
Sarah merasa sedih dengan sikap putri bungsunya, tidak seperti kedua kakaknya yang dekat dengan kedua orang tuanya.
Hanya Yasmin yang dekat dengan papanya, mangkannya Yumna selalu mengejek dengan sebutan anak papa.
"Sudah tidak apa-apa, ayo sayang. Mas aku akan menemani Yumna dulu, tidak apa-apa kan?" Ucap Sarah tidak enak, karena akhir-akhir ini dia sibuk mengurus anak-anaknya.
"Iya tidak apa-apa, pergilah temani Yumna kasian dia jika sendirian. Jika ada hal yang serius segera beritahu aku, dan Yumna jika kamu merasakan sesuatu segera beri tahu mamamu" Ucap Akhtar, agar jika ada sakit yang serius bisa langsung ditangani.
"Iya pa, ayo ma" Jawab Yumna pada papanya, dan mengajak mamanya untuk ke kamarnya.
Setelah mereka pergi Akhtar menasehati Yasmin dengan lembut.
"Sayang, kau tidak boleh bersikap seperti itu pada mama mu. Yang di katakan kakakmu benar jika kau tidak boleh berbicara dengan nada tinggi pada orang yang lebih tua siapapun itu, apalagi kalau kau sampai membentaknya. Yas tahu, kalau seorang ibu lebih sakit dibentak anaknya dari pada melahirkan anaknya, kau tidak melihat tadi raut wajah mama mu jadi sedih dengan sikap mu" Ucap Akhtar memberikan pengertian pada si bungsu.
Yasmin yang duduk dengan tegak menundukan kepalanya merasa bersalah, seharusnya dia membuat mamanya sedih dengan sikapnya.
"Maaf pa, Yasmin tidak akan mengulanginya lagi. Dan Yasmin akan segera meminta maaf pada mama. Yasmin nyesel pa gimana nanti kalau mama gak mau membuatkan makanan kesukaan Yasmin" Jawab Yasmin sedih.
Yasmin akan makan masakan mamanya dari pada ART dirumahnya karena masakan sang mama tidak ada duanya. Dia sangat menyesal dengan sikapnya pada mama nya.
Cup
"Ya sudah temui mama dan kakak untuk meminta maaf, setelah itu kamu istirahat" Ucap Akhtar dengan mengecup kening Yasmin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Kamar Safa
"Aku ga nyangka ternyata kalian kenal keluargaku" Ucap Safa yang duduk diatas kasur miliknya.
"Gue juga ga nyangka ternyata om Akhtar papa lo dan grandma nenek lo" Jawab Tessa yang duduk di sofa yang ada dikamar Safa.
"Iya, jadi seneng deh temenan sama orang yang kenal kita" Sahut Tania yang duduk di sebelah Safa.
__ADS_1
"Oh iya fa, gue penasaran kenapa nyokap lo orangnya khawatiran gitu?" Tanya Tessa dengan serius.
Bughh
"Aduh, lo apa-apaan sih Tan" Ucap Tessa kesal karena Tania melemparkan bantal.
"Lo yang apa-apaan, baru juga kenal Safa udah kepo sama keluarganya" Jawab Tania
"Iya fa gue juga penasaran sama yang dikatakan Tessa, hehe" Ucap Tania tanpa bersalah sambil cengengesan.
"Ohh ya ampun, tadi lo ngatain gue kepo, lah lo sendiri apa kabar" Jawab Tessa yang sudah bergabung dengan Tania dan Safa yang duduk diatas kasur.
"Entahlah, aku juga ngga tahu. Yang jelas rasa khawatir itu muncul ketika aku pulang dari asrama. Waktu itu mulai menutup diri dan membuat semua orang khawatir dengan sikapku terutama mama. Mama adalah orang yang paling peka akan orang yang di sayanginya atau orang-orang yang bekerja di rumah ini. Jika salah satu di antaranya diam, lesu, tidak ada semangat dalam menjalani aktivitas, mama akan menanyakan langsung kepada orangnya. Mengapa? Apa yang terjadi?. Begitulah mama, termasuk aku mama selalu bilang bahwa ketika aku nikah nanti aku harus tinggal dengannya. Mama kaya takut banget kehilangan aku. Padahal kan aku kan masih tinggal dirumah ini"Ucap Safa dengan panjang lebar.
"Itulah artinya seorang ibu, bahkan ada pepatah yang mengatakan lebih baik ditinggal mati ayah nya dari pada ibunya. Karena ibu bisa menjadi sosok ayah sedangkan ayah tidak bisa menjadi sosok ibu" Jawab Tessa.
"Kau benar Tess, aku juga pernah mendengar hal itu. Tapi aku selalu berdo'a agar kedua orang tuaku panjang umur" Ucap Safa dengan pandangan lurus kedepan.
"Ini udah sore fa, kita balik dulu yah. Nanti lain kali kita main lagi, kali-kali lo main ke rumah kita yah, atau nanti kita jalan-jalan ke mall ke atau kemana, biar kagak jenuh gitu" Ucap Tessa.
"Iya nanti aku yang akan main ke rumah kalian, aku juga ingin mengenal keluarga kalian" Jawab Safa. "Ayo aku antar ke depan" Ucapnya lagi.
"Mau aku panggilin yang lainnya?" Tanya Safa kepada temannya karena ingin pamit pulang tapi rumah terlihat sepi.
"Tidak usah, takutnya mereka sedang beristirahat, sampaikan saja salam kami pada keluarga mu" Ucap Tania.
"Baiklah, kalian hati-hati dijalan ya jangan ngebut" Teriak Safa karena kedua temannya sudah masuk ke dalam mobil.
"Baiklah, bye" Teriak Tessa sambil melambaikan tangan kearah Safa.
"Pada kemana semua orang? Mungkin benar yang dikatakan Tania kalau mereka sedang beristirahat" Gumam Safa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di kamar Yumna
"Ma temeni Yumna ya, Yumna gak mau sendirian" Ucap Yumna dengan mata berkaca-kaca.
Karena setiap Yumna sakit pasti dia selalu minta tidur ditemani, bukan hanya dengan mamanya saja, pasti akan minta di temani Tananya atau neneknya, karena papanya selalu sibuk dikantor jadi Yumna tidak pernah ingin merepotkan papanya.
"Iya sayang, mama akan temani Yumna tidur. Mama gak akan kemana-mana ko" Jawab Sarah yang berada di samping Yumna yang sedang berbaring sambil mengusap kepalanya.
"Apa yang kamu rasakan? Atau kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Sarah.
"Tidak ma, aku hanya ingin tidur saja kepala ku pusing" Jawab Yumna sambil memejamkan matanya.
"Ya sudah kamu tidur saja, bira mama yang pijat kepalamu" Ucap Sarah sambil mulai memijat kepala Yumna.
Tok
Tok
Ceklek
"Masuk" Sahut Sarah dari dalam kamar Yumna.
Yasmin membuka pintu dan menghampiri mamanya dengan pipi yang sudah basah oleh air mata, karena sejak tadi dia menangis. Sampai berfikir bagaimana cara meminta maaf pada mamanya dan bagaimana jika mamanya tidak mau memaafkan dirinya.
Sarah bingung melihat Yasmin menangis, karena sejak tadi Yasmin terlihat biasa saja.
Yumna yang melihat Yasmin duduk dihadapan mamanya hanya diam. Karena Yumna tahu bahwa Yasmin akan meminta maaf karena menyesal dengan sikapnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Sarah ketika berhenti memijat kepala Yumna.
"Ma-ma" Ucap Yasmin sambil menangis tersedu-sedu sambil menghambur kepelukan mama nya dan Sarah pun membalas pelukan anaknya, Yumna yang melihat itu langsung mendudukkan dirinya.
"Ada apa? Mengapa kau menangis?" Tanya Sarah dengan mencoba melepas pelukan tapi susah karena Yasmin memeluknya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Ma, hiks hiks hiks. Maafin Yasmin ma" Ucap Yasmin dengan isak tangis.
Bersambung