Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #19


__ADS_3

...Di kelas ...


Safa sedang melihat pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman tangan Shelyn yang begitu kuat dengan mata yang tiada hentinya menangis. Safa menangis karena ucapan Shelyn terhadapnya, apakah dia sehina itu sampai-sampai Shelyn beranggapan seperti itu terhadapnya.


Tessa dan Tania masuk kelas berbarengan. Safa tidak melihat kedatang kedua temannya dia hanya fokus mengusap pergelangan tanganya yang merah. Tessa dan Tania saling bertatapan dan melihat kearah Safa seperti sedang menangis.


"Safa apa kau baik-baik saja. Tadi om Akhtar menelpon ku dengan khawatir dan menanyakan apa kau sudah berada di kampus" Ucap Tania.


Safa hanya diam saja ucapan Shelyn masih terngiang-ngiang ditelinganya.


Tania yang melihat Safa mengusap pergelangan tangannya yang merah pun langsung menanyakannya.


"Safa apa yang terjadi? Apa ada seseorang yang menyakitimu?" Tanya Tania berjongkok dihadapan Safa sambil memegang tangannya.


"Safa katakan sesuatu" Ucap Tessa mengguncang bahu Safa. "Setidaknya jawab pertanyaan Tania, jangan bikin kita khawatir" Ucapnya lagi.


"Tan, lo telpon om Akhtar dan beritahu padanya jika telah terjadi sesuatu pada Safa" Ucap Tessa dan dibalas anggukan oleh Tania.


Saat Tania mengambil ponselnya didalam tas dan akan menghubungi papanya Safa, Tiba-tiba Safa menghentikan Tania.


"Tidak perlu menghubungi siapapun, aku tidak apa-apa" Ucap Safa mencoba tersenyum.


"Gue rasa lo sedang gak baik-baik saja Safa. Katakan siapa yang udah nyakitin lo?" Ucap Tessa dengan muka tangan yang sudah mengepal.


"Aku baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir. Dan jangan hubungi keluarga untuk apapun itu" Ucap Safa memohon.


"Cerita ke gue siapa yang udah nyakitin lo, atau gue cari tahu sendiri apa yang udah terjadi" Ucap Tessa mendesak Safa agar memberi tahunya.


Safa yang melihat mata Tessa yang menatapnya dengan ketulusan langsung berdiri dan memeluknya Tessa pun membalas pelukan Safa dan mengusap punggung Safa.


"Shelyn"Lirih Safa.

__ADS_1


Tessa yang mendengar itu melepas pelukan Safa dan mengepalkan kedua tangannya. Saat Tessa hendak pergi untuk menemui Shelyn, Safa menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya.


Engga usah ditanya lagi bagaimana dengan ekspresi Tania. Dia juga ikut kesal mendengar jika yang menyakiti Safa adalah Shelyn. Tapi dia berbeda dengan Tessa yang ketika tahu akan langsung marah dan bertindak. Tania juga sebenernya berani membalas perbuatan Shelyn, tapi dia orang yang males untuk ribut.


Safa yang ditanya Tessa pun hanya bisa diam. Tidak lama kemudian Safa pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Tessa dan Tania dari awal tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


T2 (maksudnya Tessa dan Tania) sangat kesal mendengar cerita Safa.


"Dan lo diem aja diperlakukan seperti itu? mungkin ini hanya tangan yang luka. Entahlah besok atau mungkin seterusnya apalagi yang akan dia perbuat pada lo" Ucap Tessa semakin kesal.


"Sudahlah Tess, lagian Safa juga belum mengenal terlalu jauh mengenai Shelyn. Kita yang tahu harusnya memberitahu Safa sifat dan sikap Shelyn sehari-hari nya di kampus ini. Lo mah malah bikin Safa tambah sedih kalau sikap lo kaya gitu" Ucap Tania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Dikediaman Atmaja...


Sarah terus mondar-mandir diruang tamu sejak suaminya pergi dia masih menunggu kabar dari suaminya mengenai Safa. Sarah mencoba menghubungi suaminya terus-menerus tapi tidak ada jawaban, dia sangat khawatir dengan keadaan Safa.


Sarah mencoba menelpon suaminya kembali dan untuk kali ini Akhtar menjawabnya.


"Walaikumsalam. Maaf tadi ketika aku dari kampus Safa ada meeting mendadak, jadi aku tidak sempat memberitahumu. Oh iya mengenai Safa dia baik-baik saja, dia pergi menggunakan kendaraan umum hanya ingin belajar mandiri dan tidak ingin merepotkan ku" Jawab Akhtar.


"Syukurlah aku sedikit lebih tenang jika putriku dalam keadaan baik-baik saja" Ucap Sarah dengan tangan kiri memegang dada sambil memejamkan matanya.


"Kok sedikit lebih tenang?" Tanya Akhtar mengerutkan keningnya.


"Ya jika aku sudah bertemu dengan putriku maka aku akan merasa lebih tenang lagi" Jawab Sarah.


"Yasudah, aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu. Assalamu'alaikum" Ucap Akhtar.


"Baiklah. Walaikumsalam" Jawab Sarah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah engkau telah melindungi putriku" Batin Sarah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Kembali ke Safa...


"Lo gapapa? Apa yang Shelyn lakukan padamu" Tanya Jauhar pada Safa yang sedang berkumpul dengan kedua temannya.


"Aku gapapa, Shelyn tidak mengatakan apapun kok" Jawab Safa menutupi apa yang terjadi padanya.


"Jika Shelyn tidak melakukan apapun padamu mengapa tanganmu bisa terluka?" Tanya Jauhar yang terlihat khawatir.


"Ada apa dengan diri gue? Kenapa gue harus peduli padanya, bodo ah gue udah terlanjur nanya mundur juga ga ada gunanya. Malah nanti gue yang jadi malu sama cewe-cewe ini" Batin Jauhar.


"Ekhemm" Ucap T2 (Tania dan Tessa) bersamaan dengan mata melirik sekeliling.


"Apa?" Tanya Jauhar dingin.


"Tumben lo perhatian sama cewe, kita juga temen lo yang udah kenal lama daripada dengan Safa, tapi lo kagak pernah tuh perhatian, iya ga Tan?" Ucap Tessa menggoda Jauhar dan meminta persetujuan Tania.


Jauhar memang hanya memiliki teman sedikit di kampusnya bukan hanya keempat teman lelakinya saja tapi ada dua perempuan yaitu Tania dan Tessa. Tapi sepertinya sekarang bertambah satu lagi yaitu Safa yang akan jadi teman Jauhar.


"Idih, lo aja kali yang ga pernah diperhatiin Jauhar gue sih pernah" Jawab Tania.


"Ck" Ucap Tessa berdecak kesal.


"Sudah kenapa jadi kalian yang ribut. Oh iya Jauhar aku gapapa kok, lagian kamu tidak perlu khawatir dan mm aku mohon jangan dekati aku apapun itu, a-aku takut jika Shelyn salah paham terhadapku mengenai kedekatan kita" Ucap Safa yang menengahi keributan T2 dan meminta Jauhar untuk jauh darinya.


"Tania dan Tessa juga temen gue berarti lo juga sudah masuk dalam pertemanan gue. Lo gak perlu takut dengan apapun yang Shelyn katakan, lo bisa minta bantuan gue jika Shelyn melakukan apapun padamu. Lagian gue dan Shelyn engga ada hubungan apapun" Jawab Jauhar dengan wajah cueknya saat hendak pergi Jauhar kembali berbalik menghadap Safa.


"Oh iya mengenai lo yang nyuruh gue jangan deket-deket dengan lo, bukan keinginan gue tapi keinginan umi yang nyuruh gue jagain lo" Ucap Jauhar dan berlalu pergi.

__ADS_1


Safa yang melihat kepergian Jauhar bingung, umi siapa yang dia maksud untuk menjaga dirinya. Mengapa orang tersebut menyuruh nya untuk menjaganya. Pikiran Safa jadi kalang kabut dengan apa yang terjadi hari ini.


Bersambung


__ADS_2