
"Sayang ayo makan, bi Yuni bilang kalian belum makan sejak tadi siang" Ucap Humita.
"Iya nek" Ucapnya serempak dengan lesu.
"Sini bunda ambilin, Yumna dan Yasmin mau makan apa?" Tanya Farah mendekat kearah mereka berdua dan mengisi piring dengan nasi.
"Apa aja bun, tapi Yumna nasinya sedikit saja" Jawab Yumna.
"Baiklah, bunda isi dengan sayur dan ayam goreng saja ya" Ucap Farah sambil memberika piring berisi makanan pada Yumna.
"Yasmin juga mau bun, samain aja sama kakak" Ucap Yasmin
"Baiklah" Jawabnya.
Setelah makan malam mereka memutuskan untuk berbincang diruang keluarga.
"Nek, yang lain pada kemana? Kok tadi Yasmin dan kakak pulang rumah sepi. Yasmin kira kalian pergi tanpa mengajak kita" Ucap Yasmin cemberut.
Farah yang membawa cemilan dan menyimpannya diatas meja, berjalan ke arah Yasmin.
"Mana mungkin mereka pergi tanpa mengajak kalian" Jawab Farah yang sudah duduk ditengah-tengah Yumna dan Yasmin.
Sedangkan Tania duduk bersebelahan dengan Humita sambil merangkul lengannya dan menyenderkan kepalanya.
"Trus kakak dimana? Mama papa juga tidak ada. Pasti mereka pergi kan bertiga tanpa ngajak kita, terutama Yasmin" Ucapnya semakin cemberut dan melipat kedua tangan didada.
"Bukannya Tana juga tidak ada di rumah. Mengapa kamu malah nyalahin kakak, mama dan papa" Ucap Humita yang duduk bersebrangan dengan Yasmin.
"Kalau Tana mah ga usah ditanya nek, pasti ada di rumah sakit" Jawab Yasmin ketus
Yumna memang tipe anak yang cuek jadi dia tidak terlalu memikirkan kemana perginya orang-orang rumah. Yang jelas ketika Safa kecelakaan hatinya mendadak resah.
"Bunda akan jelasi pada Yasmin. Setelah Yasmin dengar penjelasan bunda apa Yasmin akan tetap marah pada kakak" Ucap Farah lembut
Humita melihat kearah Farah seolah memberi kode untuk tidak memberitahu keadaan Safa. Tapi Farah malah menganggukan kepalanya menandakan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Kalian tahu, kakak mengalami kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit ditemani oleh mama dan papa kalian. Dan Tana langsung yang mengurusnya" Ucap Farah.
__ADS_1
Yunma dan Yasmin yang duduk menyender pada sofa langsung duduk dengan tegak. Mereka kaget mendengar jika kakaknya kecelakaan dan tidak ada yang memberitahunya.
"Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahu kami? Terus bagaimana keadaan kakak saat ini? Kalau gitu Yumna mau pergi ke rumah sakit saja, Yumna mau ketemu sama kakak" Tanya Yumna dengan begitu detail dan sedikit kesal karena tidak diberitahu dan sedih karena keadaan kakakanya sedang tidak baik-baik saja dan ingin beranjak dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Yumna besok saja kita kembali kesana setelah kalian pulang sekolah. Ini sudah malam kita lebih baik istirahat" Ucap Humita mencegah Yumna untuk pergi.
Yumna yang kesal langsung pergi keatas menuju kamarnya dengan membanting pintu cukup keras tidak lupa menguncinya dan membuat semua orang kaget.
"Sayang dengar dulu" Terak Humita berdiri dari duduknya dan akan menyusul Yumna tapi dihentikan oleh Farah.
"Tidak usah mi, berikan Yumna waktu untuk sendiri. Mungkin dia kaget dengan kebenaran ini. Mami kan tahu Yumna paling gak bisa liat atau dengar kakak terluka" Ucap Farah.
"Huh, baiklah" Jawab Humita pasrah dan kembali duduk.
"Yas, ayo kita tidur besok kan Yas harus pergi sekolah" Ucap Tania mengajaknya untuk tidur.
"Tapi besok Yas tidak ingin sekolah kak. Yas ingin kerumah sakit saja" Jawab Yas lesu.
"Yas apapun yang terjadi Yas dan kakak harus tetap sekolah. Jangan karena kakak sedang sakit dan kalian menggunakan alasan itu untuk tidak masuk sekolah" Ucap Humita tegas.
Karena bagaimanapun pendidikan sangatlah penting. Tidak ada alasan apapun untuk berhenti belajar.
"Yas, yas" Teriak Humita memanggil Yasmin yang sudah jauh.
"Sudahlah mi, jika Safa sadar nanti bawa mereka ke rumah sakit, pasti Safa bisa membujuk kedua adiknya untuk tetap sekolah" Ucap Farah.
Humita hanya diam, tapi ada benarnya apa yang dikatakan Farah, karena mereka selalu nurut apa yang Safa perintahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikampus
"Lo udah dari tadi?" Tanya Tania menghampiri Tessa yang menunggunya diterbangkan kampus.
"Lumayanlah, lo pakai mobil siapa?Kok gue baru liat mobil lo yang itu?" Tanya Tessa sambil melihat kearah mobil yang telah meninggalkan area kampus.
"Oh itu mobil papa, semalam gue nginep dirumahnya" Jawab Tania.
__ADS_1
"Oh mobilnya papa, kirain siapa" Ucap Tessa.
Tania dan Tessa mulai membiasakan diri untuk memanggil Akhtar dan Sarah dengan sebutan papa dan mama.
"Ehh tunggu sebentar" Ucap Tessa menghentikan jalannya dan memperhatikan Tania dari atas sampai bawah.
"Apaan si lo, gak pernah ya liat cewe cantik kaya gue" Ucap Tania sedikit kesal karena tiba-tiba Tessa memperhatikannya seperti itu.
"Lo habis nangis ya?"Tanya Tessa dengan memicingkan matanya.
"Atau jangan-jangan lo nyembunyiin sesuatu dari gue?" Tanyanya lagi.
"Hiks hiks" Tania memeluk Tessa dengan badan yang bergetar karena menangis.
"Gue cuma nanya loh Tan tanpa menyakiti lo" Ledek Tessa tapi Tania malah semakin terisak.
"Tan, ada apa? Apa yang terjadi? Apa ada yang nyakitin lo, jawab Tan jangan bikin gue khawatir karena lo tiba-tiba nangis" Ucap Tessa mengusap punggung Tania.
"Jika lo belum mau cerita yasudah kita tunggu Safa dulu. Nanti jika Safa sudah sampai lo harus cerita" Ucap Tessa melepaskan pelukan Tania.
"Safa gak akan datang Tess" Ucap Tania disela isak tangisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dirumah sakit Safa sudah dipindahkan ke ruangan yang luas, bisa dibilang ruang VVIP.
"Bang Safa sudah aku pindahkan keruangan perawatan di lantai 3. Kalian bisa menemaninya didalam. Karena kondisi Safa mulai membaik tinggal menunggu untuk siuman" Tutur Afsana kepada Akhtar dan melirik sekilas ke arah Sarah.
Sarah menatap Afsan dengan nanar. Dia merasa bersalah karena sudah menamparnya dengan begitu keras sampai masih terlihat sedikit merah dikedua pipinya.
"Kalau begitu aku permisi, jika ada apa-apa abang bisa panggil aku diruang kerja" Ucap Afsana.
Afsana juga tidak menyalahkan Sarah karena telah menamparnya. Afsana mengerti perasaan Sarah karena dia juga sama-sama perempuan meskipun belum menikah. Dan tahu bagaimana rasa sayang Sarah pada Safa melebihi dirinya sendiri.
"Afsana" Panggil Sarah pelan dan mulai berjalan kearahnya.
__ADS_1
Akhtar tahu jika Sarah sudah menampar Afsana. Akhtar juga tidak membenarkan apa yang dilakukan Sarah pada adiknya. Yang jelas Sarah bersalah karena menyalahkan Afsana atas keadaan Safa. Mungkin karena Sarah terlalu menyayangi Safa sampai dia kehilangan kendali.
Bersambung