
"Sabar mi, kita berdo'a saja pada yang diatas. Semoga Safa baik-baik saja dan semoga dia bisa melewati masa kritisnya" Ucap Afsana menenangkan maminya.
Diruangan dimana Sarah dibaringkan dan mulai membuka matanya dengan pelan dan melihat kearah samping dimana suaminya berada dengan mata yang masih sembab.
"Safa, hiks hiks" Lirih Sarah.
"Tenanglah Safa akan baik-baik saja, Safa kita dia adalah anak yang kuat dia pasti bisa melewati semua ini" Ucap Akhtar bangun dari duduknya dan memeluk istrinya.
"Aku ingin menemui Safa" Ucap Sarah pelan dan bangun dari tidurnya.
"Pulihkan dulu keadaanmu, baru kita akan menemui Safa" Ucap Akhtar, dia juga khawatir dengan keadaan istrinya.
"Tapi aku ingin melihat keadaan putriku" Ucapnya memohon.
"Hmm baiklah" Jawab Akhtar tidak tega.
Sarah keluar dari ruangannya dan berjalan ke ruangan Safa, dia berdiri di depan ruangan Safa dan melihat keadaan Safa dari luar jendela. Hatinya merasa sesak melihat putrinya terbaring lemah dengan alat yang menempel pada tubuhnya.
"Safa" Lirih Sarah.
Akhtar yang berada disampingnya terus merangkul istrinya agar kuat.
"Sarah" Panggil Humita sambil memegang pundak Sarah.
"Mami, Safa mi hiks hiks" Ucap Sarah saat berbalik menghadap mami mertuanya dan memeluknya.
"Yang kuat sayang, kita do'akan Safa semoga dia bisa melewati semua ini, semoga Allah memberi kekuatan juga untuk kita menghadapi semua ini" Ucap Humita membalas pelukan menantunya.
"Bunda" Panggil Tania yang dimana Farah sedang berjalan ke arahnya dan Tania langsung memeluknya.
"Sudah sudah, bunda yakin Safa akan baik-baik saja. Percaya sama bunda" Ucap Farah menguatkan anaknya.
Farah juga sangat sedih mendengar bahwa Safa kecelakaan. Farah berfikir bahwa Safa kepikiran dengan hal yang Safa ingin ketahui. Farah menduga kalau Safa pergi ke kantor Akhtar untuk menanyakan hal tersebut karena pada saat Tania menelpon kalau tempat Safa kecelakaan searah dengan kantor Akhtar.
"Mi bagaimana keadaan Safa?" Tanya Farah yang mendekat kearah Humita yang memeluk Sarah.
"Farah, Safa mengalami kritis" Jawab Humita sedih.
Farah sedih saat mendengar bahwa Safa kritis. Lalu pandangannya tertuju ke arah Akhtar, Akhtar yang melihat tatapan Farah seolah tahu bahwa Farah seperti mengetahui tentang Safa dan dirinya.
"Aku ingin bicara dengan mu, tapi tidak disini" Ucap Farah menatap Akhtar yang berada di belakang Humita.
__ADS_1
"Baiklah" Jawab Akhtar mengikuti langkah Farah dari belakang.
Sarah tidak perduli dengan apa yang akan Farah bicarakan pada suaminya, yang jelas saat ini fikiran tertuju hanya pada putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditaman rumah sakit seorang wanita dan pria sedang membicarakan hal yang sangat serius. Iya siapa lagi kalau bukan Farah yang mengajak Akhtar untuk bicara.
"Mengapa kau mengajak ku berbicara ditempat sepi ini?" Tanya Akhtar mengerutkan keningnya.
"Agar tidak ada orang yang mendengar pembicaraan kita" Jawab Farah ketus.
"Apa yang kau bicarakan pada Safa sebelum dia kecelakaan?" Tanya Farah tegas.
"A-apa maksudmu, aku tidak mengerti apa yang kau tanyakan" Ucap Akhtar sedikit gugup.
"Huh, sudahlah aku sudah tahu semuanya. Safa datang ke kantormu kan?dan bagaimana caramu menjawab ketika Safa bertanya siapa Dania?" Tanya Farah tanpa menatap Akhtar.
Mata Akhtar membulat karena kaget dengan apa yang diketahui oleh Farah.
"Kau pasti bertanya bagaimana aku tahu" Ucapnya lagi.
"Kau yakin bahwa kau tidak membentaknya?" Tanya Farah dengan memicingkan mata kearahnya.
"Maaf" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Akhtar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Atmaja House...
"Assalamu'alaikum" Ucap Yumna dan Yasmin saat memasuki rumah.
"Kok rumah pada sepi ya ka? Orang-orang pada kemana?" Tanya Yasmin pada Yumna.
"Kakak ga tahu Yas, kan kakak juga baru datang" Jawab Yumna.
"Oh iya Yasmin lupa, kan kita dateng barengan hehe" Ucapnya sambil cengengesan.
"Kamu ini ada-ada aja, ya udah kita ke kamar dulu untuk ganti pakaian setelah itu balik lagi ke bawah" Ucapnya dan diangguki oleh Yasmin.
Setelah berganti pakaian di kamarnya masing-masing, mereka berdua turun dan mencari orang untuk menanyakan dimana keberadaan keluarganya.
__ADS_1
"Bi Yuni, semua orang pada kemana bi. Tadi Yas coba cari-cari di kamarnya pada ga ada? " Tanya Yasmin pada Yuni.
"Bibi juga ga tahu non, tadi sih nenek dan mamanya non bilangnya mau ke Rumah sakit karena Tana yang menyuruhnya datang" Jawab Yuni.
"Oh kirain pada kemana. Soalnya ga biasanya ni rumah sepi" Ucapnya lagi.
"Non mau makan sekarang, biar bibi siapkan" Tanya Yuni.
"Gak usah bi hari ini Yumna ga nafsu makan" Ucap Yumna sedih.
Karena pada saat kejadian Safa, Yumna merasa sedih tapi entah kenapa dia juga tidak tahu.
"Sama bi Yasmin juga tiba-tiba gak nafsu, tadi aja diajakin makan siang sama temen, Yasmin tolak. Biasanya kan Yasmin ga pernah nolak kalau diajak makan, hehe" Ucap Yasmin.
"Yasudah jika butuh apa-apa, panggil saja bibi ya" Ucapnya sambil meninggalkan mereka berdua.
"Iya bi" Jawabnya serempak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali kedalam rumah sakit
Sarah, Humita, dan Tania sedang duduk, sambil menunggu perkembangan dari Safa. Mereka semua belum bisa menemui Safa karena Safa masih harus diperiksa setiap waktunya agar keadaannya menjadi stabil.
Tiba-tiba salah satu suster berlari keluar dari ruangan dan memanggil beberapa perawat lain untuk membantunya. Sarah yang melihat itu langsung berdiri dan menanyakan keadaan Safa diikuti oleh Humita dan Tania.
"Suster suster, bawa obat dan beberapa alat untuk membantu perkembangan pasien didalam, cepat dokter Afsana sedang membutuhkan kalian" Ucapnya dengan nafas terengah-engah.
"Suster ada apa? Apa yang terjadi pada putriku? Aku ingin masuk dan melihat keadaan putriku" Tanya Sarah panik dan berusaha untuk masuk kedalam ruangan Safa.
"Maaf bu kami tidak bisa membiarkan anda untuk masuk kedalam, karena kami sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena pasien di dalam mengalami kejang-kejang dan keadaannya semakin lemah" Tutur suster tersebut sambil kemabli kedalam ruangan.
Bughh
"Sarah, Tante" Teriak Humita dan Tania barengan.
Sarah kembali pingsan, dia merasa sangat terpukul jika Safa mengalami ini. Jika boleh memilih lebih baik dirinya yang sakit daripada putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didalam ruangan Afsan terus melakukan penanganan yang terbaik untuk Safa. Dia juga tidak ingin jika keadaan Safa semakin buruk.
"Dok, bagaimana ini? Pasien semakin lemah, dia seolah-olah sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya" Ucap Mira.
__ADS_1
Bersambung