
"Kakak pergi ke kamarnya ma, katanya dia tidak mau diganggu dan ingin sendirian" Jawab Yumna membuat Sarah khawatir.
"Tumben Safa ingin sendirian kak? biasanya waktu Safa kecil dia tidak suka sendirian, dia selalu ingin berkumpul dengan kita" Tanya Afsana.
"Kakak juga gak tahu na, akhir-akhir ini kakak selalu mengkhawatirkan keadaan Safa" Jawab Sarah sambil duduk di sofa yanga berada di kamar Yumna.
"Kak Safa akan baik-baik saja, kakak tidak perlu mengkhawatirkan atau memikirkan hal yang buruk-buruk tentang keadaan Safa. Mungkin itu hanya perasaan kakak saja, kaka berdo'a saja semoga semua keluarga kita baik-baik saja" Ucap Afsana menenangkan kakak iparnya.
"Kamu benar, mungkin ini hanya perasaan kakak saja. Semoga saja semuanya baik-baik saja" Jawab Sarah mencoba untuk tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar Safa
Safa sedang memandang foto dirinya yang di gendong oleh seorang wanita. Wanita itu bukan Sarah, Humita ataupun Afsana. Dia menangis melihat foto yang berada ditangan nya
Safa menyimpan foto itu kembali kedalam peti dan memasukannya kedalam lemari dan tidak lupa menguncinya.
Safa duduk si sofa dekat jendela dengan tangan memeluk kaki sambil terisak.
"Ya Allah tolong kuatkan Safa" Lirih Safa.
Safa pun mulai berbaring di sofa tersebut dengan perlahan matanya mulai terpejam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikamar pasangan suami istri, ya siapa lagi kalau bukan Akhtar dan Sarah.
Sarah sedang berdiri didekat jendela dengan tangan dilipat didada sambil memikirkan tentang Safa.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Akhtar yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Akhtar melihat istrinya yang sedang melamun lalu menghampirinya dan memeluknya dari belakang dengan dagu di atas bahu istrinya.
"Ada apa?" Tanya Akhtar dengan tangan Sarah memegang tangan Akhtar yang berada diperutnya.
"Setelah Safa kembali entah kenapa aku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Dan sejak kembali juga dia tidak seceria dulu sebelum pergi. Aku tahu dia sudah beranjak dewasa dan membutuhkan privasi. Tapi aku merasa ada hal lain yang membuat dia murung" Ucap Sarah membalikan badan berhadapan dengan Akhtar.
__ADS_1
"Duduklah" Ucap Akhtar mengajak Sarah untuk duduk ditepi ranjang.
"Aku juga merasakan hal yang sama, dikantor juga pikiranku sangat kacau aku selalu memikirkan Safa. Selama ini aku tidak pernah merasakan hal yang begitu membuat pikiran ku akhir-akhir ini kurang konsentrasi jika melakukan pekerjaan di kantor" Ucap Akhtar memeluk pinggang istrinya dari samping.
"Dengan apa yang kau katakan padaku rasa takutku jadi bertambah" Ucap Sarah sedih.
"Tenanglah, aku akan mencari tahu tentang Safa. Tapi jangan beritahu yang lain takutnya mereka juga ikut khawatir" Jawab Akhtar membawa Sarah kedalam pelukannya dan Sarah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Akhtar membuat Akhtar tegang.
Sarah yang tahu jika suaminya sudah tegang malah terus memancingnya dengan mengalungkan kedua tangan dileher suaminya.
"Jangan memancingku sayang" Ucap Akhtar menahan desahannya.
"Aku tidak memancingmu, hubby" Ucap Sarah ditelinga Akhtar membuat pria itu tidak bisa menahannya lagi.
Dan terjadilah pergulatan panas.
Skip
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya
Safa pergi ke kampus pagi hari sebelum keluarganya keluar kamar untuk sarapan. Safa juga tidak berpamitan pada keluarganya bahkan dia juga tidak sarapan. Safa hanya menitipkan pesan kepada maid yang berkerja dirumahnya bahwa dia berangkat pagi dengan alasan mempelajari pelajaran yang tertinggal.
"Sudah nyonya muda" Jawab salah satu maid yang bernama Yuni.
"Baiklah, panggilkan semua orang untuk sarapan" Titah Sarah dengan lembut.
"Baik nyonya" Jawabnya.
"Sudah saya panggilkan nyonya, sebentar lagi mereka semua akan turun" Ucap Yuni.
"Oh iya nyonya saya baru inget, tadi pagi nona Safa berpesan bahwa dia pergi lebih dulu ke kampus untuk mempelajari pelajaran yang tertinggal. Tapi... " Ucap Yuni terpotong karena ragu untuk melanjutkannya.
"Tapi apa? Tanya Sarah menyelidik.
" Ta-pi nona Safa tidak sarapan dan pergi menggunakan angkutan umum" Jawab Yuni sambil menundukan kepalanya karena takut akan tatapannya.
"Apa? Mengapa kau mengizinkan putriku pergi sendirian Yuni. Mengapa kau tidak memanggilkan Ragil untuk mengantarkan putriku ke kampusnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Safa dijalan nanti. Dia juga belum terlalu hafal jalanan kota ini. Apalagi dia belum sarapan penyakit maag nya akan kambuh jika dia telat untuk sarapan" Ucap Sarah khawatir dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Sarah memang akhir-akhir ini selalu mengkhawatirkan keadaan Safa. Apapun sesuatu yang menyangkut dengan Safa dia akan sangat cemas.
Sarah juga bingung mau mengubungi siapa? Sedangkan Safa belum ia belikan handphone. Menelpon kedua temannya juga percuma karena Sarah tidak memilikinya.
Sarah berlari kembali ke kamarnya, dia melihat suaminya sedang memasukkan berkas-berkas untuk pergi ke kantor.
"Mas, apa kamu memiliki nomor kedua temannya Safa?" Tanya Sarah berdiri di samping suaminya.
"Kalau tidak salah aku hanya memiliki nomor Tania, memangnya ada apa?" Tanya Akhtar.
"Cepat telpon Tania, dan tanyakan padanya apa Safa sudah berada di kampusnya?" Ucap Sarah khawatir.
"Safa mungkin masih berada di kamarnya, kan aku sudah bilang padanya bahwa aku yang akan mengantarkan ke kampusnya setiap hari" Jawab Akhtar yang tidak tahu apa yang terjadi.
"Tidak mas, Yuni bilang Safa sudah pergi pagi sekali menggunakan kendaraan umum dan dia juga belum sarapan mas. Aku sangat mengkhawatirkannya. Cepat kau telpon temannya Safa. Tanyakan keberadaan nya" Ucap Sarah semakin panik.
"Baiklah, aku akan coba menghubungi Tania, dan kau tenanglah semoga Safa baik-baik saja" Ucap Akhtar mencoba menenangkan istrinya.
Akhtar merogoh ponselnya yang berada disaku celananya.
Tut
Tut
"Hallo Assalamu'alaikum om" Ucap Tania disebrang sana.
"Walaikumsalam Tan, om hanya ingin menanyakan, apa Safa sudah berada dikampus? Soalnya Safa berangkat sangat pagi sekali" Tanya Akhtar.
"Tania masih di rumah om, lagian kenapa Safa berangkat pagi sekali. Kan kampus bukanya pukul 8 dan ini baru pukul setengah 7. Apa Safa lupa kali yah, tapi kemaren sudah aku ingatkan lagi" Jawab Tania bingung.
"Baiklah kalau begitu, Terima kasih yang Tan. Maaf om sudah mengganggumu pagi-pagi" Ucap Akhtar.
"Iya tidak apa-apa om, kalau begitu Tania tutup telepon nya. Assalamu'alaikum" Ucap Tania.
"Walaikumsalam" Jawab Akhtar dengan mematikan telpon tersebut.
Sarah yang sejak tadi berdiri didekat suaminya hanya menyimak percakapan antara Tania dan suaminya.
"Bagaimana? Apa Safa sudah sampai kampus?" Tanya Sarah yang tidak tahu apa yang dikatakan Tania pada suaminya.
__ADS_1
Akhtar ingin berbohong kepada Sarah agar tidak terlalu khawatir, tapi Sarah akan tahu jika dirinya berbohong.
Bersambung