
"Gue bener-bener ga tahu Mik apa yang lo katakan" Jawab Yumna.
Agar tidak meronta-ronta dan kabur kedua teman Mika memegang Yumna di sebelah kanan dan kiri. Teman Mika bernama Sita dan Naysa.
"Jangan pura-pura bego deh lo, lo tahu apa yang terjadi dengan perusahaan keluarga gue. Gara-gara keluarga lo perusahaan milik Barrah membatalkan kerja sama dengan perusahaan bokap gue. Gara-gara keluarga lo juga perusahaan bokap gue diambang kebangkrutan" Ucap Mika dengan mata yang merah karena marah.
"Kak biar Yas telpon mama" Ucap Yasmin yang akan mengambil ponsel di tasnya keburu Mika bertindak.
Mika langsung mencekik leher Yumna.
"Akkhhh" Pekik Yumna.
"Mika lepasin Yumna" Bentak Belva.
"Diem lo, lo itu hanya gadis miskin. Jadi jangan ikut campur" Ucap Mika.
"Lo berani nelpon keluarga lo gue akan semakin menyakiti kakak lo" Ucapnya dengan senyum smirk.
"Jangan, Yas mohon tolong lepasin kakak" Mohon Yas sambil menangis.
"Akkkhhh, to-lo-ng le-pa-sin gu-e Mik" Ucapnya terputus-putus karna cekikan dileher Yumna sedikit keras. Dengan air mata yang turun tiada henti.
"Lepaskan tangan mu itu dari cucuku" Suara bariton menggema di tempat tersebut.
Mika yang melihat siapa orang tersebut membelakakkan matanya dan tangannya mulai turun dari leher Yumna.
"Tu-Tuan Indra" Gumam Mika.
Yap benar sekali, yang datang adalah Indra dan Lili. Mereka sengaja datang ke kampus karena ada beberapa hal yang harus ia bahas di sekolah tersebut dengan kepala sekolah.
Yasmin berlari kecil ke arah Lili dan memeluknya.
"Neli, mereka menyakiti kakak" Adu Yasmin sambil menangis.
"Sudah jangan menangis, disini sudah ada neli dan Kendra" Jawab Lili sambil membalas pelukan Yasmin dan mengelus punggungnya.
Sedangkan Yumna sudah terduduk dilantai karena lemas, dan dibantu oleh Belva.
"Yumna, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Belva sedih. Yumna hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Tanya Indra yang berjongkok di hadapan Yumna.
"Hiks hiks" Yumna menangis dan Indra pun membawanya kedalam pelukannya.
"Sudah jangan menangis" Ucap Indra.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada cucuku" Bentak Lili pada Mika.
"E-mm nyo-nya, sa-saya tidak ber-maksud menyakitinya" Jawab Mika gugup.
"Aku memutuskan kerja sama dengan perusahaan milik orangtua mu, karena kau sudah menghina cucuku. Jika ada yang bermain-main dengan keluarga ku bahkan cucuku maka akan aku buat orang itu menderita" Ucap Lili penuh penekanan, wajah Mika pun jadi pucat mendengar ucapan Lili.
"Mika ini lo minum dulu" Ucap Belva.
Saat Yumna menangis dipelukan Indra, Belva memutuskan untuk pergi ke kantin membeli minum untuk ia berikan pada Yumna.
"Terimakasih nak" Ucap Indra.
"Sama-sama tuan" Jawab Belva ramah.
"Tolong temani Yumna sebentar" Ucap Indra dan diangguki Belva.
Indra berjalan ke arah Lili yang masih memeluk Yasmin karena takut.
"Jika kau ingin membahas masalah perusahaan suruh orangtua mu datang padaku, jangan kau libatkan cucuku apa lagi sampai kau berani menyakitinya. Aku akan membalas mu jika masih berani menyentuh cucuku walau seujung kuku pun" Ucap Indra dengan tatapan tajam membuat Mika dan teman-temannya takut.
"Maafkan kami tuan" Ucap Mika dengan kedua temannya sambil menundukkan kepalanya.
"Pergilah, kali ini aku membebaskan mu. Jika suatu hari kau berani mengganggu cucuku, kau akan tahu akibatnya" Tegas Indra.
Mika dan kedua temannya dengan terburu-buru meninggalkan tempat tersebut.
"Sayang" Panggil Lili yang sudah duduk disamping kiri Yumna.
"Neli, hiks hiks" Yumna menatap Lili lalu memeluknya sambil menangis.
"Aku akan menelpon mba Mita dulu" Ucap Indra sambil merogoh ponselnya.
"Jangan kendra, jangan beritahu siapapun tentang masalah ini" Mohon Yumna.
Tanpa berpikir panjang Indra pun menyetujui keinginan Yumna, karena dia tidak tega melihat wajah memohon Yumna.
"Baiklah, kalau begitu biar kami yang mengantarkan kalian pulang" Ucap Lili.
"Tidak perlu beli, terimakasih. Supir sudah menjemput kami, jadi kalian tidak perlu repot-repot" Jawab Yumna.
"Sayang, neli dan kendra tidak pernah merasa direpotkan oleh kalian. Jadi jangan berbicara seperti itu. Dan oke untuk kali ini neli tidak akan mengantarkan kalian, tapi jika suatu saat kita bertemu kalian jangan menolak keinginan neli" Ucap Lili.
"Tentu neli" Ucap Yumna.
"Apa perlu kita ke rumah sakit dulu sebelum kalian pulang ke rumah?" Tawar Indra.
__ADS_1
"Tidak perlu, Yumna tidak apa-apa kok. Mungkin nanti setelah sampai rumah Yumna akan langsung istirahat" Jawab Yumna.
"Baiklah, ayo kendra dan neli antar kalian ke depan" Ucap Indra.
Indra dan Lili pun mengantarkan mereka bertiga ke parkiran sekolah.
"Kendra, neli. Terimakasih karena sudah menolong Yumna" Ucap Yumna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Yumna begitu terharu dengan takdir dirinya. Dia merasa banyak orang yang sangat menyayanginya. Padahal bisa di bilang keluarga Barrah tidak ada hubungan darah dengan dirinya, melainkan hanya terikat persahabatan dari neneknya.
"Sama-sama sayang, jangan sungkan untuk memberitahu kami jika kalian membutuhkan bantuan kami" Tutur Lili mengelus kepala Yumna dan Yasmin bergantian.
Yumna dan Yasmin pun hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Kami pergi dulu, neli kendra" Ucap Yumna
"Assalamu'alaikum" Ucap ketiganya.
"Walaikumsalam" Jawab Lili dan Indra bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ma, nek. Apa Yumna dan Yasmin belum pulang juga?" Tanya Safa saat menuruni anak tangga.
"Belum sayang, jika kau lapar pergilah makan terlebih dahulu" Jawab Sarah.
"Tidak ma, nanti aja biar sekalian" Sahut Safa.
Tin
Tin
Bunyi klakson mobil saat memasuki perkarangan rumah keluarga Atmaja. Siapa lagi kalau bukan Yumna dan Yasmin, karena tidak ada acara mampir mereka jadi pulang lebih cepat. Tapi jika sudah mampir maka mereka akan terlambat pulang sekitar setengah jam sampai satu jam karena ke asyikan.
"Assalamu'alaikum" Ucap ketiganya saat memasuki rumah.
"Walaikumsalam" Ucap semuanya.
Yumna bersikap seperti biasa, dia menyalami tangan Sarah tapi hanya sebentar, sepertinya ia sedikit kecewa dengan sikap ibunya padanya. Sarah ingin memanggilnya, tapi mertuanya terlebih dahulu memanggil putrinya.
"Sayang" Panggil Humita memeluk erat Yumna.
"Nek Yumna baik-baik aja" Jawab Yumna seolah tahu ke khawatiran nenek terhadapnya.
Humita melerai pelukan terhadap Yumna, dan melihat Yumna dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tertuju pada lehernya yang ada luka karena cekikan Mika sangat kuat sehingga kukunya sedikit menancap pada leher Yumna dan dipergelangan tangannya memerah akibat cengkramannya.
__ADS_1
"Siapa yang berani melakukan ini padamu sayang?" Tanya Humita sedih sembari mengelus bagian tubuh Yumna yang terluka.
Bersambung