
"Ululu, lucunya" Ucap Safa sambil mencubit kedua pipi Tessa karena gemas melihatnya cemberut.
Setelah adegan drama selesai mereka pun duduk di tempat masing-masing, karena dosen sudah masuk ke kelas mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oh iya fa lo jadi ke rumah gue?" Tanya Tania.
"Jadi dong, tapi bentar gue mau ngasih tahu dulu mama biar ga khawatir" Ucap Safa.
Tania dan Tessa melongo mendengar Safa menyebut dirinya dengan sebutan 'gue'. Safa bingung melihat kedua temannya yang melihat dirinya tanpa berkedip.
"Ada apa? Apa ada yang aneh?" Tanya Safa sambil melambaikan tangan di depan wajah mereka berdua.
"Tan apa gue gak salah denger ya?" Tanya Tessa menarik tangan Tania untuk mendekat.
"Lo ga salah denger Tess, gue juga denger ko" Jawab Tania.
"Ada apa sih, denger apa? Ohh gue tahu lo heran kan dengan kata 'gue'? Tanya Safa dan diangguki oleh keduanya.
" Lo berdua ga salah denger ko. Gara-gara berteman dengan kalian kuping gue jadi tidak suci lagi" Ucap nya lagi sambil berlalu dari hadapan mereka menuju ke tempat parkiran.
"Hah, tamatlah riwayat kita. Bagaimana tanggapan om Akhtar mengenai ini. Pasti dia akan menyalahkan kita" Ucap Tessa melongo melihat Safa pergi begitu saja.
"Om Akhtar tuh ga pernah marah sama gue, paling lo nanti yang kena omel, haha" Jawab Tania ketawa sambil berlalu meninggalkan Tessa yang bengong mendengar jawaban Tania.
"Isshhh, dasar temen ga ada akhlak" Gumam Tessa sambil mengikuti Tania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Dirumah Tania. ...
"Assalamu'alaikum" Ucap ketiganya saat memasuki rumah dan duduk di ruang tamu.
"Walaikumsalam" Jawab bunda sambil berjalan kearah putri-putrinya dengan mereka mencium punggung tangan nya secara bergantian.
"Kalian sudah pada pulang ternyata, yasudah kalian istirahat dulu di kamar Tania. Nanti bunda panggil lagi untuk makan siang" Ucap bunda Farah.
__ADS_1
"Ya bun" Jawab mereka serempak.
"Bun Safa bantu yah" Ucap Safa.
"Emangnya kamu tidak cape? Tanya bunda Farah pada Safa.
"Tidak bun" Jawab Safa.
"Yasudah kita berdua ke kamar dulu ya fa bun" Ucap Tania.
"Iya, ya udah ayo kita kedapur" Ajak bunda pada Safa setelah Tania dan Tessa pergi.
Didapur kini hanya ada bunda Farah dan Safa. Karena memang setiap masak Farah jarang sekali menyuruh artnya, karena suami dan anaknya hanya ingin masakan buatannya.
"Bun, kita mau masak apa? Biar Safa bantu menyiapkan yang lainnya" Tanya Safa yang melihat bunda Farah mengeluarkan peralatan masaknya.
"Bunda mau masak yang gampang saja, yaitu bihun goreng dan telur balado. Safa bantu bunda mengupas bawang saja, nanti sisanya biar bunda yang kerjakan" Jawab bunda dan diangguki oleh Safa.
"Oh iya bun, apa Safa boleh menanyakan sesuatu?" Tanya Safa dengan wajah serius.
"Bi, bibi" Teriak Farah pada artnya.
"Iya ada apa bu?"Tanya art tersebut
"Tolong lanjutkan ini dan jika sudah makan tolong siapkan dimeja. Saya ada urusan" Ucap Farah.
"Baik bu" Jawabnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kira-kira, hal apa ya yang Safa tanyakan pada bunda?" Tanya Tessa yang tidur diranjang.
"Gue juga ga tahu" Jawab Tania yang duduk di tepi ranjang.
"Nanti setelah makan siang kita tanyain aja langsung, biar ga penasaran" Ucap Tessa sambil memiringkan tubuhnya menghadap Tania.
__ADS_1
Kamar Tania
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Safa dan bunda Farah sedang berada dihalaman belakang rumah.
"Ada apa?" Tanya bunda Farah yang sudah duduk dikursi yang berada dihalaman belakang rumah.
"Apa bunda tahu siapa Dania Putri?" Tanya Safa yang berdiri membelakangi bunda Farah tanpa menatapnya.
DEG
Farah bingung harus menjawab apa kepada Safa. Disisi lain dia juga tidak mungkin mengatakan kebenarannya tanpa persetujuan papanya Safa yaitu Akhtar.
"Si-siapa dia, apa bunda mengenalnya?" Tanya Farah menutupi rasa gugupnya.
"Huhh, bunda tidak perlu menutupi apapun dari Safa. Karena Safa sudah tahu semuanya dari 5 tahun yang lalu" Ucap Safa mencoba untuk tegar.
"Ma-maksud Safa apa. Da-Dania siapa? Bunda tidak tahu apalagi bunda juga tidak mengenalnya sama sekali" Ucap bunda Farah mengelak.
"Orang yang Safa tanyakan pada bunda adalah mama kandung Safa kan bun. Bunda tahukan Safa dari kecil? pasti bunda tahu tentang Safa, apalagi bunda temannya papa semasa sekolah dulu" Ucap Safa dengan mata berkaca-kaca.
"Bun, sebenarnya Safa sudah tahu semuanya. Mengapa mereka menutupi semua ini dari Safa. Pantas saja dulu Tana sangat membenci Safa, Tana gak pernah sayang sama Safa. Dia baru sayang pada Safa setelah Safa kembali dari sekolah asrama. Apa karena Safa anak dari seorang pem..... " Ucapan Safa terpotong oleh bunda Farah.
"Tidak sayang, jangan katakan apapun lagi mengenai siapa dirimu. Safa adalah anak yang baik, siapapun Safa keluarga Safa tetap menyayangi Safa terutama bunda, bunda juga sangat menyayangi Safa. Apapun yang terjadi Safa tetap bagian dari keluarga Atmaja" Ucap bunda Farah yang berdiri menghampiri Safa dan memeluknya. Safa juga membalas pelukan bunda Farah.
"Hiks hiks hiks, kenapa nasib Safa sangat buruk bun. Jika keadaan Safa seperti Safa lebih baik tidak lahir, mengapa bun mengapa?" Tanya Safa dengan menangis tersedu-sedu dipelukan bunda Farah.
"Sayang, jangan berbicara seperti itu. Safa adalah anak yang kuat dan pemberani. Apapun yang terjadi Safa harus menerimanya dengan lapang dada, Safa juga harus iklhas menerima ini semua. Anggap saja ini hanya mimpi buruk Safa yang akan berakhir ketika Safa bangun nanti. Jangan membuat dirimu merasa rendah nak"Ucap bunda Farah yang ikut menangis dan semakin erat memeluk Safa.
Safa hanya bisa menangis. Apa yang dikatakan bunda Farah benar anggap semua ini sebagai mimpi buruk yang akan berakhir ketika kita bangun nanti.
"Dengarkan bunda, Safa harus terbuka kepada keluarga Safa terutama kedua orangtua Safa. Jika Safa mengetahui sesuatu tanyakan padanya agar Safa mendapatkan jawaban yang pasti. Tapi jika salah satu diantarnya marah itulah salah satu konsekuensi yang harus Safa terima. Kita sebagai anak harus terbuka terhadap orangtua kita. Bunda tidak bisa menjawab atau menceritakan apa yang Safa ingin ketahui. Yang berhak untuk menjawab pertanyaan Safa adalah keluarga Safa terutama papa. Dan ingat pesan bunda kamu harus bisa menerimanya" Ucap bunda Farah panjang lebar dengan tangan menangkup kedua pipi Safa san menghapus air mata Safa dipipinya.
__ADS_1
"Iya bun, Safa hanya ingin tahu yang sebernarnya. Meskipun Safa bercerita pada bunda dan bunda tidak menjawabnya. Setidaknya hati Safa sangat lega dan sedikit tahu tentang kebenarannya meski Safa ingin mendapatkan jawaban yang lebih".
Bersambung