Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #8


__ADS_3

"Masa kau tidak mengenali suara uncle"jawabnya lagi.


Mata Safa langsung berbinar mendengar suara orang disebrang sana. karena dari tadi wajah nya nampak sedih melihat papanya masih mendiamkannya.


"Safa lupa menyimpan nomor uncle, hehe" Ucap Safa sambil cengengesan.


Semua orang memperhatikan Safa. Mereka semua berfikir siapa yang menelfon Safa dan mengapa Safa memanggilnya dengan sebutan uncle?


"Ya sudah tidak apa-apa, uncle hanya ingin memberitahu bahwa uncle sudah kembali ke rumah dengan selamat" Ucap Ilham.


Ya benar sekali, yang menelfon Safa itu Ilham anak dari pemilik sekolah asrama tempat Safa menuntut ilmu.


"Alhamdulillah jika uncle pulang dengan selamat, Safa senang mendengarnya. Oh iya Safa mau minta maaf karena kemarin Safa tidak menemui uncle dan terima kasih juga karena uncle sudah mengantarkan Safa pulang sampai rumah dengan selamat" Ucap Safa sedikit sedih.


Safa merasa bersalah karena ketika Safa sampai rumah dia lupa menemui Ilham. Karena ada sedikit problem dengan keluarganya.


Ilham yang mengerti dan tahu apa yang terjadi enggan untuk bertanya. Karena takutnya membuat Safa kembali sedih.


"Iya sama-sama Safa. Kalau uncle tidak mengantarkan Safa sampai rumah, nanti bisa-bisa uncle kena amuk sama ratu Azzura" Ucap Ilham sambil melihat ke arah sang ibu yang duduk diseberangnya.


Uminya tahu maksud dari perkataan Ilham, yaitu dirinya yang anaknya juluki dengan sebutan Ratu Azzura. Meskipun Uminya Ilham berhijab Syar'i tapi kalau marah satu asrama mendengar karena teriakan nya sangat keras.


Tapi meskipun Umi seorang yang pemarah tapi dia baik sekali dan sangat penyayang. Apalagi pada Safa dia rawat dengan penuh kasih sayang selama Safa berada diasrama.


"Siapa Ratu Azzura uncle?" Tanya Safa sambil mengerutkan dahi.


Semua orang yang berada di meja makan hanya menyimak percakapan Safa dengan seseorang disebrang sana.


Sebelum Ilham menjawab Uminya lebih dulu memarahinya.


Pluk


"Yang kau maksud Ratu Azzura itu ibu mu sendiri Ilham, dasar anak kurang ajar" Ucap Uminya dengan melempar bantal sofa dan mengenai wajah Ilham.


"Aduhh umi sakit, mengapa umi jahat sekali sih pada anak sendiri" Ucap Ilham sambil mengadu kesakitan.


"Umi jahat juga karna kau durhaka terhadap ibumu" Ucap umi kesal.

__ADS_1


"Oh ternyata Umi yang uncle maksud Ratu Azzura, haha" Ucap Safa disebrang sana sambil sedikit tertawa.


"Uncle, Safa ingin bicara sama umi" Ucapnya lagi


"Sebentar" Jawab Ilham


"Umi ini cucu umi ingin bicara sama neneknya" Ucap Ilham sembari mnyimpan ponselnya dan sedikit menjauh agar tidak kena amuk lagi.


"Ilham" Geram umi sambil mengambil handphone dan Ilham hanya membalas dengan menahan tawanya.


"Hallo sayang" Ucap Umi pada Safa.


"Giliran sama cucunya aja lemah lembut giliran anaknya dibentak-bentak" Ucap Ilham menggoda uminya.


"Kau bisa diam tidak, atau Umi sumpal pakai kaos kaki mulutmu itu" Ucap Umi semakin kesal dan Ilham buru-buru menutup mulutnya.


"Umi mengapa marah pada uncle? Yang dikatakan uncle benar loh umi, karena Safa memanggil nya dengan sebutan uncle berarti Safa cucu umi. Lagian umur umi sama kok kaya neneknya Safa." Ucap Safa membenarkan ucapan Ilham dan Ilham senang merasa dibela Ilham bisa mendengarnya karena dia mendekati ibunya dan duduk disampingnya sambil menempelkan telinganya disamping sang ibu.


"Umi engga marah kok sayang, iya sama memang cucu umi. Dan sekarang Safa mau berbicara apa sama umi, apa Safa rindu dengan umi" Ucap Umi melembut.


"Sangat umi" Jawab Safa lesu.


"Insya Alloh nanti jika umi tidak sibuk" Jawab umi "Oh iya apa Safa sudah daftar ke perguruan tinggi?" Tanya umi.


"Belum umi, apa umi punya rekomendasi universitas yang bagus?" Tanya Safa.


"Ada sayang, jika mau kamu bisa mendaftarkan diri di Barrah Universitas. Itu Universitas punya adiknya Umi, biar nanti kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi uncle atau umi" Ucap umi.


"Baiklah umi nanti coba Safa daftar kesana, Makasih yang umi atas informasinya" Ucap Safa senang


"Yasudah umi Safa lanjut makan dulu ya, Assalamu'alaikum" Ucap Safa.


"Iya sama-sama sayang, wa'alaikumsalam" Jawab umi.


Setelah telfon berakhir Safa melanjutkan makan siangnya dan meminta pendapat dari mamanya untuk mencoba daftar kuliah di universitas yang uminya sebutkan tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Semua keluarga Atmaja berada dikamarnya masing-masing untuk beristirahat sejenak. Sedangkan dikamar Safa dia sibuk menyiapkan keperluan untuk mendaftarkan diri di Universitas nanti.


Tanpa sengaja Safa melihat peti yang dia simpan rapat dilemari pakaiannya, karena ingin mencari sesuatu yang belum ia temukan.


Safa membukanya dan melihat foto seorang wanita muda tengah menggendong bayi berumur 6 bulan. Safa meneteskan air matanya dia mengingat semua kejadian yang dia tahu dalam peti tersebut. Seluruh keluarganya menyembunyikan rahasia darinya terutama papanya yang tidak ingin Safa tahu.


Dia kembali menutup peti tersebut dan menyimpanya kembali dia juga tidak lupa menutup pintu lemarinya dan menguncinya.


Tok


Tok


Tok


Safa buru-buru menghapus air matanya yang membasahi pipinya. Kemudian membuka pintu kamarnya dan sedikit terkejut ketika melihat siapa orang yang berada di ambang pintu.


"Papa" Gumam Safa pelan tapi masih bisa didengar oleh nya.


Akhtar sengaja ingin menemui Safa ke kamarnya karena ingin meminta maaf atas sikap yang dia perbuat pada putrinya.


"Boleh papa masuk Safa?" Tanya Akhtar.


"Bo-boleh pa" Jawab Safa ragu.


Akhtar pun masuk dan duduk di sofa yang berada di kamar Safa. Sedangkan Safa berdiri di sampingnya. Akhtar yang melihat itu pun memulai pembicaraannya.


"Duduklah dekat papa, papa ingin berbicara denganmu" Ucap Akhtar sambil mengulurkan tangan nya agar Safa duduk di sampingnya.


Safa mengangguk dan menerima uluran tangan papanya.


"Maaf" Ucap Akhtar sambil memegang kedua tangan Safa. "Safa maafkan papa jika papa mendiamkanmu sejak Safa datang kerumah ini. Maafkan papa juga atas sikap yang tidak baik pada Safa, papa menyesal Safa. Benar kata nenek bahwa papa telah gagal menjadi ayah yang baik bagi Safa dan kedua adik Safa. Papa sangat egois sampai-sampai papa tidak mengerti keadaan Safa yang papa inginkan kalian yang harus mengerti papa. Sekali lagi maafkan papa Safa" Ucap Akhtar menangis sambil menundukan kepalanya.


Safa menangkup kedua pipi papanya sambil menghapus kedua pipi yang telah basah oleh air mata dan mencium kening papanya.


Cup


"Papa tidak salah, Safa yang salah pa seharusnya Safa tidak melakukan hal yang membuat papa dan mama kecewa, Safa juga minta maaf atas sikap Safa waktu itu" Ucap Safa yang berada dipelukan papa nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2