Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #34


__ADS_3

"Sarah, aku pamit ya karena harus mengecek keadaan ditoko bunga" Ucap Farah yang sudah menghampirinya.


"Kenapa terburu-buru sekali Far?" Tanya Sarah yang sedang menyuapi Yasmin.


"Karena memang ada urusan disana, nanti jika ada waktu lagi aku akan mengunjungi kalian" Jawab Farah.


"Baiklah kalau begitu" Ucap Sarah.


"Bunda pamit dulu ya sayang semoga lekas sembuh" Ucap Farah pada Safa sambil mencium keningnya dan dibalas anggukan oleh Safa.


"Tan, kamu mau ikut pulang dengan bunda?" Tanya Farah pada Tania.


"Engga ah bun, nanti saja bareng dengan Tessa" Jawabnya.


"Yasudah, bunda duluan ya" Ucapnya.


"Iya" Jawab Tania.


"Bun" Lirih Safa saat Farah akan pergi tapi Safa memanggilnya kembali.


Safa menatap Farah dengan tatapan sendu,


Farah merasa iba pada Safa dan dia pun memeluk Safa. Safa juga membalas pelukan Farah dengan erat. Sarah yang melihat itu sedikit heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi dan ada hal apa yang dia tidak ketahui.


"Semuanya akan baik-baik saja sayang" Bisik Farah ditelinga Safa.


Tapi Sarah mendengar suara Farah yang membisikkan sesuatu tapi tidak jelas apa yang Farah katakan.


Setelah pelukan itu terlepas Farah benar-benar pamit karena harus buru-buru pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


2 Minggu kemudian

__ADS_1


Hari ini Safa sudah bisa beraktivitas seperti biasa, tapi tetap keluarganya tidak mengizinkan untuk melakukan aktivitas yang berat-berat.


"Safa ayo kita berangkat, biar papa yang mengantarmu ke kampus" Teriak Akhtar dari bawah.


Dikamar Safa sedikit kesal karena orang tuanya selalu khawatir dengan dirinya dan membuat Safa merasa risih. Meskipun Safa senang orangtuanya begitu menyayanginya tapi jika sekali waktu terluka maka dia akan kembali seperti anak kecil yang begitu diperhatikan oleh orangtuanya.


"Sabar Safa anggaplah segala sesuatu yang menurutmu tidak begitu baik seperi mimpi yang akan berakhir ketika kita bangun" Gumam Safa menatap cermin lalu senyum dengan paksa.


Semua sudah kumpul dibawah, hanya Safa yang belum karena harus menyiapak beberapa buku yang harus dibawa.


"Pa, biar supir saja yang anterin Safa ke kampus, papa bisa pergi mengantar Yumna dan Yas saja. Lagian Safa juga udah gede masa papa larang terus sih" Ucap Safa yang sudah turun kebawah dengan cemberut.


"Kau tahu jika papa tidak suka penolakan" Jawab Akhtar.


"Maa" Panggil Safa memohon.


"Maaf sayang tapi kali ini mama setuju dengan papa, jika kau pergi ke kampus papa yang akan mengantarkanmu. Jika tidak mau yasudah biar mama saja yang antar ya" Jawab Sarah.


Tut


Tut.


"Hallo, cepatlah datang kerumah mami sekarang juga. Mami butuh bantuanmu" Ucap Humita pada seseorang disebrang sana.


Farah sudah menceritakan kejadian sebelum Safa kecelakaan tanpa ada yang ditutup-tutupi, hanya sarah dan yang lainnya yang tidak tahu masalah Safa yang sudah mengetahui kebenarannya.


"Kenapa sih kalian ini selalu berlebihan dalam menyayangi aku. Maaf bukannya Safa melawan, dan maaf jika Safa sudah kurang ajar, tapi dengan kalian seperti ini malah membuat aku terkekang. Kalian adalah orangtua baru ketika pertama kali memiliki seorang anak pertama yaitu aku, tapi aku juga punya dua adik dan itu tidak membuat kalian sebagai orangtua baru kan, tapi kenapa kalian selalu berlebihan mengenai hidupku" Ucap Safa dengan mata menahan tangisnya.


"Satu lagi yang ingin aku katakan, jika hal itu tidak kalian ubah maka siap-siap hal yang berlebihan akan berdampak buruk pada hidupku"Sambungnya lagi.


"Safa" Panggil Akhtar dingin.


"Aduh bagaimana ini kenapa belum datang juga padahal kan tidak nyampe setengah jam dari sana kesini" Batin Humita dengan raut wajahnya sedikit panik.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan barusan? Kau tahu banyak diluaran sana yang kurang kasih sayang dari ayahnya atau ibunya saja, bahkan ada juga yang kehilangan kasih sayang dari orangtuanya entah itu perceraian atau meninggal. Harusnya kau merasa bersyukur masih memiliki orangtua lengkap yang sangat menyayangimu" Ucapnya penuh dengan penekanan.


"Tapi apa sesutu yang berlebihan baik?" Tanya Safa.


"Sejak kapan kau berani membantah ucapan orang tua? Sejak kapan kau mulai bertanya tentang hal aneh? Sejak kapan kau membicarakan tata cara kami menyayangi anak-anaknya? Sejak kapan?" Teriak Akhtar sambil berjalan mendekat kearah Safa.


Ketika Akhtar berteriak membuat Safa mengingat kejadian sebelum kecelakaan. Karena Safa memang tidak suka dibentak atau diteriaki oleh siapapun termasuk keluarganya sendiri. Tubuhnya bergetar menahan sesak didadanya karena menahan tangisnya, keringat dingin bercucuran, kepalanya sedikit pusing mungkin karena masih pagi udah bertengkar dengan papanya. Teriakan Akhtar sama persis dengan waktu itu ketika Safa tentang Dania. Safa hanya bisa diam mematung dengan mengepalkan kedua tangannya.


Humita yang melihat pertikaian antar anak dan papa merasa geram terhadap putranya. Humita juga semakin marah melihat Sarah yang hanya diam saja ketika suaminya membentak Safa. Sarah hanya memegang tangan menandakan agar Akhtar tidak bertindak lebih jauh.


"Yumna, Yasmin kalian pergilah kesekolah diantar supir ya" Ucap Humita karena takut akan ada keributan dan dia juga tidak mau kedua cucunya mendengarkan atau melihat hal yang akan terjadi.


"Tapi nek kakak..." Ucap Yasmin sedih.


"Sudahlah Yas, ayo kita pergi. Biar nenek yang mengurus kakak" Jawab Yumna. Yumna juga mengerti apa yang akan terjadi, mangkannya dia mengajak Yasmin untuk pergi saja.


"Yaudah ayo kak" Jawab Yasmin sambil menggandeng tangan Yumna.


Yasmin dan Yumna tidak berpamitan pada orangtuanya dan hanya pada Humita saja. Setelah Yumna dan Yasmin benar benar pergi. Humita mendekat kearah Akhtar dan menarik tangan Akhtar gara menjauh dari cucunya.


"Apa yang akan kau lakukan" Ucap Humita yang sudah berada didepan Safa untuk melindunginya.


Akhtar yang bingung kenapa maminya bisa membela Safa yang sedikit kurang ajar terhadap orang tuanya.


Safa yang berada dibelakang neneknya hanya bisa meremas ujung baju neneknya dengan kuat.


"Tidak apa-apa sayang, nenek akan selalu ada untuk Safa" Ucap Humita membalik badannya menghadap Safa dan menangkup kedua pipi Safa.


"Jika orangtuamu sudah tidak bisa bersikap layaknya orangtua yang normal, maka aku akan mengizinkanmu untuk pergi dari rumah ini dan tinggal di mana pun yang kau mau asal itu membuatmu bahagia, bebas tanpa ada tekanan atau kekangan dari siapapun" Ucap Humita menatap Akhtar dan Sarah bergantian dengan mata yang memerah.


"Apa yang mami katakan? Mengapa mami mencoba menjauhkan kami dari putri kami mi" Ucap Sarah memegang tangan mertuanya namun ditepisnya tangan itu oleh Humita.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2