
Afsana hanya menundukan kepalanya dengan mata yang sudah mengembun.
Akhtar hanya menyaksikan kedua wanita yang ia sayangi, dia tidak akan ikut campur antara istri dan adiknya. Karena mereka sama-sama sudah dewasa dan mengerti.
Sarah berada tepat di depan Afsana. Dia mengangkat dagu Afsana agar melihat kearahnya. Air matanya sudah turun begitu saja tanpa di minta. Sarah melihat kedua pipi Afsana yang masih sedikit merah karena ulahnya.
Sarah menangkup kedua pipi Afsana dan mencium kening lalu kedua pipi Afsana secara lembut, sambil menghapus air mata yang sudah membasahi pipi Afsana.
"Maaf" Lirih Sarah dan Afsana langsung memeluk kakaknya dan Sarah membalas pelukan Afsana.
"Maaf, atas perlakuan ku padamu" Ucap Sarah setelah pelukan itu terlepas Afsana hanya menggelengkan kepalanya menandakan bahwa Sarah tidak seluruhnya salah.
"Kau tahu, kau adalah dokter yang hebat, keluarga Atmaja bangga memiliki dokter sepertimu di tengah-tengah mereka. Aku meminta maaf atas perkataan dan sikapku kemarin. Dan terimakasih karena kau sudah merawat putriku dengan baik, aku telah salah menilaimu, sekali lagi maafkan atas tindakanku yang membuatmu terluka. Dan satu lagi aku bangga padamu" Ucap Sarah mencium kening Afsana dan memeluknya kembali. Afsana merasa senang karena kakak iparnya sudah tidak marah lagi terhadapnya.
Akhtar yang melihat keduanya sudah akur kembali, dengan ujung mata yang sedikit mengeluarkan air mata, karena terharu. Kemudian mendekat kearah mereka dan memeluk keduanya. Dan memberikan ciuman berkali-kali dikening mereka secara bergantian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gak dateng? Kenapa lo ngomong gitu, sedangkan di grup dia gak ada ngomong apa-apa tuh" Tanya Tessa heran.
Ya memang mereka memutuskan untuk memiliki grup chat
"Nanti sepulang dari kampus lo ikut gue ke RS" Ucap Tania.
"RS? Ngapain?" Tanya Tessa mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya Safa dirawat karena kecelakaan....." Ucap Tania pelan sambil menjelaskan.
"Apa?" Pekik Tessa terkejut.
"Gak bisa gak bisa, pokoknya sekarang aja kita ke RS daripada nunggu pulang kelamaan" Ucapnya lagi sambil menarik tangan Tania menuju parkiran.
"Kenapa?" Tanya Tessa karena Tania hanya diam pada saat tangannya ditarik.
"Lo ngajak gue... " Ucap Tania yang terpotong oleh Tessa.
__ADS_1
"Iya gue ngajak lo bolos hari ini. Udah ga usah mikiran apa-apa lagi, lebih baik kita ke sana sekarang. Biarin dah gue kena omel papa dan mama karena bolos ngampus, yang penting gue bisa lihat keadaan Safa saat ini juga" Ucap Tessa dan berhasil membujuk Tania untuk tidak kuliah hari ini.
Mereka masuk kedalam mobil, Tessa duduk dibalik kemudi dan Tania disampingnya. Tessa menjalankan mobil dengan tenang walau hatinya khawatir pada Safa tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikediaman Atmaja Farah mengetuk pintu kamar Yasmin dan kamar Yumna bergantian, sejak marah semalaman mereka belum keluar sampai detik ini membuat Humita khawatir. Karena Farah tidak tega pada mami dari sahabatnya itu, jadi dia memutuskan untuk membujuk Yumna dan Yasmin.
Tok
Tok
"Yumna, buka pintunya sayang. Oke kali bunda setuju dengan perkataan Yasmin tadi malam, hari ini kalian tidak dulu masuk sekolah" Teriak Farah diluar kamar mereka. Karena kamar Yasmin dan Yumna bersebelahan.
Ceklek
Pintu kamar Yasmin terbuka lebih dulu, diikuti oleh Yumna yang baru keluar dari kamarnya dengan mata sembab, karena dia tidak bisa tidur dan membuatnya menangis semalaman karena memikirkan kakaknya.
"Bunda gak bohong kan?" Tanya Yasmin masih dengan wajah sedih.
"Apa pernah bunda berbohong pada kalian?" Tanya Farah menatap keduanya bergantian dan Yasmin menggelengkan kepalanya.
"Iya bun" Jawab keduanya senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhtar sedang duduk disofa yang ada diruangan tersebut dengan memejamkan matanya , sedangkan Sarah tidur dengan bantal beralaskan paha suaminya.
Perlahan-lahan Safa mulai membuka matanya, dia melihat langit-langit ruangan tersebut. Safa bingung mengapa dia berada dirumah sakit, diapun mulai mengingat kejadian sebelum dia berada dirumah sakit. Kepalanya pusing karena mengingat kejadian kecelakaan dan pertengkaran dengan papanya. Tidak terasa sudut matanya mengeluarkan air mata.
"Ma, pa" Gumam Safa.
Kemudian dia membuka matanya dengan sempurna, karena tadi dia hanya melihatnya dengan samar-samar.
Safa pun melihat kearah samping kiri dan ketika melihat kesamping kanan ternyata mama dan papanya sedang tertidur. Safa ingin memanggilnya tapi tidak tega karena melihat orangtuanya tidur dengan pulas. Akhirnya Safa pun tidur kembali tapi dengan telinga yang masih bisa mendengar dengan sempurna.
__ADS_1
"Mmm" Sarah menggeliat dari tidurnya Akhtar juga ikut terbangun karena pergerakan istrinya.
"Maaf mas aku membangunkanmu" Ucap Sarah karena Akhtar merasakan pergerakan istrinya.
"Tidak apa-apa, jam berapa ini?" Tanya Akhtar yang duduk tegak.
"Jam 8" Jawab Sarah melihat handphonenya.
"Maaf aku malah ikut tertidur juga" Ucap Akhtar.
Karena memang dia yang menyuruh Sarah untuk tidur dan dia yang menjaga, tapi malah dia juga ikut tertidur juga.
"Tidak apa-apa, kau juga pasti lelah. Karena telah menjaga ku semalaman" Jawab Sarah.
"Itu sudah tugasku, karena kau terus-menerus pingsan ketika tahu keadaan Safa semakin turun, maka dari itu aku harus menjagamu, untungnya Safa dijaga oleh Afsana dan Mira" Ucap Akhtar.
Safa hanya mendengarkan percakapan antara mama dan papanya. Dia merasa kasihan pada orangtuanya yang terus menjaganya semalaman dan dia juga merasa bersalah.
Safa pun membuka matanya kembali saat mendengar mama dan papanya sedang mengobrol lalu melirik ke samping kanan dimana papa dan mamanya sedang duduk mengobrol.
"Ma, pa" Panggil Safa dengan sudut matanya mengeluarkan air mata.
Sarah dan Akhtar langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Safa, tanpa berkata dia langsung memberikan ciuman bertubi-tubi diseluruh wajah Safa secara bergantian sambil menangis.
"Sayang kau sudah sadar" Tanya Akhtar sambil menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Apa yang kau rasakan sayang? Apa kau menginginkan sesuatu hmm?" Tanya Sarah sambil terus mengelus kepala Safa.
"Safa haus ma" Jawab Safa kemudian dengan cepat Sarah mengambilnya.
"Sini biar papa bantu kamu dan mama yang memberikan airnya" Ucap Akhtar membantu Safa agar setengah bangun dan Sarah yang membantunya untuk minum.
"Terima kasih ma, pa" Ucap Safa.
"Maaf, karena kelalaian Safa dalam berkendara membuat semua orang khawatir terutama mama dan papa. Kalian pasti lelah karena terus menjaga Safa. " Ucapnya dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Ssstt, tidak usah membahas yang sudah terjadi. Mama dan papa juga senang karena Safa sudah sadar" Ucap Sarah menenangkan putrinya.
Bersambung