
Di kamar Sarah yang berbaring berhadapan dengan Yumna, terus membelai wajah Yumna dan terus memberikan kecupan di seluruh wajahnya. Bukannya terganggu malah membuat Yumna sangat terlelap dalam tidurnya. Perlahan-lahan Sarah pun ikut memejamkan matanya.
Jam menunjukan pukul 11 malam, mata Yumna terbuka secara perlahan-lahan. Yumna bingung dengan keberadaan dirinya yang tiba-tiba ada dikamar milik orangtuanya. Karena setaunya tadi dia tidur di kamar ART sambil minta di pijat.
Saat melihat ke samping dia melihat wajah mamanya dengan tangan memeluk dirinya. Perlahan dia menyingkirkan tangan mamanya yang melingkar di perutnya membuat Sarah terusik.
"Kau sudah bangun sayang" Ucap Sarah dengan suara serak ciri khas bangun tidur.
"Sudah ma, Yumna ingin buang air kecil" Jawab Yumna.
"Biar mama bantu" Ucap Sarah yang bangun dari tidurnya dan membantu Yumna ke kamar mandi.
"Mama keluar saja, masa Yumna pipis mama temani di dalam" Ucap Yumna malu.
Sarah yang merasa Yumna sudah kembali mau berbicara dengan dirinya membuat kedua matanya berkaca-kaca.
"Ma, Yumna hanya menyuruh mama keluar. Kenapa mama malah nangis, ini Yumna udah kebelet" Rengek Yumna, sepertinya Yumna lupa jika dirinya marah dengan mamanya.
Sarah pun keluar sambil tersenyum dan menunggu Yumna di dekat pintu kamar mandi.
Ceklek
"Lho, Yumna kira mama tidur lagi" Ucap Yumna saat membuka pintu dan melihat mamanya menunggu dirinya.
"Mama ga bisa tidur lagi sayang" Jawab Sarah.
"Kalau gitu Yumna kembali ke kamar aja ya ma, nanti kalau ada papa biar Yumna bangunkan dan menyuruhnya pindah ke sini" Ucap Yumna, ternyata masih tidak lupa akan masalah malam tadi.
"Kau tidak ingin tidur ditemani mama?" Tanya Sarah memegang tangan Yumna.
"Yumna udah gede ma, malu jika harus tidur ditemani mama" Jawab Yumna sambil tersenyum walau hatinya sangat ingin.
__ADS_1
"Tapi jika mama yang ingin di temani kamu tidur, apa kamu juga akan menolak?" Tanya Sarah menatap mata Yumna.
"Tapi mah.... " Ucapnya terhenti kala Sarah memotongnya.
"Mama minta maaf atas kejadian kemarin malam" Ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca sambil memegang tangan kiri Yumna.
"Ma, Yumna udah maafin mama dan papa. Tapi jika untuk tidur dengan mama maaf Yumna ga bisa ma. Lagian Yumna juga udah terbiasa sendiri dan mandiri, apa pernah Yumna menyusahkan mama dan papa? Jika pun ada beri tahu Yumna, tapi sepertinya tidak ada. Jika nanti ada sesuatu yang Yumna butuhkan, Yumna akan beritahu nenek atau kakak" Jawaban Yumna membuat Sarah bungkan, dia tidak bisa menjawab apa yang Yumna katakan.
"Maaf ma, Yumna akan kembali ke kamar Yumna. Oh iya makasih ya ma udah mau nemenin Yumna tidur, lain kali jika Yumna tidur dimana pun jangan di pindahkan karena Yumna sudah merasa nyaman dengan apa yang Yumna mau" Ucap Yumna sambil berjalan ke luar kamar membuat Sarah semakin sedih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya semua sudah berkumpul di meja makan. Semua orang merasa bahagia hari ini kecuali Sarah yang masih terlihat sedih.
"Apa Yumna sudah bersiap?" Tanya Humita yang belum melihat ke hadiran Yumna.
"Sudah nek, tadi Safa yang membantunya. Cuma sekarang dia sedang menyusun bukunya untuk pelajaran hari ini" Jawab Safa.
"Gapapa nek kan ada Safa jika nenek tidak bisa" Sahut Safa.
"Baiklah kalau gitu, biar nenek ke atas untuk memanggilnya agar Yumna segera turun" Ucap Humita.
Saat akan beranjak dari duduknya Sarah menghentikan mertuanya agar dirinya yang memanggil Yumna.
"Mi, biar Sarah yang memanggilnya" Pinta Sarah dengan wajah sendu.
Karena tidak tega pada menantunya Humita pun langsung menganggukan kepalanya, dan membiarkan mereka berdua berbicara satu sama lain.
Sarah pergi ke atas menuju kamar Yumna, saat sampai di depan kamar Yumna dia ingin mengetuk pintu tapi dia urungkan, begitupun saat ingin membuka pintu secara langsung dia urungkan juga. Dia merasa gundah dengan dirinya.
Tanpa berfikir panjang Sarah mencoba langsung membuka pintu kamar Yumna secara perlahan dan melihat sekeliling kamar. Kamar Yumna sangat bersih dan rapi, karena dia tidak suka berantakan.
__ADS_1
Matanya tertuju pada Yumna yang sedang duduk dipinggir ranjang miliknya. Untungnya Yumna duduk membelakangi pintu kamar, jadi membuat dia tidak tahu ada yang masuk.
Yumna sedang melamun menatap jendela kamarnya, terdengar suara isak tangis saat Sarah mendekat pelan. Hatinya sakit melihat pertama kalinya seorang Yumna menangis.
"Sayang" Panggil Sarah dengan lembut sambil mengusap kepala Yumna.
"Mama" Lirih Yumna mendongakkan kepalanya menatap Sarah dan buru-buru menghapus air matanya.
"Ada apa sayang?" Tanya Sarah yang sudah duduk di samping kiri Yumna.
"Yumna gapapa ma" Jawab Yumna pura-pura tegar.
"Mama tahu kamu tidak baik-baik saja, sayang dengarkan mama. Yumna anak yang mama kandung selama 9 bulan dan mama lahirkan lalu dengan penuh kasih sayang dan cinta mama besarkan Yumna sampai saat ini. Mama tahu bagaimana anak-anak mama" Ujar Sarah menangkup kedua pipi Yumna agar menatapnya.
"Mama, hiks hiks" Yumna memeluk Sarah menumpahkan semua kesedihannya.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang" Ucap Sarah membalas pelukan Yumna dengan mengusap punggungnya yang bergetar.
Yumna melepaskan pelukannya dan menatap sang mama.
"Ada apa hm?" Tanya Sarah menghapus pipi Yumna yang basah.
"Yumna tidak tahu, rasanya Yumna tiba-tiba ingin menangis" Jawab Yumna.
"Mama tahu Yumna anak kuat, tapi ketika melihat anak mama nangis untuk pertama kalinya itu membuat hati mama sangat terluka" Ucap Sarah menundukkan kepalanya menahan tangisnya.
"Maafin Yumna ma" Lirih Yumna.
"Kamu ga salah sayang, mama yang salah. Jangan pernah menyalahkan diri kamu atas apa yang mama lakukan" Jawab Sarah sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan sekolah dulu ya, biar mama yang menelpon pihak sekolah bahwa kamu izin untuk tidak masuk dulu" Ucapnya lagi dan langsung diangguki Yumna.
__ADS_1
Bersambung.