William ingin menginap di rumah Mamahnya. Sampai di sana ada Wilda yang mengajak berbicara William, ini tidak seperti biasanya.
"William, kamu sebenarnya suka tidak sama Helena?" tanya Wilda.
"Bukan urusan, Kakak!" ucap William.
"Aku akan bantu kamu, biar wanita itu tidak mengejar mu," ucap Wilda ada sesuatu yang diharapkan dari William.
"Terlambat! percuma lebih baik aku menikah dengan dia," kata William.
William sudah curiga dengan Wilda, biasanya juga masa bodoh dengan keadaan William.
"Tadi dia datang ke sini, nyariin kamu," kata Wilda.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya William.
"Aku menyuruh wanita itu mundur, tetapi dia tidak menyerah begitu saja," jelas Wilda.
"Urus saja keluarga, Kakak! jangan campuri urusan ku," kata William.
William mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah Karin, William ternyata pergi ke rumah Stella. Rumah itu nampak tak ber penghuni, gelap dan tidak terawat. Melihat keadaan rumah Stella membuat William semakin merasa bersalah. Rumah yang harusnya terawat dan berpenghuni kini menjadi tidak terawat.
***
"Aku akan menjaga kamu, Stella. Setidaknya sampai kamu melahirkan," kata Rayhan.
"Itu bukan kewajiban kamu! jadi aku mohon, jangan datang ke sini lagi," ucap Stella.
"Percayalah Stella, aku tidak ada niatan jahat. aku hanya ingin membantu kamu," kata Rayhan.
"Semakin kamu peduli dengan ku, justru akan membuat kamu menderita. Aku tidak ingin semua itu terjadi," jelas Stella. Kasihan tunangan kamu di kampung," Lanjutnya.
Sejak kejadian itu Rayhan sudah menjelaskan kepada tunangannya, kalau dia ingin membantu Stella. Siti tunangan Rayhan percaya dan memperbolehkan Rayhan membantu Stella. Karena kalau dia menjadi Stella pasti dia tidak akan sekuat Stella.
Stella tetap bersikukuh untuk tidak merepotkan Rayhan lagi, dia tidak mau menjadi beban buat Rayhan. Kali ini Stella ingin berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun.
"Kalau itu kemauan kamu, aku pergi Stella!" pamit Rayhan.
Rayhan sebenarnya sedih sekali, meninggalkan Stella dalam keadaan hamil. Tapi karena kemauan Stella sendiri, ia terpaksa menuruti.
"Hati-hati Rayhan! sampaikan salam saya buat Siti," ucap Stella.
__ADS_1
Setelah kepergian Rayhan, Stella mengetes air mata. Tidak bisa dipungkiri selama ini Rayhan sudah banyak berkorban untuknya, sebenarnya Stella sangat membutuhkan bantuan Rayhan.
Karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan Stella memutuskan untuk berjualan makanan, tetapi dia belum ada ide makanan apa yang akan dia jual. Ia memikirkan lagi kalau makanan dan tidak habis di jual pasti akan rugi, Stella ingin berjualan online dari produk fashion.
Dia sudah menyerah dan lelah mencari pekerjaan, apalagi ia sedang hamil pasti akan banyak pertimbangan buat perusahaan yang menerimanya.
Stella lalu mengambil ponselnya yang tidak pernah dia hidup kan, ia berencana ingin menganti kartu SIM cardnya agar William tidak bisa melacak nya.
Saat ia buka ternyata ratusan pesan masuk, semuanya dari William dan Kiana yang menanyakan keberadaannya. Stella mengambil kartu itu dan menggantinya dengan yang baru.
"William..." ucap Stella lirih.
"Laki-laki yang paling kejam di dunia ini! tega akan membunuh darah dagingnya sendiri," ucap Stella dalam hati. Air mata tak terasa menetes dari kedua matanya, hatinya semakin perih mengingat kejadian itu.
William menyadari kalau pesan yang dia kirim buat Stella baru terbaca, dia sangat senang lalu mencoba menghubungi tetapi tidak bisa.
"Rico!" teriak William.
Rico segera mendekat ke arah William yang memanggilnya. "Iya, Tuan," sahut Rico.
"Stella masih hidup! ayo kita cari!" ajak William.
"Tuan, ada Nona Helena di depan," ucap Rico.
"Sial! wanita itu selalu mengganggu saja!" kata William.
Rico heran dengan William yang terkadang seperti orang gila, tetapi dia tidak berani untuk mengutarakan.
Helena masuk ke dalam ruangan kerja William, dia mengutarakan maksud kedatangannya.
"Ada apa kamu, kesini?" tanya William.
"William, Papah mengundang kamu ke rumah kenapa tidak datang?" tanya Helena.
"Kemarin aku ke luar kota," jawab William.
"Papah meminta agar kita segera menikah," ujar Helena.
"Apa!" kaget William.
William mengiyakan permintaan Helena, ia akan menikahinya tiga bulan lagi. Pernikahan mereka akan di gelar dengan sangat mewah. Papah Helena orang berkuasa, jadi pernikahan mereka akan memakan waktu yang lama. Tamu undangan juga pasti banyak.
__ADS_1
Helena saat ini mengajak William untuk foto prewedding di sebuah taman bunga yang sangat indah. William menolak, dia tidak ingin foto.
William meminta agar Helena mengedit foto yang sudah ada saja, karena ia sibuk memikirkan Stella.