
"William, kamu tidak terluka kan? lain kali hati-hati, memalukan saja," kata Kiana lalu membantu William untuk merapikan berkasnya.
Untung saja pecahan gelas tadi jatuh ke lantai, dan tidak melukai William. Karena tidak bisa berkonsentrasi William membubarkan meeting, perasaannya yang tiba-tiba tidak enak membuatnya sedih.
William kemudian keluar dari ruang meeting, tak lupa juga menyuruh Kiana untuk membubarkan meeting. Dia kemudian menuju ke ruangannya.
"Sebenarnya ada apa ini? kenapa perasaan ku tidak enak," ucapannya dalam hati sembari menatap ke arah luar dari balik jendela.
"William, kamu kenapa? aneh sekali, tidak biasanya kamu seperti orang bodoh," kata Kiana yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja William.
"Lebih baik tinggalkan aku sendiri! pikiran ku tiba-tiba kacau," ucap William tanpa menoleh ke arah Kiana.
__ADS_1
Kiana kemudian pergi meninggalkan William, dia menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya sendiri. Dia tidak mau pusing memikirkan William, niatnya mau di bantu tetapi William bersikap acuh.
Kiana baru menyadari kalau Rico ternyata tidak berangkat ke kantor, dia semakin curiga dengan gerak-gerik Rico. Kiana hendak menuju ke tempat Stella, ia ingin memastikan kalau Rico berada di rumah Stella.
"Lebih baik aku ke rumah Stella, siapa tau Rico berada di sana," ucapnya dengan pelan sambil membereskan mejanya yang berantakan.
Kiana kemudian hendak keluar dari kantor, ternyata dia bertemu dengan Karin yang akan menemui William. Terpaksa ia mengurungkan niatnya, lalu menemui Karin dan mengantarkannya ke ruang kerja William.
"Perasaan Tante tidak enak, apa William baik-baik saja? antar Tante menemuinya," ucap Karin sembari menggandeng tangan Kiana lalu menariknya.
Kiana dan Karin berjalan dengan tergesa-gesa, setelah sampai di ruang kerja William mereka mengetuk pintu. William menyuruh mereka untuk masuk, saat mengetahui kalau Mamahnya yang datang dia langsung mendekat dan mengajaknya untuk duduk bersama di sofa.
__ADS_1
"William, apa kamu baik-baik saja? sudah beberapa hari kamu tidak pulang ke rumah Mamah," ucap Karin dengan raut wajah yang kelihatan panik.
"William baik-baik saja, Mamah tidak perlu khawatir. Tetapi perasaan William saat ini sedang tidak enak," ucap William.
Karin mengatakan kalau dirinya tiba-tiba teringat dengan Stella, dia juga mengatakan kalau cucunya pasti sudah besar. William mengernyitkan dahinya, ia tampak kaget dengan ucapan Mamahnya. Kiana yang berada di situ tidak berani mengatakan sepatah kata pun, walaupun dalam hati ingin bicara soal Stella. Sebenarnya dia tidak tega melihat William dan Karin tersiksa oleh rasa bersalah, tetapi dia bingung harus berbuat apa.
"Seandainya bertemu dengan Stella apa kamu mau meminta maaf, William?" tanya Kiana menatap William iba.
"Aku masih ragu, dengan anak yang di kandung Stella," ucapnya membuat Kiana sedikit kesal karena dia tau bagaimana sifat Stella.
Kiana dan Karin memarahi William, mereka menyuruh William untuk mencari Stella lagi. Tetapi William tetap kukuh dengan pendiriannya, dia ingin melupakan Stella walaupun saat ini masih dihantui rasa bersalah.
__ADS_1
William kemudian menghubungi Rico, dia meminta agar anak buahnya membantunya mencari Stella lagi. Karin meminta William bertanggung jawab menafkahi anaknya, walaupun tidak bisa menikahi Stella. Karin sangat yakin kalau anak yang di kandung Stella adalah anak William.