Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #53


__ADS_3

"Gatau" Jawab Zena.


"Nanti mommy minta izin daddy dulu" Jawab Risa.


"Mommy?" Ucap Safa bingung.


"Kalau Yas panggil mommy sedangkan Jauhar manggil kakak, trus Safa harus manggil apa?" Tanya Safa bingung.


Humita yang peka langsung tahu.


"Hmmm nenek tahu, kalian sudah pacaran kan?" Tanya Humita dengan senyum yang menggoda.


"Iya" Jawab JauharJauhar malu-malu, sedangkan Safa hanya menundukkan kepalanya.


"Bagaimana kak?" Tanya Jauhar meminta persetujuan kakaknya.


"Kalau dengan yang ini kakak setuju Ja" Jawab Risa.


"Zena juga setuju uncle, dari pada dengan orang yang bernama Shelyn. Ihhh Zena ga suka dengannya" Ucap Zena kesal.


"Iya kan mom" Ucap Zena.


"Iya sayang" Jawab Risa menyetujui ucapan Zena.


"Jadi Safa harus memanggil apa?" Tanya nya lagi.


"Senyaman nya kamu aja sayang" Jawab Humita.


"Ahhh kenyang sekali" Ucap Yasmin sambil mengelus perutnya.


"Engga kenyang gimana orang kamu makan ayam nya 2" Ucap Yumna.


"Terserah Yasmin dong kak orang Yas laper" Jawab Yasmin dengan sewot.


"Bukan laper tapi doyan" Cibir Yumna.


"Udah udah kalian ini ngga di mana-mana selalu saja bertengkar" Lerai Sarah.


"Kakak duluan ma" Ucap Yasmin. Sedangkan Yumna diam saja tidak menanggapi.


Setelah selesai makan, saat ini mereka melanjutkan mengobrol diruang keluarga setelah makan siang.



"Yumna bawa Yas dan Zena ke kamar dan kamu temani mereka" Titah Humita.

__ADS_1


"Iya nek, ayo Yas Zen" Ajak Yumna. Keduanya pun mengikuti langkah Yumna.


Setelah Ketiganya pergi Humita pun ingin mengobrol lebih jauh tentang Risa.


"Apa kalian berdua ingin mendengarkan cerita?" Tanya Humita melirik pada Safa dan Jauhar secara bergantian.


"Tentu saja nek, Safa kan gatau siapa kakak ini" Jawab Safa.


"Baiklah, nenek pernah cerita kan kalau nenek punya sahabat dan adik. Risa ini salah satu anak dari sahabat nenek yang bernama Amira" Ucap Humita, sedangkan Safa hanya manggut-manggut


"Ayo ceritakan bagaimana semua ini bisa terjadi" Ucap Humita pada Risa.


"Mami tahu kan kejadian antara papi dan bunda, waktu itu bunda sudah melahirkan seorang bayi perempuan, bunda meminta mama yang memberikan nama pada bayi itu. Mama memberikan nama Saira Rahmani, bagaimana pun anak itu adalah anaknya papi. Tapi bunda menambahkan satu nama di tengah-tengah nya menjadi Saira Qirani Rahmani. Setelah usia Saira 4 tahun, bunda pergi meninggalkan kami. Mama pergi ke rumah mami Anin untuk memberikan Saira, bukan mama tidak mampu mengurus, tapi karna mami dan papi lebih berhak. Mami pun menerima Saira dengan sepenuh hati, dalam perjalanan pulang papa lepas kendali dalam berkendara dan mobil kami pun mengalami kecelakaan yang cukup parah, kami dibawa oleh orang sekitar ke rumah sakit, saat dirumah sakit nyawa mereka sudah tidak tertolong" Tutur Risa menahan tangisnya.


Mereka semua yang mendengarkan cerita Risa sedih dan tidak menyangka. Apalagi saat ini fikiran Humita tertuju pada Lili.


"Mami ingin bertemu dengan Lili" Ucap Humita setelah mendengarkan cerita Risa.


DEG


"Un-untuk apa?" Tanya Risa ragu.


"Tidak untuk apa-apa, mami hanya ingin bertemu dengan nya saja tidak lebih" Jawab Humita.


Sebenarnya Humita kesal pada Lili setelah mendengar cerita Risa. Seandainya Lili tidak pergi mungkin Amira dan Dzaki saat ini masih ada bersamanya.


"Mami tidak akan melakukan apapun" Jawabnya santai.


"Ica juga marah dengan bunda tapi tidak ica tunjukkan. Tapi Ica sudah ikhlas dengan kepergian mama dan papa. Apa lagi Saira dia tidak tahu kebenarannya" Lirih Risa.


"Mami berharap jika Saira tahu, dia akan membenci Lili" Kesal Humita.


"Mi jangan bicara seperti itu" Ucap Sarah.


"Jadi kak Saira itu kakak aku walau berbeda ayah?" Tanya Jauhar.


"Iya Ja, maaf kakak tidak memberitahu mu. Dan kakak juga tidak memberitahu keluarga kita tentang kecelakaan orangtua kakak" Ucap Risa.


"Iya kak tidak apa-apa" Jawab Jauhar


"Ja apa bunda mu ada di rumah?" Tanya Humita pada Jauhar.


"Hari ini tidak ada mi, mungkin lusa bunda akan kembali" Jawab Jauhar.


"Ya sudah setelah Lili kembali mami ingin langsung bertemu dengannya. Bawa dia kemari atau aku yang akan menemuinya" Ucap Humita.

__ADS_1


Risa dan Afsana saling tatap, mereka berdua takut jika maminya akan melakukan sesuatu pada bundanya. Bagaimana pun juga Humita akan memberikan pelajaran pada orang yang telah melakukan kesalahan walau orang itu adalah orang terdekatnya.


"Nanti aku akan membawa bunda kemari" Ucap Jauhar.


"Mami akan menunggunya" Jawab Humita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mansion para orang tua telah kembali dari luar kota.


"Assalamu'alaikum" Ucap ke empatnya.


"Walaikumsalam, nyonya tuan. Selamat datang kembali ke rumah ini" Jawab Nani dengan ramah menyambut majikannya.


"Mba nani ini kenapa masih pake embel-embel nyonya sih, panggil saja Lili" Kesal Lili.


Nani adalah orang yang bekerja di keluarga Rahmani selama puluhan tahun. Jelas Lili tahu dan dia tidak suka dia memanggilnya nona.


"Turuti saja mba Nani dia memang seperti itu" Ucap Anin.


"Baiklah Lili, apa kau puas?" Tanya Nani.


"Hehe" Bukannya menjawab Lili malah cengengesan.


"Dimana anak-anak mba?" Kali ini bukan suara wanita yang bertanya tapi suara bariton dari seseorang yang berdiri di belakang Anin dan Lili.


"Risa sedang mejemput Zena tuan, sedangkan yang lainnya pada bekerja dan sekolah, hanya ada Alya yang berada di rumah, dia sedang ada di kamarnya tuan" Jawab Nani.


"Kalau begitu tolong panggilkan Alya mba, kami sangat merindukannya. Entah kenapa akhir-akhir ini kami terus saja memikirkan Alya" Ucap Anin.


"Apa kalian tidak akan makan dulu?" Tanya Nani sedikit gugup dengan mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang sedang kau sembunyikan?" Tanya Indra dengan memicingkan matanya. Indra adalah suami dari Lili.


"Jangan kira aku bodoh, dengan melihat kegugupan mu sudah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di rumah ini" Ucapnya lagi.


"Apa benar itu mba?" Tanya Lili.


"Indra benar, aku merasa ada yang tidak beres yang terjadi di rumah ini. Karena sudah lama anak-anak kami tidak menelpon" Ucap Ibrahim.


"Mba Nani jangan bikin kita khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi" Tanya Anin dengan gelisah.


"Maaf tuan nyonya, saya tidak bermaksud untuk menyembunyikan apa yang terjadi di rumah ini dari kalian. Tapi sepertinya saya tidak berhak untuk mengatakan semuanya" Jawab Nani sambil menundukkan wajahnya.


"Berapa lama kau bekerja di rumah ini mba? Sudah lama bukan, lalu kenapa kau merasa asing hanya dengan mengatakan hal itu. Kau ini sudah seperti keluarga bagi kami, kau juga bertanggung jawab atas anak-anak kami jika kami pergi" Ucap Anin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2