Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #44


__ADS_3

"Oh iya kau benar juga, yasudah kamu antarkan saja kekamar, biarkan dia istirahat" Ucap Humita.


"Ayo Gau sekalian kamu juga istirahat" Titah Safa.


"Bang anter Gau napa, kan kaki Gau masih sakit" Ucapnya dengan memelas.


"Issshhh kau ini merepotkan saja" Jawab Jauhar tapi tetap membantu Gauhar.


"Hehe, maaf" Ucapnya cengengesan.


"Al kamu istirahat saja dulu ya dengan Gau" Ucap Safa setelah sampai kamar tamu dan membantu Alya berbaring.


"Iya, terima kasih ya ka" Ucap Alya.


"Sama-sama" Jawab Safa sambil mengelus kepala Alya.


"Kalau begitu abang tinggal ya" Ucap Jauhar.


"Iya bang" Jawab mereka serempak dan Jauhar pun meninggalkan mereka.


"Kakak juga keluar ya, kalian istirahat saja. Kalau butuh apa-apa bisa panggil kaka" Ucap Safa dan diangguki mereka berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah rumah yang jauh lebih besar dari rumah milik Safa. Seorang wanita muda sedang mondar mandir diambang pintu. Meskipun hujan dia tetap menunggu kepulangan seseorang disana.


"Ya ampun kemana anak-anak itu pergi, ditambah hujan sangat deras" Ucapnya sambil mondar-mandir.


"Nak Risa tunggu saja di dalam, biar ibu tutup saja pintunya nanti kamu masuk angin bila terus menunggu disini" Ucap salah satu art.


"Tapi adik-adiku belum pulang semua bu, aku sudah menelpon Alya tapi tidak aktif, aku mencoba menelpon Gau dan Jauhar tapi tidak diangkat" Ucapnya Khawatir.


"Masuk saja kedalam tenangkan dirimu. Mungkin mereka sedang berteduh dan jika hujannya sudah reda mereka juga pasti langsung pulang" Jawabnya.


"Huhh baiklah, ibu benar mungkin sebentar lagi juga mereka pulang" Ucap Risa lesu dan berjalan ke arah ruang tamu.


Risa adalah istri dari kakak mereka. Risa orangnya baik, sederhana, penyayang, dan sangat ramah pada siapapun.

__ADS_1


Nampaknya hari ini dia sedikit gelisah karena ketiga adiknya belum juga pulang. Risa diberi tanggung jawab oleh mertuanya serta orangtua angkat untuk menjaga adik-adiknya, Risa tidak keberatan untuk itu karena Risa akan marah pada orang yang berbohong, menegur bila ada yang berbuat salah, dan akan membela pada yang benar walau salah satu keluarganya ada yang salah Risa tidak akan pernah membenarkan itu semua. Bukan hanya Risa saja yang melakukan itu tapi keluarga dari suaminya juga sama.


Risa mencoba menelpon kembali Jauhar, dan untungnya kali ini Jauhar mengangkatnya.


"Jauhaaaarrrrrr" Teriak Risa setelah dia beberapa kali menelponnya dan akhirnya kali ini Jauhar mengangkatnya.


Ketika Jauhar menempelkan handphone nya ditelinga seketika menjauhkannya karena mendengar suara yang membuat telinganya sakit.


"Ya Allah kak, pelan-pekan kalau manggil kuping ku sakit tahu" Cerutu Jauhar.


"Mangkannya kalau ditelponin itu diangkat, udah tahu orang lagi khawatir" Ucap Risa.


"Ya maaf, ini Jauhar lagi dirumah temen dengan Haikal. Dan tenang aja soal Alya dan Gauhar dia ada sama aku" Jawab Jauhar.


"Syukurlah kalau mereka denganmu, kakak khawatir karena jam segini kalian belum pulang, mana engga ngabarin kakak lagi" Ucapnya lega.


"Iya, nanti setelah hujannya reda Jauhar akan langsung pulang" Jawab Jauhar.


"Iya, Hati-hati bawa mobilnya jangan ngebut" Ucap Risa.


"Iya kak" Jawab Jauhar sambil menutup telponnya.


"Pasti kak Risa yang telpon" Tebak Haikal.


"Iyalah, siapa lagi kan kak Risa diam di rumah dan tidak boleh bekerja. Sedangkan kak Zia sama kak Aira jarang menelpon karena mereka sibuk bekerja" Jawab Jauhar. Haikal hanya menganggukan kepalanya.


Safa telah kembali ke ruang tamu setelah mengantarkan kedua adiknya Jauhar untuk istirahat. Setelah bergabung Humita memberi kode pada Yasmin agar meminta maaf pada kakaknya.


"Sedari tadi kalian hanya diam dan mengobrol, apa tenggorokan kalian tidak kering? Setidaknya minumlah minuman yang ada dihadapan kalian" Ucap Safa.


"Iya ini akan aku minum" Jawab Haikal sambil mengambil gelas yang berisi air lalu meminumnya hingga habis tak tersisa.


"Kau puas" Ucap Haikal.


"Kau ini ada-ada saja" Jawab Safa ketawa.


"Kakak" Lirih Yasmin yang masih duduk disamping neneknya.

__ADS_1


"Kemarilah" Ucap Safa sambil merentangkan kedua tangannya karena tidak tega jika terlalu lama marah pada adik bungsunya.


Yasmin pun berjalan kearah kakaknya dan memeluknya sambil menangis.


"Maaf, hiks hiks" Lirih Yasmin memeluk kakaknya dari samping.


"Kakak sangat tidak suka dengan sikapmu yang kasar seperti itu. Kau tahu kakak yang memeluknya karena dia sedang sakit dan rela mengantarkan kakak pulang. Sebagai balasannya kakak mengajaknya untuk singgah dulu dirumah kita" Ucap Safa sambil tetap memeluk adiknya.


"Maafin Yasmin kak" Jawab Yasmin.


"Kakak tidak membutuhkan maaf darimu Yas. Nanti kau harus minta maaf pada kak Alya" Tegas Safa dan diangguki Yasmin.


Mereka yang da disana terharu melihat Safa dan adiknya Yasmin. Tapi nenek malah nyeletuk agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Oh iya nenek baru inget, kau ini mirip dengan adik kami. Tapi siapa ya namanya nenek lupa" Ucap Humita


"Tadi katanya inget tapi lupa, nenek ini aneh sekali" Cibir Yumna yang berada disebelah neneknya.


"Isshh kau ini, sebenernya nenek inget-inget lupa" Ucapnya.


"Sama saja dengan lupa nek, kalau lupa ya lupa kalau inget ya inget. Kan orang yang denger jadi bingung" Ledek Yumna.


"Tunggu-tunggu tadi nenek bilang adik kami, emang dengan siapa nenek punya adik?" Tanya Yumna.


"Ah iya nenek baru inget, nenek punya tiga orang sahabat dan kita itu memiliki satu adik kelas perempuan yang kita anggap sebagai adik, dia bernama Lili dan dia tinggal dengan Anin lalu tinggal dengan Amira, dia tidak pernah tinggal dengan nenek karena nenek berada diluar kota" Ucap Humita sambil mengingat-ngingat.


"Nenek benar adik saya yang paling kecil namanya Gauhar dia memang mirip dengan Bunda" Jawab Jauhar.


"Dan yang nenek maksud Anindira dia adalah mami dari adik saya yang bernama Alya. Mungkin jika nenek kenal betul dengan orangtua kami, nenek juga tahu kejadian pahit apa yang orangtua kami alami" Ucap Jauhar menutupi rasa sedihnya.


"Ya Allah benarkah? " Tanya Humita memastikan.


"Benar nek" Jawab Jauhar sambil tersenyum.


"Ya Allah ternyata dunia sangat sempit sekali, aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka setelah aku menikah, hanya bertemu dengan Amira saja pada saat Afsana berusia 5 tahun. Dan aku juga tidak tahu bahwa Lili sudah menikah dan memiliki anak yaitu kalian" Ucapnya sambil berkaca-kaca.


"Iya, bunda juga menikah dengan seorang duda beranak satu, dia seorang dokter dan dia juga bekerja di salah satu rumah sakit" Jawab Jauhar.

__ADS_1


"Bang kita pulang yu, lagian hujannya juga udah reda" Sela Gauhar yang tiba-tiba datang.


Bersambung


__ADS_2