
"Mas, kamu duluan saja yang bersih-bersih, biar aku yang jaga Safa" Ucap Sarah pada suaminya.
"Baiklah" Jawab Akhtar sambil berlalu ke kamar mandi.
Ceklek
Pintu ruangan Safa dibuka oleh Afsana dan Mira untuk memeriksa keadaan Safa. Afsana menghampiri Safa lalu mencium keningnya dengan sangat lama, air matanya pu jatuh tanpa diminta. Safa yang tahu jika Afsana sedang menangis langsung mengusap tangan Afsana, menandakan bahwa dia baik-baik saja.
"Safa gak papa Tana" Ucap Safa tersenyum.
Kemudian Afsana mengelus kepala Safa dengan senyum bahagia karena Safa sudah sadar.
"Tana periksa dulu ya" Ucap Afsana sambil menempatkan stetoskop didada Safa.
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Afsana ketika selesai memeriksa.
"Safa merasa lebih baik, cuma masih sedikit pusing" Ucap Safa sambil memegang kepalanya.
"Apakah tidak apa-apa?" Tanya Sarah khawatir.
"Tidak apa-apa, itu salah satu efek karena Safa kelamaan tertidur. Dan nanti setelah pulang dari sini kalau bisa jangan dulu melakukan aktivitas, karena Safa harus benar-benar istirahat total" Tutur Afsana.
"Tapi nanti bagaimana dengan kuliah Safa?" Tanya Safa sedih.
"Nanti akan papa pikirin soal itu, yang jelas Safa harus istirahat" Ucap Akhtar yang sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru.
"Tapi paa... " Ucapnya terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian sayang, kau ingin membuat mamamu khawatir" Ucap Akhtar dengan menatap ke arah istrinya, Safa pun dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menatap kearah mamanya.
"Maaf ma" Ucap Safa.
"Tidak apa-apa sayang. Kalau begitu mama akan bersih-bersih dulu. Tidak apa-apa kan mama tinggal sebentar" Ucap Sarah, menggoda Safa.
"Ya Allah ma, disini juga ada papa, tana, dan aunty Mira yang jagain Safa" Jawab Safa pura-pura kesal, karena ibunya itu terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan dirinya.
"Hmmm, baiklah baiklah" Ucapnya sambil berlalu masuk ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tessa dan Tania sampai ditempat yang mereka tuju, yaitu rumah sakit dimana Safa dirawat.
Pada saat mereka sampai depan ruangan Safa, ternyata ruangan itu kosong.
__ADS_1
"Lho ko ruangannya kosong, lo bilang Safa diruangan ini" Ucap Tessa sambil melirik keseluruh ruangan tersebut.
"Iya emang kemarin diruangan ini, bentar gue tanyain ke susternya dulu" Ucap Tania.
"Sus, maaf mengganggu. Saya mau tanya pasien yang ada diruangan ini kemana ya?" Tanya Tania ramah, kebetulan ada suster yang lewat jadi dia tidak perlu mencari.
"Oh pasien tersebut sudah dipindahkan dilantai 3" Jawab suster tersebut.
"Baik, Terima kasih Sus" Ucap Tania.
"Sama-sama" Jawabnya sambil meninggalkan mereka berdua.
Setelah tahu ruangan Safa tanpa menunggu lagi mereka bergegas naik ke lantai 3.
Ceklek
"Assalamu'alaikum" Ucap Tania menyembulkan kepalanya dan memastikan bahwa Safa ada diruangan tersebut.
"Walaikumsalam" Jawab Akhtar.
"Kalian tidak kuliah?" Tanya Akhtar yang kaget karena tiba-tiba Tessa dan Tania.
"Hehe" Jawab Tessa cengengesan.
"Tessa yang ngajak bolos pa, Tania hanya ngikut aja kok" Jawab Tania menyalahkan Tessa karena dirinya tidak ingin kena omel.
Tessa dan Tania mendekat kemudian memeluknya di samping kiri dan kanan Safa.
"Heh kau tidak perlu mengalihkan pembicaraan papa ya" Ucap Akhtar mendekat kearah Tessa dan menjewernya.
"Awwww" Pekik Tessa.
"Ampun pa, lepasin telinga Tessa Aduuhhh bisa-bisa copot telinga Tessa dari tempatnya" Ucap Tessa meringis kesakitan.
"Mas, kamu apa-apaan sih" Ucap Sarah yang keluar dari kamar mandi langsung menghentikan suaminya yang menjewer telinga Tessa.
"Kamu ngga apa-apa kan sayang?" Tanya Sarah sambil melihat kearah telinga Tessa.
"Ya, ampun mas lihat sampai merah begini, kamu ini keterlaluan" Ucap Sarah kesal.
"Hehe maaf. Habisnya ni bocah udah bolos lagi kuliah" Jawab Akhtar.
"Ya tapi kan jangan kamu jewer juga, ini anak orang mas. Gimana nanti ada yang jewer Safa kamu mau" Ketua Sarah.
__ADS_1
"Iya maaf. Maaf ya Tess, lagian kamu bandel sekali sih, kalau keluarga kita ada masalah atau apapun itu kalian berdua harus tetap kuliah. Kan bisa pulangnya kalian mampir kesini" Ucap Akhtar.
"Iya pa maaf, lagian Tessa juga baru tahu kalau Safa dirawat. Janji deh ga ngulangi lagi" Ucap Tessa.
"Iya, sayang lain kali jangan begitu. Pendidikan itu lebih penting, jika besar nanti kalian mau jadi apa. Mama harap kedepannya kalian harus lebih giat lagi, dan mama berdo'a semoga apa yang kalian cita-citakan bisa terwujud" Ucap Sarah kepada ketiga anaknya.
"Iyaa maa" Sahut mereka bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalian sudah siap, kalau begitu kita sarapan dulu sebelum berangkat" Ucap Sarah pada Yumna dan Yasmin.
"Tidak bun, Yumna ingin langsung berangkat saja dan bertemu dengan kaka" Jawab Yumna.
"Sama Yasmin juga ingin langsung bertemu sama kakak" Sahutnya sedih.
"Huhh, yasudah kita berangkat sekarang. Yun tolong semua makanan tadi kamu masukan kedalam tupperware saya akan membawanya ke rumah sakit, takutnya mereka yang ada disana belum sarapan" Titah Humita pada Yuni.
"Baik nyonya" Jawabnya.
Tidak lama kemudian mereka pun sudah siap dengan barang yang akan mereka bawa ke rumah sakit. Mereka pun mulai meninggalkan kediamannya menuju rumah sakit.
Karena jalannya tidak begitu macet, jadi mereka dengan cepat sudah sampai rumah sakit.
"Assalamu'alaikum" Ucapnya bersamaan, karena pintu ruangan Safa tidak terlalu rapat menutupnya jadi tidak terdengar orang membuka pintu.
"Walaikumsalam" Ucap semuanya yang ada didalam ruangan Safa.
"Kakak" Panggil Yasmin sedikit berlari kearah kakanya lalu naik keatas ranjang Safa dan membaringkan dirinya di samping kakaknya.
"Ya Allah sayang hati-hati" Ucap Sarah membantu Yasmin rebahan.
Yasmin tidur di lengan Safa dengan tangannya memeluk perut Safa sambil menangis tersedu-sedu.
"Yash, kakak gak apa-apa, jadi Yas gak usah nangis yaa" Ucap Safa dengan mengelus tangan Yasmin yang memeluknya.
Yasmin tidak menjawab, dia hanya diam sambil menangis. Sarah yang berada disamping Yasmin pun ikut mengelus kepala putri bungsunya. Yumna yang tidak bisa memeluk kakaknya karena dikuasi Yasmin hanya bisa berdiri disamping kiri Safa dengan melabuhkan ciuman dikening kakanya.
Sarah sangat bersyukur, ketiga anaknya sangat akur, entahlah yang dia pikirkan hanya bagaimana jika Yumna dan Yasmin tahu jika Safa bukan terlahir dari rahimnya, apa mereka akan tetap menyayangi Safa seperti sekarang. Tapi Sarah berdo'a semoga ketiga anaknya bisa akur jika tahu kebenarannya.
Safa hanya membalas dengan senyuman saat Yumna mencium keningnya.
"Apa kakak sudah makan?" Tanya Yumna.
__ADS_1
"Kakak sudah makan ko, tadi mama yang suapin" Jawab Safa dengan memegang tangan Yumna.
Bersambung