Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #20


__ADS_3

Sarah masih setia berdiam diri di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Safa.


"Kau dari tadi masih berdiam diri di situ?" Tanya Humita yang berjalan kearahnya.


"Iya mi" Jawab Sarah yang masih melihat kearah pintu masuk.


"Dari tadi pagi kau terlihat gelisah, apa yang terjadi? Apa ada hal yang tidak mami ketahui?" Tanya Humita.


"Huh... " Sarah menghembuskan nafasnya pelan dan mulai menceritakannya dari awal.


"Mami juga sama khawatir pada Safa setelah kau menceritakan apa yang terjadi. Tapi disisi lain, kita juga jangan terlalu mengekang anak-anak kita. Takutnya mereka merasa risih dengan sikap kita ya mungkin menurut mereka kita itu berlebihan dalam mengambil sikap" Tutur Humita pada menantunya.


Sarah hanya diam dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya, dia juga sangat setuju harusnya sikap terhadap anak-anaknya tidak berlebihan.


"Iya mami benar, aku akan mencoba untuk tidak bersikap seperti itu" Jawab Sarah pasrah.


"Oh iya mami lupa memberitahu mu jika saat ini Safa berada di rumahnya Tania, tadi Tania memberi pesan pada mami. Mungkin sore hari dia baru pulang" Ucap Humita yang melihat wajah Sarah jadi sedih.


"Biarkanlah Safa berbaur dengan teman-temannya agar dia tidak suntuk jika berada dirumah terus-menerus" Ucapnya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Di rumah Tania. ...


"Assalamu'alaikum" Ucap ketiganya.


Siapa lagi kalau bukan Safa, Tania dan Tessa yang saat ini sedang berada di rumah Tania.


"Bundaaaaaa" Teriak Tessa memanggil bundanya Tania


"Isshhhh, kau ini kebiasaan main teriak-teriak aja. Lo mau kuping gue copot dari tempatnya" Ucap Tania kesal.


"Tess, gak baik manggil orang tua sambil berteriak seperti itu" Ucap Safa memberitahu Tessa.

__ADS_1


"Sorry fa, gue tuh paling gak bisa jadi cewe kalem, hehe" Jawab Tessa dan Safa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah Tessa.


"Sayang, kan kamu bisa menyuruh orang rumah untuk memanggilkan bunda, kenapa kamu suka sekali berteriak sihh nak" Ucap wanita yang sangat cantik dengan nada bicara yang sangat lembut


Siapa lagi kalau bukan ibunya Tania, meskipun umurnya sudah memasuki kepala empat, tapi wajah cantiknya masih sangat terlihat. Safa yang baru pertama kali bertemu bundanya Tania sangat kagum dengan kecantikan serta kelembutan sama berbicara. Samalah dengan mama nya Safa cantik, lembut jarang sekali marah-marah.


"Hehe, maaf bun" Ucap Tessa cengengesan.


"Kalian sudah pulang?" Tanya Bunda nya Tania yang bernama Farah Tania dan Tessa pun menciun punggung tangan bunda secara bergantian.


"Bukan bun ini roh kami. Ck jika kami ada disini berarti kami sudah pulang ibunda ratu" Jawab Tessa.


Karakter Tessa memang kaya gitu suka ceplas-ceplos.


"Tessa" Panggil Safa, karena menurutnya jawaban Tessa sedikit tidak sopan.


Tessa yang melihat wajah Safa seperti tahu.


"Hehe piss" Jawab Tessa dengan jari membentuk huruf V.


"Oh iya bun kenalin ini teman baru kita namanya Safa" Ucap Tania memperkenalkan Safa pada pada bundanya.


"Assalamu'alaikum, Safa tante" Ucap Safa sambil mencium punggung tangan bunda Farah.


"Walaikumsalam nak, masha Allah" Jawab bunda yang kagum dengan sikap Safa yang sangat sopan pada orangtua.


"Ayo masuk, duduklah dulu bunda kebelakang dulu ngambil cemilan untuk kalian, sayang ajak Safa masuk, bunda kebelakang dulu" Titah bunda pada Tania dengan berlalu pergi


"Iya bun, ayo fa duduklah dulu, anggap saja rumah sendiri" Ucap Tania sambil duduk disebarang Safa dan Tessa.


"Ini cemilan nya ayo dimakan nak Safa, nanti makan siang di sini ya bunda sudah menyiapaknnya untuk kalian" Ucap bunda yang datang membawa cemilan dan duduk disebelah Tania.


"Terima kasih tante, maaf sudah merepotkan" Jawab Safa ramah tapi sedikit tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya cemilan saja ko. Oh iya jangan panggil tante panggil bunda saja sama seperti Tessa" Ucapnya pada Safa.


"Iya bun-bunda" Jawab Safa canggung.


"Oh iya bun, bunda tahu tidak anak pertamanya om Akhtar?" Tanya Tania pada bundanya yang duduk disebelah dirinya.


"Tentu saja bunda tahu, bunda tahunya waktu dia bayi sampai berumur 5 tahun, karena waktu itu bunda memutuskan tinggal diluar negeri bersama ayahmu karena ada pekerjaan disana dan setelah itu bunda tidak tahu lagi. Tapi waktu itu om Akhtar pernah menelpon bunda untuk memberitahu jika putri sulungnya akan bersekolah asrama, dan setelah itu bunda tidak tahu lagi" Tutur Farah.


"Apa bunda masih ingat dengan wajah putri sulungnya om Akhtar seperti apa?" Tanya Tessa yang menimpali percakapan bunda Farah dan Tania sambil memasukan cemilan kedalam mulutnya.


"Waktu kecil sih dia anak yang sangat cantik, tapi bunda tidak tahu wajahnya yang sekarang, mungkin tambah cantik kayanya. Yang jelas umurnya sama dengan kalian. Dan satu lagi bunda juga lupa namanya siapa bunda hanya tahu nama belakangnya saja kalau ga salah Maysoora Atmaja, tapi nama depannya bunda lupa. Lagian om kalian berdua itu tidak pernah memberi kabar lagi pada bunda mengenai putri sulungnya, bunda juga gak tahu dia sudah pulang atau belum dari sekolah Asramanya" Lanjutnya lagi dengan wajah sedih.


Karena waktu Safa kecil Bunda Farah sudah menganggap Safa sebagai putri kandungnya sendiri, sama seperti Tessa yang sudah dia anggap putrinya. Memberikan kasih sayang dan perhatian layaknya orangtua kandung.


Mata Safa mulai berkaca-kaca mendengar penuturan bundanya Tania mengenai dirinya tahu jika bunda Farah juga akan menyayangi dirinya jika tahu Safa adalah putri dari teman masa sekolahnya.


Farah yang melihat Safa memperhatikannya dengan mata yang berembun berjalan kearahnya.


"Sayang apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Farah yang sudah berada di samping Safa dan membelai rambutnya.


"Bun, ini Safa putrinya om Akhtar. Dia adalah Safa Maysoora Atmaja anak sulung sekaligus cucu pertama keluarga Atmaja" Jawab Tessa.


"Safa" Gumam Farah dengan mengingat nama itu.


"Ya, iya itu namanya Safa. Ja-jadi ini Safa anaknya Akhtar?" Tanya Farah memastikan dan diangguki oleh Tania dan Tessa.


"Ya Allah, terimakasih kau telah mempertemukan aku dengan putriku yang lain" Lirih Farah sambil membawa Safa kepelukannya dan Safa pun membalas pelukan itu.


"Apa kabar sayang? Bunda sangat merindukanmu, bunda juga tidak pernah putus untuk berdo'a pada Allah agar bisa bertemu dengan mu kembali" Ucap Farah yang menangis dipelukan Safa.


Tania menghampiri ibunya dan duduk disebelah kanan ibunya yang memeluk Safa. Tangan Tania mengusap punggung ibunya untuk menguatkan sedangkan Tessa mengusap punggung Safa.


"Akhtar benar-benar keterlaluan, dia menyembunyikan kedatanganmu pada bunda" Ucap Farah kesal

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2