
"Dan siapa orang itu?" Tanyanya kembali.
"Emmm i-itu... " Ucapnya gugup
"Ka-rina iya Karina kalau ga salah pa, tadi Safa sempat melihat nama yang menempel pada bajunya" Jawab Safa dengan pasti.
"Baiklah nanti papa akan beri peringatan padanya" Ucap Akhtar.
"Tidak perlu pak, lagian saya juga tidak apa-apa kok" Ucap Valen merasa tidak enak, takutnya karyawan yang lain menyebut Valen cari perhatian pada atasannya.
"Tidak Valen, justru seharusnya karyawan disini saling menghargai satu sama lain bukan saling menindas. Anggaplah ini juga sebagai permintaan maaf saya karena menyerempetmu dipinggir jalan.
" Lohh kenapa papa gak hati-hati. Untung mba Valen gak kenapa-napa" Sahut Safa yang sedikit kaget.
"Iya papa waktu itu meleng, memikirkan pertikaian kita di rumah" Jawab Akhtar.
"Maaf pa" Lirih Safa sambil menunduk karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Lagian semuanya sudah berlalu" Ucap Akhtar mendekat kearah Safa dan duduk di sampingnya sambil memeluknya.
"Kalau begitu saya permisi ya pak, soalnya didepan tidak ada yang jaga. Mari nona" Ucap Valen ramah.
"Iya len" Jawab Akhtar.
"Iya mba Terima kasih ya udah nganterin Safa keruangan papa" Ucap Safa dan dibalas dengan senyuman oleh Valen.
"Oh iya, ada apa kamu datang ke kantor papa?" Tanya Akhtar setelah Valen pergi keluar.
"Safa ingin menanyakan sesuatu yang penting pada papa" Ucap Safa serius.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang membuatmu resah?" Tanya Akhtar.
"Menurut Safa ini hal yang sangat penting. Tapi mungkin bagi papa ini tidak penting" Jawab Safa dengan menahan tangisnya.
"Jika papa tahu maka papa akan menjawabnya" Ucap Akhtar tersenyum.
"Siapa wanita yang bernama Dania Putri?" Tanya Safa menatap kedua mata papanya.
DEG
__ADS_1
Akhtar berdiri dari duduknya dia tidak percaya akan hal yang ditanyakan padanya.
"Papa tidak tahu dan papa tidak mengenalnya. Sebaiknya kau pulang saja papa masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan" Jawab Akhtar dingin sambil kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Safa tidak akan pulang sebelum papa menjawab pertanyaan Safa. Siapa Dania Putri, apa dia ada hubungannya dengan keluarga kita terutama Safa?" Tanya Safa kembali dengan mendekatkan dirinya pada sang papa.
Dia tidak peduli kali ini jika papanya akan menyakitinya, yang penting dia bisa tahu jawabannya hari ini juga.
"Papa tidak tahu siapa wanita iblis itu" Teriak Akhtar membuat Safa kaget. "Sekarang pergilah dari kantorku dan satu hal lagi jangan pernah menanyakan apapun tentang wanita itu" Ucap Akhtar dengan sangat emosi.
"Safa sudah katakan barusan pada papa bahwa Safa tidak akan pulang, Safa ingin mendengar penjelasan dari papa mengenai wanita bernama Dania itu" Kekeh Safa.
"Sudah aku katakan jangan pernah menyebut wanita iblis itu" Teriak Akhtar dengan mata yang memerah didepan Safa sambil mencengkram lengan Safa dengan keras.
"Yang papa sebut wanita iblis itu adalah ibu kandung Safa. Orang yang sudah melahirkan Safa pa"Teriak Safa didepan Akhtar dengan cengkraman tangannya semakin longgar.
DEG
"Kau tahu?" Tanya Akhtar tidak percaya jika Safa telah mengetahui kebenarannya.
"Safa tahu semuanya pa, Safa tahu. Safa bukan anak kandung mama Sarah. Safa anak dari seorang pembunuh pa. Pantas saja Tana sangat membenci Safa, hiks hiks. Karena ibu Safa yang membuat kakek tiada" Jawab Safa disela isak tangisnya.
"Maaf, atas perlakuan mama kandung Safa pada keluarga papa. Safa merasa malu pada kalian semua. Seharusnya kalian juga membenci Safa karena Safa lahir dari rahim seorang pembunuh. Tapi kalian malah tetap menyayangi Safa terutama nenek, dia orang yang sangat terpukul kan pa waktu itu. Jika Safa boleh memilih lebih baik tidak lahir didunia ini, dari pada harus lahir dari rahim seorang wanita yang sudah membuat Safa kehilangan sosok kakek" Ucap Safa masih menangis dipelukan papanya.
"Papa sudah bahagia dengan keluarga papa saat ini. Terutama kebahagiaan papa bertambah karena memiliki seorang putri yang sanga papa sayangi yaitu Safa. Papa bisa tegar seperti sekarang karena Safa. Maafkan papa karena sudah menutupi semuanya dari Safa" Ucap Akhtar.
Safa tidak menjawab dia masih menangis dipelukan papanya.
"Yasudah papa antar pulang" Ucap Akhtar melepas pelukan Safa dan menghapus air mata dipipi Safa.
"Tidak usah pa, Safa bisa sendiri. Assalamu'alaikum"Jawab Safa tanpa menatap papanya sambil mencium punggung tangan papanya dan berlalu pergi.
Akhtar hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan meremas rambutnya. Dia seharusnya tidak menyembunyikan apapun dari Safa, inilah akibatnya jika menyembunyikan sesuatu dari orang yang kita sayangi, maka orang itu akan berubah dingin atau bahkan bisa menjauhi kita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Diperjalan pulang Safa menyetir dibalik kemudinya sambil menangis. Dia tidak menyangka papanya akan semarah itu terhadapnya ketika dia menanyakan tentang ibu kandungnya. Pikiran Safa melanglang buana dia dibuat pusing oleh kehidupan. Tapi sejahat apapun ibu kita mereka tetap lebih tua dari kita dan tetap harus kita hormati dan hargai, meskipun ibu kita seorang pelac*r sekalipun. Tidak ada yang namanya mantan ibu.
Cekitttttt
__ADS_1
"Aaaaaa mama" Teriak Safa.
Brakk
Kepala Safa cukup keras membentur stir mobil. Karena mobil yang Safa kendarai menabrak pohon. Karena fikiran nya kemana-mana membuat dia tidak konsentrasi dalam menyetir. Safa menghindari mobil didepannya dan membantingkan stir mobil kearah pepohonan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Dikediaman Atmaja...
Karena ini siang hari jadi suasana dikediaman Atmaja sepi karena ada yang bekerja, sekolah dan istirahat dikamarnya masing-masing. Sarah yang sedang menata makan siang untuk makan bersama keluarga dibuat resah
"Safa" Lirih Sarah saat sedang menyiapkan makan siang.
"Nyonya ada apa?" Tanya Yuni.
"Apa Safa sudah pulang?" Tanya Sarah dengan perasaan yang tidak baik-baik saja.
"Belum nyonya, mungkin sebentar lagi" Jawab Yuni.
"Hmmm baiklah, kau bisa lanjutkan kembali pekerjaanmu" Ucap Sarah.
"Baik nyonya" Ucap Yuni kembali ke dapur.
"Kenapa perasaanku tidak enak, tiba-tiba teringat dengan Safa. Ya Allah lindungilah putriku dimanapun dia berada" Ucapnya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil berwarna silver melintas ditempat kejadian, dia dibuat kesal dengan banyaknya orang-orang ditempat tersebut, membuat jalanan jadi macet.
"Ada apa sih ini?" Tanyanya sendiri.
"Pak ada apa? kenapa didepan sana banyak orang?" Tanya Tania pada salah satu orang saat menurunkan kaca mobilnya sedikit.
Yap benar sekali, mobil berwarna silver yang melintas tersebut adalah Tania. Dia baru pulang dari suatu tempat untuk membeli sesuatu.
"Kaya kenal mobilnya, tapi siapa ya. Ahh bodolah mendingan gue pulang aja" Gumam Tania saat sudah dekat dengan mobil yang menabrak pohon.
Bersambung
__ADS_1