Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #10


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Semua orang akan bersiap-siap untuk sarapan. Karena hari ini keluarga Atmaja memiliki kegiatan masing-masing. Ada yang pergi ke kantor, sekolah, rumah sakit, dan toko.


Keluarga Atmaja adalah salah satu orang terpandang di negara Indonesia. Keluarga tersebut memiliki perusahaan yang dikelola oleh Akhtar. Memiliki 1 unit rumah sakit yang dikelola oleh Afsana. Memiliki sebuah toko kue yang dikelola Sarah dan beberapa toko berlian yang dikelola oleh Humita.


Humita ingin ketiga cucunya mengelola beberapa toko Sarah dan toko berlian miliknya. Tapi dia juga sebagai seorang nenek tidak akan menuntut itu semua. Humita tidak akan memaksa kepada ketiga cucunya jika mereka ingin meneruskan maka akan membuat Humita senang, jika mereka tidak berkeinginan untuk meneruskan dan punya keinginan lainnya maka akan dia dukung sepenuhnya. Yang terpenting bisa membuat cucu-cucunya senang.


"Sayang ayo sarapan, cepatlah turun" Teriak Sarah agar terdengar oleh ketiga anaknya.


"Iya ma" Sahut ketiganya yang sedang menuruni anak tangga.


"Cepat sarapan nya, papa akan mengantarkan kalian berdua ke sekolah, dan untuk Safa papa juga yang akan mengantarkan mu ke kampus" Ucap Akhtar.


Satu bulan yang lalu Safa telah mendaftarkan diri di Universitas yang disebutkan oleh pemilik asrama. Pada akhirnya Safa keterima menjadi salah satu mahasiswi di Barrah Universitas. Dan hari inilah pertama kalinya Safa akan mulai menggapai apa yang diinginkannya.


"Tapi pa, kantor dan sekolah adik sama arahnya sama sedang Safa nanti papa harus putar balik" Ucap Safa


"Tidak apa-apa, sebelum papa membelikan mu kendaraan, papa yang akan terus mengantarkanmu" Ucap Akhtar tegas.


"Kan banyak kendaraan umum, Safa bisa kok berangkat sendiri" Ucap Safa.


"Papa tidak mengizinkanmu untuk pergi sendiri memakai kendaraan umum" Tegas Akhtar.


"Ma" Ucap Safa mengadukan nya pada sang mama.


"Mama setuju sama papa sayang, mama khawatir jika kamu pergi sendiri, jika kamu tidak ingin papa mengantarkanmu, biar mama saja yang mengantarkanmu ke kampus" Jawab Sarah.


"Huhh, baiklah jika itu yang kalian inginkan" Ucap Safa pasrah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kampus


Kedatangan Safa ke kampus banyak orang yang memperhatikan kecantikan Safa terutama para kaum Adam. Ada juga beberapa perempuan yang kagum dengan Safa dan ada juga yang terlihat tidak suka.


Safa hanya membalas dengan senyuman kecil karena merasa canggung di perhatikan oleh mahasiswa lainnya.


Safa melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari ruangan Dekan. Seorang pria datang menghampiri Safa.


"Lo cari ruangan Dekan kan?" Tanya pria tersebut dan membuat Safa melongo karena pria tersebut tiba-tiba menghampiri nya.

__ADS_1


"I-iya" Jawab Safa gugup.


"Ikuti gue" Ucap pria tersebut sambil berjalan meninggalkan Safa. Safa hanya diam saja.


"Lo punya telinga kan? Cepet ikuti gue, waktu gue gak banyak untuk terus melihat lo diam seperti itu" Tanyanya kembali dengan nada dingin dan berjalan terlebih dahulu.


"Hah, i-iya. Maaf" Jawab Safa sambil mengikutinya.


"Ni cowo gak punya sopan santun apa bicara sama cewe, gak kenal tapi udah main marah-marah aja"gerutu Safa.


"Ini ruangan nya, gue pergi dulu" Ucap pria tersebut.


"Emmm te-terima kasih...." Ucap Safa menggantung.


"Sama-sama. Lo bisa panggil gue Jauhar" Jawab Jauhar seolah tahu ucapan Safa yang terpotong.


"Yaudah gue cabut dulu" Ucap Jauhar dan dibalas senyuman oleh Safa.


"Oh iya Safa jika butuh bantuan, lo bisa cari gue" Ucap Jauhar menatap kembali ke arah Safa dan melanjutkan untuk pergi.


"Hah, kenapa dia bisa tahu nama ku?" Gumam Safa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ahh, aku cari tahu nanti" Katanya lagi sambil masuk ke ruangan Dekan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Safa masuk kuliah jurusan bisnis, sebenarnya Safa bilang pada keluarganya dia tidak tahu akan mengambil jurusan apa. Tapi setelah Safa berfikir dengan matang dia memutuskan untuk mengambil jurusan bisnis, karena dia ingin membuat produk dengan menggunakan namanya.


Safa masuk ke ruangan sesuai jurusan yang dia ambil. Dan Safa sedikit terkejut karena seorang pria yang tadi bersamanya satu jurusan dengannya.


"Silahkan perkenalkan dirimu pada yang lain" Ucap dosen yang mengajar di ruangan tersebut dan diangguki oleh Safa.


"Perkenalkan nama saya Safa Maysoora" Ucap Safa pada semua mahasiswa


Setelah memperkenalkan diri Safa duduk di bangku yang belum orang tempati tepatnya di depan Jauhar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam istirahat


Safa sedang membereskan buku-buku, dia bingung harus pergi istirahat ke kantin dengan siapa, karena Safa belum mempunyai teman. Meskipun ada Jauhar yang dia kenal sebelumnya tapi membuat dia malu ingin mengajaknya terlebih dahulu.


"Hai Safa aku Tania, apa kau mau ikut dengan kami ke kantin"Ucap Tania yang sudah berdiri didepan Safa dengan mengulurkan tannganya untuk berkenalan

__ADS_1


"Hai aku Tessa" Ucap mahasiswi sebelah Tania sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Safa, boleh jika kalian tidak keberatan" Jawab Safa dengan ramah.


Mereka bertiga pun pergi ke kantin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kantin


Seorang wanita dengan teman-temannya menatap sinis ke arah Safa yang baru saja memasuki area kantin.


Safa dan teman-temannya duduk dan memilih menu diatas meja yang sudah disediakan.


"Safa, kamu mau pesen apa?" Tanya Tania.


"Apa aja terserah kalian, asal jangan ikan dan telur" Jawab Safa.


"Yaudah, Tess lu pesenin sana sekalian buat gue seperti biasa" Titah Tania pada Tessa sambil mengangkat kedua alisnya.


"Kebiasaan lu, ogah ah lu pesen sendiri sono" Jawab Tessa dengan cemberut.


"Sudah-sudah, kalau gitu biar aku saja yang pesan dari pada kalian harus ribut nanti, kan malu kalau ada yang lihat"Ucap Safa merasa tidak enak.


"Santai fa gue tadi hanya bercanda kok,hehe" Ucap Tessa sambil cengengesan.


"Huh, ya ampun Tessa Tessa aku kira beneran tadi"Ucap Safa khawatir kalau temannya ribut.


" Kita memang gini suka ribut, jadi lo harus membiasakan diri dengan kita yang barbar"Ucap Tessa.


"Idih, lo kali yang barbar kenapa mesti bawa-bawa gue" Ucap Tania sedikit kesal karena disamakan dengan dirinya.


"Udah ah, panjang kalau ribut sama lu, mening gue pesen makan aja" Ucap Tessa sambil berlalu.


"Yaelah dari tadi ke pesen nya, malah ngajak ribut dulu" Ucap Tania ketus tapi tidak didengar Tessa karena sudah berjalan jauh.


"Percuma kamu berbicara seperti itu, sedangkan Tessa sudah berjalan jauh, mana denger dia" Ucap Safa lembut.


"Hehe iya juga ya, mana denger dia ocehan gue" Jawab Tania cengengesan.


Safa yang melihat itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa beruntung memiliki teman yang sangat baik, padahal baru mengenalnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2