
"Lihatlah" Ucap Humita menarik lengan Lili untuk menatap Risa.
"Kau selalu menganggap setiap anak dari kakak-kakak mu adalah anak mu juga, tapi apa yang kau lakukan kau meninggalkan Saira putrimu dengan Ibrahim yang berumur 4 tahun dengan Amira dan Dzaki. Apa kau tidak berfikir panjang, apa yang kau lakukan ini berakibat buruk pada sahabatku" Ucap Humita.
"Apa" Pekik seseorang yang berada di ambang pintu saat mendengarkan kebenaran yang diucapkan Humita.
Semua orang melihat ke arah di mana sumber suara berada. Begitu melihat siapa orangnya, Anin dan Lili terkejut setelah melihat siapa orang yang ada di sana.
"Mi apa yang tante ini katakan benar?" Tanya Saira yang sudah mendekat ke arah Anin.
"Sayang... " Panggil Anin terpotong.
Saira melihat ke arah Risa yang masih duduk dilantai dengan isak tangisnya.
"Kak, apa yang dikatakannya itu benar?" Tanya Saira berjalan ke arah Risa.
Risa hanya diam saja, dia tidak berani mengatakan apapun pada Saira.
"Jika diantara kalian tidak mengatakan apapun biar aku yang akan mengatakannya" Ucap Humita.
__ADS_1
"Saira jika seandainya kau anak Anin mungkin nama Maheswari akan ada padamu, dan jika kau anak Lili mungkin juga nama Prameswari ada padamu juga. Kau lahir dari kesalahan Lili dan Ibrahim, ketika kau lahir orangtuanya Risa lah yang membantu merawat dan membesarkanmu. Bukannya namamu sama dengan Risa hanya berbeda akhirnya saja, nama Qirani adalah nama ibu dari Risa yaitu Amira Qirani. Lili lah yang menambahkan nama itu padamu"Terang Humita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Atmaja
"Assalamu'alaikum" Ucap Akhtar saat memasuki rumahnya.
"Walaikumsalam" Jawab Afsana dan Sarah bersamaan.
"Syukurlah abang sudah pulang, ayo kita susul mami aku takut mami membuat keributan disana" Cemas Afsana.
"Ke rumah mami Anin dan bunda Lili" Jawab Afsana.
"Syukurlah kalau mereka sudah bertemu, tapi kenapa kamu harus cemas seperti ini, kan mami bertemu dengan sahabat dan adiknya" Ucap Akhtar.
"Beda lagi ceritanya bang, ayo lebih baik kita kesana, aku sudah tahu alamatnya tadi Safa yang mengirimkannya" Ucap Afsana.
"Iya mas, lebih baik kita ke sana. Kamu ga usah banyak tanya dulu" Sahut Sarah.
__ADS_1
"Ya sudah ayo" Ucap Akhtar tanpa mengganti pakaian dia sudah berjalan mendahului istri dan adiknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak apa itu semua benar? Jawab kak jangan diam saja" Tanya Saira lagi sambil mengguncangkan tubuh Risa, Risa hanya mengangguk kecil.
"Jadi selama ini aku telah di bohongi oleh keluarga ku sendiri, pantas saja ibu mertua ku tidak menyukaiku dia selalu menyebutku anak yang tak bernasab" Lirih Saira berjalan mundur dengan perlahan.
Lili dan Anin sedih mendengar bahwa ibu mertuanya Saira selalu memojokkan nya.
Anin mendekat ke arah Saira.
"Sayang siapa pun dirimu kamu tetap anak mami dan papi nak" Ucap Anin saat akan memegang pundaknya, Saira mundur seolah tidak ingin berbicara dengan maminya.
"Saira" Panggil Risa pelan saat ini sudah berdiri didekat Saira.
"Kakak" Lirih Saira memeluk Risa.
"Saira jangan menyalahkan siapapun dengan apa yang terjadi, ini sudah jalan yang Allah tunjukkan pada kita. Kita sebagai manusia juga tidak tahu akan terlahir dari keluarga seperti apa" Ucap Risa mencoba menguatkan Saira dengan mengelus kepala dan punggungnya.
__ADS_1
Bersambung