
Akhtar hanya diam saja dia bingung harus menjawab apa pada istrinya. Dan dari mana maminya tahu tentang keributan aku dan Safa saat dikantor. Apa Farah yang memberitahu maminya itu, tapi entahlah siapapun itu dia tidak peduli yang jelas bagaimana cara menjawab pertanyaan istrinya agar dia tidak salah paham.
"Sar dengar, mami tidak pernah membedakan kasih sayang antara anak dan menantu, mami sudah menganggapmu sebagai anak mami sendiri, pastinya mami juga akan menegur mu bila salah. Jika Akhtar salah mami akan memarahinya dan membelamu begitupun sebaliknya. Tapi kali ini mami benar-benar marah pada kalian berdua, mami sangat kecewa dengan sikap kalian ini. Dan kau Akhtar apapun yang terjadi, seharusnya kau ceritakan pada istrimu besar atau kecilnya suatu masalah. Dan kau juga harus menerima akibatnya saat kau bercerita entah Sarah marah atau kecewa terhadapmu hadapilah jangan jadi seorang pengecut. Lihat putrimu Safa dia menyanyakan sesuatu dan dia menerima akibatnya dengan cara kau membentaknya dan menyuruhnya untuk pergi dari kantormu, seharusnya kau menjelaskan yang sebernarnya dengan perlahan, jangan karena kau benci dan dendam terhadap seseorang membuat dirimu dikelilingi amarah, dan malah melampiaskannya pada Safa. Kau ini seorang ayah harusnya lebih bijak lagi dalam bersikap, bertindak dan saat mengambil keputusan. Mami bicara begini juga karena mami sayang pada kalian, mami ingin keluarga kita seharmonis dulu. Seandainya papi ada disini dia juga akan kecewa terhadapmu Akhtar"Ucap dan nasehat dari Humita
Afsana memeluk maminya dari samping untuk menguatkanmya agar tidak menangis.
"Kau tahu Sarah, bahwa Safa telah mengetahui kebenarannya tentang siapa dirinya" Ucap Farah.
DEG
Sarah terkejut dan langsung menatap kearah Farah, dia juga melihat kearah maminya yang menganggukkan kepalanya, saat dia melihat kearah Akhtar yang hanya memalingkan wajahnya kearah lain. Afsana ikut terkejut karena di juga baru tahu tentang masalah ini.
"Dia mengetahui itu semua ketika dia berusia 15 tahun. Setelah dia mengetahui semuanya dia memutuskan untuk bersekolah asrama dan mungkin itu satu-satunya cara agar dia menjauh dari kalian untuk sementara waktu. Dia juga merasa bersalah atas apa yang terjadi pada kakeknya apalagi pada Afsana. Apa kau tahu Afsana? Safa sangat menyayangimu meskipun kau bersikap buruk padanya tapi dengan kau meminta maaf atas sikapmu waktu dulu dia langsung bisa menerima mu tanpa memikirkan sikapmu yang pernah mengabaikannya"Ucap Farah menceritakan semuanya yang pernah Safa ceritakan padanya.
"Dan apa kalian berdua tahu? Safa juga sangat menyayangi kalian berdua, menyayangi kedua adiknya walau berbeda ibu. Tapi ketika dia bertanya padamu tentang Dania kau malah memarahinya. Safa juga akan menerima ibu kandungnya jika dia kembali untuk meminta maaf, dia tidak akan pernah benci pada Dania, karena baginya Dania tetaplah ibu kandungnya. Karena apa? Karena jika suatu saat kalian sudah tidak menyayanginya lagi, maka dia punya bahu untuk bersandar yaitu kembali menerima Dania sebagai ibunya"Ucap Farah menatap kearah Sarah dan Akhtar secara bergantian
Sarah, Akhtar dan Afsana terkejut mendengar cerita Farah tentang Safa. Sarah dan Akhtar semakin merasa bersalah jika dia terus-menerus mengenangnya. Sedangkan Afsana dia sudah menangis ketika mendengar bahwa Safa tidak ikut membencinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini dikampus Safa, Tania dan Tessa sedang berada dikantin untuk makan, karena jam sudah menunjukan untuk waktu untuk istirahat.
"Safa" Panggil Tania yang melihat Safa melamun namun Safa tidak menengoknya.
"Safa" Kali ini Tessa yang memanggilnya dengan sedikit keras agar terdengar oleh Safa.
"Ehh iya ada apa?" Tanya Safa melihat kearah Tessa dan Tania.
__ADS_1
"Harusnya kita yang nanya lo kenapa?" Tanya Tessa.
"Mm, aku gak apa-apa, kalian tenang saja" Jawab Safa mencoba tersenyum.
Ketika mereka bertiga mengobrol tiba-tiba geng nya Jauhar menghampiri mereka bertiga dan ikut bergabung untuk makan, karena semua bangku sudah penuh oleh mahasiswa dan para dosen.
"Hay sayang boleh gak kita gabung disini bersama kalian?" Tanya Gibran menaik turunkan alisnya sambil menatap Tessa dan menggodanya dengan memanggil sayang.
"Kalau mau gabung ya boleh aja, tapi gak usah manggil gue sayang juga. Geli gue dengernya" Jawab Tessa dengan memutar bola matanya.
"Cie cie dipanggil sayang. Gue do'ain semoga kalian berjodoh. Amiinn" Goda Tania mengangkat kedua tangannya untuk berdoa dan mengusapkan pada wajahnya.
"Diem lo" Ucap Tessa dengan tatapan tajam.
"Amiinnn" Jawab semuanya.
"Gak boleh gitu Tess. Jodoh kan ga ada yang tahu" Ucap Safa.
"Kita gak akan disuruh duduk nih" Ucap Daffa menengahi mereka sebelum ribut kembali.
"Ehh iya sorry. Kalian duduk aja ga ada yang larang ini" Ucap Safa.
Ekspresi Jauhar hanya biasa saja, dia orang yang irit ngomong jika dikampus. Tapi jika dirumah gak usah ditanya lagi petakilan nya minta ampun, orangnya sangat jail pada keluarganya terutama pada kakak dan iparnya tapi kadang adiknya juga kena dengan kejahilan dia.
"Oh iya Saf, kalau boleh tahu selama beberapa hari kemarin lo kemana kok gue ga liat lo dikampus?" Tanya Baim sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Kepo banget sih lo jadi orang" Ucap Tessa tanpa melihat Baim.
__ADS_1
"Gue bukannya kepo. Tapi yang onoh noh selalu galau kalau gak ada Safa" Ucap Baim menunjuk Jauhar dengan matanya.
Ketiga perempuan itu terkejut dengan apa yang dikatakan Baim.
"Gue rasa, bukan hanya Tessa yang akan dipacari oleh Gibran, tapi kayanya orang yang disebelah gue juga akan menyusul lo deh Tan" Ucap Tania.
Uhuk
Uhuk
Safa dan Jauhar tiba-tiba tersedak oleh makanannya. Dan tiba-tiba Safa diberi air oleh Tania yang duduk bersebrangan dengan dirinya, begitu juga dengan Jauhar yang diberikan air oleh Gibran yang berada disebelahnya.
"Tuh kan dugaan gue bener, keselek aja sempet-sempetnya barengan. Haha" Goda Tania sambil tertawa.
"Safa yang sabar ya jika berteman dengan ibu tiri, memang begitu orangnya rada-rada" Ucap Daffa sambil melirik kearah Tania.
"Apa yang lo bilang barusan hah? ngatain gue ibu tiri dan bilang kalau gue rada-rada, lo yang gila kampret" Kesal Tania sambil berdiri dari duduknya sambil menunjuk Daffa
"Lu yang gila, temen lo keselek kasih minum ke kan lu yang deket malah digodain. Gak gila gimana coba" Ledek Daffa.
"Haha sukurin" Ucap Baim sambil tertawa.
"Domba dilarang ikut campur" Ucap Tessa dan Baim akan diam jika Tessa menyebutnya dengan sebutan domba
Tessa memang selalu memanggil Baim dengan sebutan domba, karena Baim memiliki rambut yang kriting.
Bersambung
__ADS_1