
Ketika mereka sedang makan tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka.
Brak
Seorang wanita menggebrak meja yang dimana Safa dan teman-temannya sedang makan. Mereka bertiga kaget dengan kedatangan seseorang terutama Safa karena tidak mengenal mereka sama sekali.
"Shelyn, apa-apaan sih lo" Ucap Tessa dengan kesal sambil berdiri dan melihat seorang wanita yang menggebrak meja dengan tatapan tajam.
Seorang yang menggebrak meja ialah Shelyn. Shelyn adalah mantan pacar Jauhar yang sudah Jauhar putuskan sudah sangat lama. Tapi Shelyn tetap masih menganggap Jauhar pacarnya dan tidak pernah ingin putus darinya. Bukankah tidak tahu malu bukan perempuan seperti itu?.
"Diam lo, gue hanya ingin memperingati anak baru di kampus ini" Ucap Shelyn dengan angkuhnya sambil menatap ke arah Safa.
"Shelyn lo gausah deh cari gara-gara di lingkungan kampus" Ucap Tania tapi tidak didengar oleh Shelyn.
"Siapa nama lo tadi emmm Safa. Jangan pernah lo deket-deket pacar gue, jika gue masih lihat lo keganjenan sama pacar gue. Abis lo" Ucap Shelyn pada Safa dengan tangan menunjuk Safa.
"Cabut girls, panas lama-lama deket cewe-cewe kampungan" Ucap Shelyn pada teman-temannya dan pergi keluar kantin.
"Dasar cewe gila" Ucap Tessa.
"Safa lo ga usah dengerin apa kata Shelyn. Dia emang begitu orang nya rada-rada" Ucap Tessa mencoba menenangkan Safa agar tidak terlalu memikirkan ucapan Shelyn.
"Iya Safa, Shelyn emang orang yang sangat sombong di kampus ini. Mahasiswa dikampus ini pada takut dengannya, cuma kita berdua yang tidak takut dengannya" Ucap Tania.
"Aku gak ngerti maksud ucapan nya. Pacar? Kapan aku dekat dengan laki-laki aku aja baru masuk di kampus ini" Ucap Safa bingung.
Tidak lama kemudian Safa nampak berfikir karena merasa penasaran dengan ucapan Shelyn yang menyuruhnya menjauhi pacarnya.
"Perasaan aku tidak dekat dengan cowo manapun. Cuma.... " Ucapan Safa terpotong karena memikirkan laki-laki yang disebut pacar oleh Shelyn sambil mengetuk dagunya menggunakan telunjuk.
"Cuma apa?" Tanya Tania dan Tessa serempak sambil mendekatkan wajah ke arah Safa karena penasaran.
"Ishh, kalian kompak sekali. Cuma tadi ketika aku masuk universitas ini ada cowo bernama Jauhar yang tiba-tiba mengantarkan aku keruangan Dekan" Ucap Safa.
"Hah Jauhar, dia itu mantan pacarnya Shelyn. Jauhar sudah memutuskan nya tapi ulat bulu itu masih saja menganggapnya pacar" Ucap Tessa tidak percaya karena Jauhar tipe orang yang tidak peduli pada orang yang tidak dikenal nya.
__ADS_1
"Ulat bulu?" Tanya Safa bingung.
"Shelyn" Jawab Tania
"Oh, kau tidak boleh menyebut nama orang sembarangan Tessa" Ucap Safa memperingati Tessa.
"Hehe maaf" Ucap Tessa cengengesan dengan jari membentuk huruf V.
"Ha ha ha, kau ini seperti takut dengan Safa" Ucap Tania sambil menertawakan. Tessa hanya memcebikkan bibirnya kerena ledekan Tania.
"Kenapa meski takut, bukankah sesama teman kita harus saling memberitahu mana yang baik dan yang tidak" Ucap Safa kepada kedua temannya.
"Gue bukan takut, meskipun gue belum tahu banyak tentang Safa, tapi gue merasa ketika dekat dengannya aura nya positif banget ngerasa adem aja deketnya" Ucap Tessa.
"Lo bener, gue juga merasa gitu" Jawab Tania.
"Alhamdulillah kalau kalian nyaman berteman sama aku" Ucap Safa sambil tersenyum
"Kalau boleh tahu lo lulusan mana fa" Tanya Tessa.
"Pantesan, beruntung banget gue dapet temen baru kaya lo, hidup gue bisa jadi lebih positif dibanding sebelumnya" Ucap Tania sambil melirik ke arah Tessa.
"Jadi selama berteman sama gue hidup lo penuh dengan energi negatif gitu" Jawab Tessa dengan kesal.
"Emang bener kan, lo itu pernah ngajak gue bolos kuliah, masa sih lo ga inget" Ucap Tania sambil menaikan sebelah alisnya.
"Yaelah Tan cuma sekali doang, itu pun udah sangat lama. Lagian kenapa sih lo selalu inget keburukan gue, kali-kali inget ke sama kebaikan gue" Jawab Tessa dengan cemberut.
"Gak usah cemberut gitu, geli gue lihatnya" Ucap Tania terkekeh geli sambil melemparkan tisu yang sudah dipakai lap tangan ke muka Tessa.
"Isshhh, jorok banget sih lo" Jawab Tessa sambil menyingkirkan tisu yang ada dihadapannya ke arah lain.
"Sudah-sudah kalian bertengkar mulu" Ucap Safa menengahi. "Ayo kita balik ke kelas, dari pada ribut disini malu tahu" Ucapnya lagi dan diangguki oleh Tania dan Tessa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jam pelajaran selesai
"Tess mau langsung balik atau mau main dulu?" Tanya Tania.
"Pengennya main sih, tapi gue lagi bete sama lo" Jawab Tessa lesu.
"Yaelah gue hanya bercanda tapi lo malah ngambek gitu. Yaudah deh gue minta maaf" Ucap Tania.
"Iya gue maafin" Ucap Tessa.
"Nah gitu dong akur, jadi seneng kan aku lihatnya" Ucap Safa melihat temannya sudah berbaikan.
"Jawab dulu pertanyaan gue yang tadi ege" Ucap Tania yang dari tadi menunggu jawaban Tessa.
"Iya hayu kalau lu mau main dulu" Jawab Tessa. "Lo gimana Safa mau ikut main kagak?" Tanya Tessa kembali.
"Pengen sih, tapi lain waktu aja karena hari ini pertama kuliah jadi aku ga mau pulang terlambat" Ucap Safa yang sebenernya ingin main agar lebih bisa mengenal kedua sahabatnya.
"Yah gak asik lo" Ucap Tessa.
"Yaudah gimana kalau kalian aja yang main ke rumah aku?" Tanya Safa melihat ke arah sahabatnya.
"Boleh deh, ayo Tan biar kita bisa mengenal Safa lebih dekat lagi, oh iya jangan lupa sekalian kasih tahu orang tua gue" Jawab Tessa sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kebiasaan lo, yaudah ayo. Nanti deh gue kasih kabarnya pas di rumah Safa" Jawab Tania.
Karena memang kalau Tania dan Tessa mau pergi main atau shopping ke mall pasti Tania yang selalu memberi kabar mamanya Tessa agar di izinkan pergi. Karena mamanya Tessa percaya pada Tania, karena papanya mereka berteman sejak masa SMA sampai sekarang.
"Yaudah ayo" Ucap Tessa sambil berjalan terlebih dahulu.
Mereka bertiga pergi ke rumah Safa menggunakan mobil milik Tania. Tania dan Tessa adalah orang yang berada, tapi tidak sombong seperti Shelyn. Padahal orang tuanya Shelyn masih tidak ada apa-apa nya dibandingkan mereka, apalagi saat ini ada Safa yang bisa dibilang jauh lebih berada dari pada Shelyn.
Orang tua Shelyn hanya memiliki beberapa restoran dan beberapa tempat laundry. Tapi tingkahnya sangat sombong. Berbeda dengan Safa, Tania dan Tessa meskipun orang tua mereka berada dan memiliki usaha yang sangat dikenal oleh masyarakat tapi tidak sampai membuat mereka sombong, apalagi sampai menindas masyarakat menengah.
Bersambung
__ADS_1