
Diruangan dimana Safa masih berbaring dengan alat-alat yang masih menempel pada tubuhnya ditemani oleh Sarah yang duduk disampingnya.
"Safa bangunlah sayang, apa kau sudah tidak menyayangi mama? Apa kau tidak ingin hidup selamanya dengan mama sampai kau dewasa nanti? Bukankah kau sudah berjanji pada mama bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan mama" Ucap Sarah terisak sambil mengelus kepala Safa dan memegang tangannya.
"Safa" Teriak Akhtar saat masuk keruangan Safa.
"Mas Safa hiks hiks" Lirih Sarah.
"Apa Safa sudah tidak menyayangi papa dan mama, sampai-sampai Safa tega ninggalin kita berdua, papa janji jika Safa sembuh papa yang akan mengantarkan Safa ke kampus. Papa tidak akan mengizinkan Safa pergi sendiri, papa dan mama akan terus berada disamping Safa jika Safa membutuhkan kami. Kau tahu kan seberapa sayangnya mama dan papa pada Safa, jika Safa bangun apa yang Safa inginkan papa akan turuti walaupun nyawa taruhannya, papa akan lakukan apapun untuk Safa. Asal Safa bangun dan hidup dengan bahagia bersama mama, papa, nenek, Tana, dan kedua adikmu" Ucap Akhtar ditelinga kanan Safa karena Sarah berada disebelah kiri Safa.
Sarah dan Akhtar terus menangis disamping Safa dengan membisikan kata-kata. Meskipun orang yang sudah tiada tidak bisa kembali tapi ketika Allah berkehendak maka semua akan kembali baik-baik saja.
Humita dan Afsana menangis melihat interaksi antar orangtua dan anaknya, begitupun dengan Tania yang masih menangis dipelukan sang bunda.
Heug
Tiba-tiba Safa bernafas, tidak terasa matanya mengeluarkan air mata dan jari yang mulai bergerak. Sarah yang merasakan bahwa putrinya telah kembali menghentikan tangisnya.
"Safa, sayang bangun, mas jari-jari Safa bergerak. Aku merasakannya, aku merasa bahwa Safa telah kembali" Ucap Sarah senang.
Afsana kemudian menghampiri Safa, karena apa yang Sarah katakan cukup keras dan bisa didengar oleh Afsana dan yang lainnya.
"Mira cepat periksa keadaannya, dan siapkan ruangan lain, karena Safa akan dipindahkan keruangan tersebut" Titah Afsana dan Mira pun bergegas melakukan perintahnya.
"Ya Allah, Allah memang maha besar. Pasien telah melewati ujiannya, nyonya tuan selamat Safa telah kembali pada kalian. Do'a kalianlah yang membuat Safa sadar kembali dan Allah mengabulkan itu semua"Tutur Mira dengan senyum yang takjub karena kuasa Allah sangatlah besar.
"Bang biar Afsana periksa Safa terlebih dahulu, kalian tunggu saja diluar. Nanti Safa akan aku pindahkan keruangan khusus untuk keluarga kita" Ucap Afsana.
"Baiklah, aku percayakan semuanya padamu" Jawab Akhtar sambil memegang bahu Afsana.
__ADS_1
"Sayang ayo kita keluar dulu, biar Afsana memeriksa lebih lanjut" Ucap Akhtar sambil menggandeng tangan istrinya keluar.
"Alhamdulillah Ya Allah kau telah mengembalikan cucuku" Ucap Humita dengan bahagia.
"Mi sebaiknya mami pulang, biar Safa aku dan Sarah yang jaga ini sudah malam. Mami juga harus jaga kesehatan" Ucap Akhtar.
Sebenarnya Humita juga ingin menemani Safa dirumah sakit, tapi karena Akhtar menyuruhnya untuk pulang maka ya terpaksa Humita pulang dan kembali esok harinya.
"Iya mi biar Farah saja yang antar mami, kalau perlu Farah dan Tania yang akan menemani mami di rumah. Kasian juga Yumna dan Yasmin, pasti mereka bingung dan cemas karena salah satu dari kalian tidak ada di rumah" Ucap Farah yang khawatir juga dengan kesehatan maminya Akhtar.
"Iya mi biar Farah dan Tania menginap dirumah, besok kalian bisa datang lagi kemari" Ucap Akhtar.
"Baiklah kalau gitu mami pulang dulu, jaga diri kalian baik-baik, dan hubungi terus mami mengenai perkembangan Safa. Jika kalian butuh sesuatu besok mami akan membawakannya" Ucap Humita pada anak dan menantunya.
"Oh iya Tan, kamu ikut mobil bunda dan mobilmu taruh saja dulu di sini nanti orang suruhan papa yang akan mengantarkannya. Papa juga tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali pada siapapun" Ucap Akhtar yang merangkul pundak Tania.
Akhtar selalu memanggil dirinya papa pada Tania dan Tessa, karena sudah menganggapnya seperti anak kandungnya. Begitu juga dengan Sarah selalu memanggil dirinya mama pada Tania dan Tessa. Tapi karena Tania dan Tessa belum terbiasa jadi mereka memanggilnya om dan Tante.
"Iya sayang, nanti jika pergi ke kampus Tania bisa suruh sopir untuk mengantar jemput" Ucap Akhtar.
"Iya siap bos" Jawab Tania sambil tangannya hormat pada Akhtar. Akhtar hanya terkekeh melihat kelakuan Tania.
Semuanya kembali seperti sebelumnya tidak ada nangis-menangis yang ada hanya kebahagiaan yang terpancar dari semua orang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Farah dan Tania akan mengantarkan Humita ke rumahnya, tapi sebelum ke kediaman Atmaja. Farah membelokan kerumahnya karena ada beberapa barang yang harus dibawa begitu juga Tania. Untungnya Ayah Tania sedang ada pekerjaan diluar kota.
"Tan apa tidak ada lagi barang yang tertinggal?" Tanya Farah pada sang putri.
__ADS_1
"Tidak ada bun, gampang jika ada yang tertinggal, besok Tania bisa minta antar Tessa untuk mengantar Tania ke rumah" Jawab Tania.
Mereka berdua kembali ke mobil sedangkan Humita menunggu di mobil karena lelah. Farah memang mengendarai mobilnya sendiri jika arahnya dekat, dia akan menggunakan supir ketika berpergian jauh atau jika sedang malas.
Akhirnya mereka sampai di rumah yang dituju, karena waktu sudah menunjukan makan malam. Mereka memutuskan untuk ke kamar yang telah disediakan. Tania sesuai dengan permintaannya akan tidur dikamar Safa dan Farah diminta Humita untuk tidur dengannya.
"Yun dimana anak-anak?" Tanya Humita saat memasuki rumah dan duduk di ruang tamu untuk menghilangkan rasa penat.
"Mereka berdua berada di kamarnya nyonya sejak tadi siang. Dan mereka juga belum makan sejak siang, saya sudah menyiapkannya tapi mereka menolak karena tiba-tiba tidak nafsu makan" Jawab Yuni.
Humita terkejut bahwa kedua cucunya belum makan sejak siang. Humita berfikir bahwa inikah ikatan seorang saudara, hati mereka akan merasa tidak enak karena salah satu saudaranya sakit.
"Yasudah nanti panggil mereka untuk makan malam, bilang padanya saya sudah pulang. Kami akan bersih-bersih dulu" Ucap Humita sambil berlalu dan diikuti oleh Farah dan Tania.
Tok
Tok
Tok
"Non makan malamnya sudah siap" Panggil Yuni didepan kamar Yumna karena Yasmin berada dengannya juga.
Ceklek
"Kami tidak lapar bi" Ucap Yumna lesu saat membuka pintunya.
"Nyonya besar yang menyuruh saya memanggil nona untuk makan malam, mereka menunggu kalian berdua" Ucap Yuni.
"Baiklah" Jawabnya sambil berjalan kebawah.
__ADS_1
Sebenarnya mereka senang karena neneknya pulang, tapi entah kenapa hatinya masih tidak karuan.
Bersambung