Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #71


__ADS_3

Sarah dan Safa menghampiri Yumna karena mendengar penuturan Humita mengenai keadaan Yumna. Saat sudah mendekat dia langsung tertuju ke arah tubuh Yumna yang terluka. Sarah merasa gagal menjadi seorang ibu, bagaimana bisa putrinya mengalami hal seperti ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Safa mendekat ke arah Yumna.


"Yumna tidak apa-apa kak, ini hanya luka kecil" Jawab Yumna agar kakaknya tidak khawatir.


"Tadi di sekolah, pas kita mau masuk mobil tiba-tiba ada temennya kakak datang dan tarik tangan kakak sambil menyeretnya ke dalam sekolah. Yas dan kak Belva mencoba menolong kakak dan mau menelpon rumah, tapi temannya kakak malah mencekik kakak sampai luka lehernya nek, ma" Celetuk Yasmin sambil menundukkan wajahnya.


Yumna hanya pasrah ketika adiknya Yasmin menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Apa?" Pekik ketiganya terkejut.


"Maafin mama" Lirih Sarah memeluk Yumna sambil menangis dan berkali-kali mencium keningnya.


Sarah menangkup kedua pipi Yumna agar menatap dirinya. Sarah berharap Yumna berbicara dan mau memaafkannya.


"Aku tidak apa-apa ma" Ucap Yumna sedikit dingin membuat Sarah semakin sedih dengan sikap Yumna terhadap dirinya.


"Safa bantu Yumna mengganti pakaian" Titah Humita.


"Nek Yumna bisa sendiri ko. Oh iya nek Yumna kemari dengan Belva dia ingin berbicara dengan nenek" Ucap Yumna mengalihkan pembicaraan nya terhadap Belva.


"Setelah ini nenek ingin kamu menceritakan apa yang terjadi" Jawab Humita.


Safa mengajak Yumna ke kamarnya dan membantu mengganti pakaian. Sedangkan Belva menyalami tangan Sarah dan Humita bergantian.


"Duduk Bel" Titah Humita.

__ADS_1


"Emm nyonya... " Gugup Belva.


"Nyonya? Siapa yang kau panggil nyonya?" Tanya Humita mengerutkan keningnya.


Belva jadi bingung harus memanggil apa. Karena menurutnya dia tidak pantas memanggil seseorang yang jauh dari dirinya.


"Panggil saja nenek, sama seperti Yumna" Ucapnya lagi dengan tersenyum.


"Euh, nek. Belva cuma mau ngucapin banyak terimakasih, karena sudah membantu keluarga Belva. Dari mulai perekonomian dan kesehatan ayah Belva, tapi Belva tidak tahu harus membalas dengan apa. Jika nenek izinkan Belva akan bekerja disini dan tidak perlu digaji sebagai tanda terimakasih Belva" Tutur Belva menundukkan kepalanya dan matanya berkaca-kaca.


Humita menghampiri Belva dan duduk disampingnya. Humita memegang tangan Belva dan mengangkat dagunya agar bertatapan dengan dirinya.


"Dengar kan nenek, seharusnya nenek yang berterima kasih padamu karna sudah membantu Yumna membayar uang sekolah, jika tidak, mungkin saat ini Yumna tidak bisa mengikuti ujian di sekolah. Dan kamu tidak perlu membalas apapun, tugasmu hanya belajar dan bermain. Jangan mengorbankan masa remaja mu demi hal yang tidak penting seperti bekerja. Kau boleh bekerja tapi nanti ketika kau sudah sukses, masa sekarang harus kau habiskan dengan teman sebaya mu" Ucap Humita mengelus lembut kepala Belva.


"Terimakasih nek" Ucap Belva.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dikamar Yumna, Safa sedang membantu Yumna dari mulai mengganti pakaian dan mengobati area tubuh yang terluka.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu bisa terluka seperti ini? Siapa orang yang berani melakukan ini padamu?" Pertanyaan bertubi-tubi Safa tanyakan pada Yumna sembari mengobati luka yang di leher Yumna.


"Awww, kak pelan-pelan" Yumna meringis kesakitan ketika lukanya di obati Safa.


"Jawab saja pertanyaan kakak. Lagian ini juga kakak sudah pelan-pelan" Kesal Safa, karena Yumna tidak menjawab pertanyaannya.


"Yumna gak apa-apa kak, bukankah hal biasa jika seseorang dibully disekolah karena hal sepele" Jawab Yumna.

__ADS_1


Safa menghentikan kegiatannya dan menatap Yumna. Dia bingung apa maksud ucapan Yumna, Safa menatap mata Yumna yang sendu dan mulai berkaca-kaca.


"Ceritakan semuanya pada kakak, tanpa harus kau tutup-tutupi" Ucap Safa.


"Huh, apa yang harus aku ceritakan kak? Sudahlah kak aku tidak ingin membahas apa yang telah terjadi, lagian yang mengalami bully aku, yang sakit hati aku, yang terluka aku. Jika aku menceritakan semuanya, apa kalian bisa menyembuhkan luka yang aku alami? Apa kalian bisa membuat aku kembali tidak merasakan rasa trauma? Yang namanya trauma ga bisa sembuh kak, trauma tuh ibarat lumpuh seumur hidup. Aku sudah pasrah dengan jalan kehidupan aku ke depannya"Jawab Yumna menatap Safa sambil meneteskan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.


"Ada apa dengan mu? Apa karna kau tidak tidur dengan mama?" Tanya Safa memegang pipi adiknya.


"Mau aku tidur dengan mama atau tidak, itu tidak merubah pandangan mama terhadapku. Maksud ku, mama akan nyaman tidur dengan kakak atau Yas, tapi berbeda denganku. Aku rasa kasih sayang mama dan papa lebih besar pada kalian berdua dari pada aku. Tapi aku tidak pernah berkecil hati masalah kasih sayang mereka, toh aku juga masih punya nenek yang begitu khawatir dengan keadaanku" Jawab Yumna membalas tatapan Safa.


"Kakak tidak tahu jika selama ini kamu merasakan hal seperti itu. Kakak tidak akan menuntut kamu untuk memaafkan mama dan papa atas kesalahan yang disengaja atau tidak. Kamu sudah besar, kamu juga tahu mana yang baik dan tidak, mana yang tulus dan tidak, begitupun dengan kasih sayang seseorang mungkin kamu juga bisa menilai semua itu"Ucap Safa.


"Dan untuk kasih sayang mama dan papa, kakak kurang tahu sikap nya terhadap kita, yang kakak tahu mama dan papa sayang terhadap kita sama rata. Kamu mungkin bisa merasakan itu juga, tapi di sisi lain juga kamu merasakan sikap lainnya dari mereka" Ucap Safa.


"Kakak hanya ingin mendengarkan cerita darimu masalah bully. Jika kamu tidak ingin membahasnya tidak apa-apa" Ucap Safa.


"Aku di bully karna aku meminjam buku di perpustakaan...... " Cerita Yumna.


Yumna menceritakan semua masalah dari uang SPP dan buku yang ia pinjam. Dia tidak menceritakan tentang dirinya yang disebut cacat oleh Mikayla.


"Jika mama atau papa belum membayar uang sekolah dan kebutuhan kamu yang lainnya. Kan kamu bisa bilang sama kakak, kakak juga punya uang simpanan untuk sewaktu-waktu butuh. Lain kali kalau butuh sesuatu, jika kamu sungkan pada mama dan papa beritahu kakak, atau kakak yang akan datang ke sekolah untuk menanyakan apa yang harus dibayar dan tidak" Ucap Safa.


"Iya kak, maafin Yumna. Yumna kurang terbuka akhir-akhir ini. Karena mungkin masalah keluarga kita juga datang silih berganti" Jawab Yumna sendu.


"Tidak apa-apa, ayo kita kebawah untuk makan siang bersama. Mungkin mereka semua sudah berkumpul di sana" Ajak Safa pada Yumna.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2