Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #28


__ADS_3

Afsana juga tidak tahu mengapa ketika Safa diberikan obat atau apapun itu tubuhnya seolah menolak. Dia juga terus berusaha agar Safa kembali seperti sedia kala.


"Safa, Tana mohon lawan rasa sakit kamu. Apa kamu tidak kasihan pada mamah yang terus saja pingsan karena keadaanmu semakin lemah, papamu juga dia yang selalu menunggumu untuk pulih kembali agar dia bisa mengantarkanmu kemanapun kamu mau. Nenek juga sangat terpukul melihat keadaanmu, apalagi kedua adikmu jika tahu bahwa kau kecelakaan dan keadaanmu semakin memburuk bagaimana nasib mereka yang selalu kau manjakan. Teman-temanmu juga dia sangat mencemaskanmu. Safa Tana mohon sadarlah"Ucap Afsana dengan meneteskan air mata.


Tiiiiiiittttttttt


"Maaf dok pasien.... " Ucap Mira terhenti karena Afsana pun tahu apa yang terjadi.


"Safa Tana mohon bangunlah, kau mau jika sifatku kembali seperti dulu yang membencimu, Safa bangun Tana mohon. Safa, hiks hiks" Ucap Afsana sambil mengguncangkan tubuh Safa agar bangun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah taman Sarah melihat putrinya yang memakai pakaian serba putih sedang duduk termenung diatas ayunan, dengan mata yang berlinang air mata Sarah menghampirinya.


"Safa" Panggil Sarah


"Mama" Ucap Safa sambil berlari dan memeluk mamanya.


"Ma, maafin Safa jika punya salah pada mama. Safa juga pernah buat mama kecewa. Safa minta maaf ma" Ucap Safa sambil terisak-isak.


"Sayang, yang lalu biarlah berlalu. Mama sudah memaafkan Safa, mama paling tidak bisa marah terlalu lama pada anak-anak mama. Jadi janganlah menangis" Jawab Sarah dengan menangkup kedua pipi Safa dan menghapus air mata Safa yang membasahi pipinya.


"Ma, Safa hanya ingin berterima kasih pada mama karena sudah mau merawat Safa memberikan kasih sayang, cinta dan perhatian mama pada Safa tanpa membeda-bedakan dengan Yumna dan Yasmin. Safa pamit yaa. Mama dan papa jaga diri kalian yaa. Sampaikan salam Safa pada yang lain dan beritahu pada mereka bahwa Safa sangat menyayangi kalian semua"Ucap Safa sambil memegang kedua tangan Sarah.


"Engga, mama gak akan biarin kamu pergi. Jika kamu pergi maka mama juga akan ikut pergi denganmu. Dimana ada Safa mama juga harus ada didekat Safa" Jawab Sarah memegang tangan Safa agar tidak pergi.


"Mama tenang saja, Safa berada ditempat yang indah dan pasti itu akan membuat Safa bahagia. Jadi mama tidak perlu mengkhawatirkan Safa. Safa pergi ma, Safa sangat sayang pada mama" Ucap Safa dengan mencium pipi Sarah dan pergi.


Sarah hanya bisa teriak memanggil nama Safa. Tapi Safa terus berjalan tanpa melihatnya.


"Safa, Safa jangan tinggalin mama, hiks hiks" Gumam Sarah memanggil nama Safa terus-menerus tapi masih dengan mata tertutup.

__ADS_1


"Sar, Sarah bangun nak" Panggil Humita.


Humita yang sejak tadi menemani Sarah sedangkan Tania tetap menunggu didepan ruangan Safa agar jika terjadi sesuatu Tania bisa segera memanggil yang lain.


"Safa" Teriak Sarah bangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran.


"Mi Safa ninggalin Sarah mi. Dia pergi jauh dia udah gak sayang lagi sama Sarah mi Safa pergi, hiks hiks" Ucap Sarah menangis dengan memeluk ibu mertuannya.


"Safa, ada sayang. Dia akan segera sembuh kamu tidak perlu khawatir, dan jangan berpikiran buruk tentang keadaan Safa kita do'akan supaya Safa cepat sadar" Ucap Humita mengelus punggung dan kepala Sarah yang berada dipelukannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Afsana keluar dari ruangan Safa dengan berderai air mata dan tubuh yang lemas. Dia tidak percaya bahwa Safa dengan tega meninggalkan dirinya dan yang lainnya.


"Tana apa yang terjadi, apa Safa sudah melewati masa kritisnya?" Tanya Tania yang mulai sedikit lega jika Safa membaik.


"Safa dia sudah meninggalkan kita, aku sudah berusaha semampuku tapi Allah lebih sayang padanya" Jawab Afsana menangis.


Plak


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat dikedua pipi Afsana yang dilakukan oleh Sarah. Ketika Sarah keluar dari ruangannya dia melihat Afsana juga keluar dan mendengarkan pembicaraannya dengan Tania.


"Kau selalu membanggakan bahwa dirimu adalah dokter yang hebat bukan? berapa lama kau menjalani kuliah kedokteran? Bukankah itu sangat lama? Kau selalu bisa menangani semua pasien lain sampai mereka sembuh" Ucap Sarah dengan senyum mengejek.


"Tapi apa yang kau lakukan pada putriku sampai dia harus kehilangan nyawanya hah? Mengapa kau tidak bisa menangani satu pasien saja yaitu keponakanmu sendiri Afsana"Teriak Sarah dengan wajah yang memerah.


Teriakan Sarah membuat semua orang melihat kearahnya. Mereka semua menatap Sarah dengan rasa iba.


"Apa kau masih membenci putriku? Jika iya simpan saja kebencianmu itu pada putriku, dan tanganilah terlebih dahulu agar putriku cepat pulih. Tapi apa yang kau lakukan kau telah merenggut nyawa putriku, apa yang ada dalam pikiranmu hah?" Ucap Sarah menggebu-gebu.

__ADS_1


"Kau tahu makna dari seorang bibi, bibi adalah orang yang mirip dengan ibu. Jika kau ingin membenci seseorang itu aku jangan putriku" Ucap Sarah kemudian masuk kedalam ruangan Safa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Seharusnya kau bicarakan kebenarannya kepada Safa dengan tenang tanpa harus emosi padanya. Kau kan papanya seharusnya kau tahu bagaimana perasaan Safa, Safa itu memiliki hati sama seperti Sarah istrimu paling tidak suka dibentak. Inilah akibatnya, Safa kecelakaan karena masalah yang ingin dia ketahui" Ucap Farah kesal.


"Kau juga kan tahu aku tidak suka jika ada yang membahas tentang wanita itu, siapapun itu orangnya" Jawab Akhtar ikut kesal.


"Bagaimanapun yang namanya ibu tetaplah ibu. Mungkin kau dengan Dania sudah menjadi mantan tapi Safa hadir di tengah-tengah kalian dan bagi Safa tidak ada yang namanya mantan ibu" Tegas Farah.


"Mengapa kau menyudutkan seolah semuanya aku yang salah" Ucap Akhtar sinis.


"Mengapa kau berfikir aku menyalahkanmu. Lalu apa yang kau lakukan itu benar ketika kau berteriak kepada Safa. Ouhhh atau kau senang jika Safa celaka" Ucap Farah tidak kalah sinis.


"Tutup mulutmu, aku tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi pada putriku"Jawab Akhtar tegas


Tania melihat bundanya dan papanya Safa sedang berbicara serius. Dia mendekati mereka berdua dengan deraian air mata.


" Bunda, om"Panggil Tania dengan mata sembabnya.


"Ada apa, kenapa kau berlari-lari seperti itu?" Tanya Farah.


"Om Safa om"Ucap Tania terisak.


"Katakan apa yang terjadi pada Safa? Tanya Akhtar sambil memegang kedua pundak bahu Tania.


"Safa sudah meninggalkan kita om, bun, hiks hiks" Tangis Tania pecah dan berhambur memeluk Farah.


"Apa? Tidak, tidak mungkin Safa pergi meninggalkan kita semua" Ucap Akhtar tidak percaya.


"Saaaafaaaaa" Teriak Akhtar sambil berlari masuk kedalam untuk menemui Safa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2