
"Bukan begitu nyonya, saya hanya takut jika anak-anak berfikir bahwa saya telah mendahului mereka untuk berbicara pada kalian semua" Jawab Nani merasa tidak enak.
"Kau tahu kami sengaja tidak memantau anak-anak kami oleh para bodyguard. Karena aku percaya padamu untuk bisa menjaga mereka selama kami pergi" Ucap Ibrahim.
Memang mereka sengaja tidak menyuruh anak buahnya untuk memantau anak-anak, karena takut mereka terganggu dalam melakukan aktivitas di dalam maupun di luar rumah.
"Sebenarnya, sesuatu terjadi pada Alya dan Gauhar, Gauhar di dorong oleh seseorang sampai terjatuh dan mengalami keseleo dibagian kakinya, sedangkan Alya... " Ucapnya teputus karena bagaimana jadinya dia mengetahui kondisi mental Alya.
"Apa yang terjadi pada putriku?" Tanya Ibrahim dengan wajah yang sudah tidak bersahabat.
"Aku akan menemui Alya dulu" Ucap Indra.
"Jangan tuan" Ucap Nani langsung membuat Indra berhenti.
"Jangan seorang pria yang masuk ke kamar Alya. Biar nyonya Anin atau Lili saja yang menemuinya, huh Alya mengalami pelecehan dan membuat dia trauma di dekat seorang pria" Tutur Nani.
"Apa?" Semua orang terkejut mendengar penjelasan nani.
"Siapa yang berani melakukan hal ini pada putriku" Teriak Ibrahim bangkit dari duduknya dengan wajah yang sudah merah.
"Saya tidak tahu tuan, tapi untung nya Alya tidak sampai di setubuhi hanya pakaian yang robek dan kedua pipinya merah akibat tamparan seorang pria. Dan satu lagi Jauhar sudah membawa kedua pelaku ke markas tuan" Jawab Nani.
"Berengsek" Teriak Ibrahim.
Tidak lama kemudian Anin jatuh pingsan karena mendengar bahwa anaknya hampir di setubuhi orang.
"Mba, sayang" Teriak Semuanya terkejut melihat Anin jatuh pingsan.
Ibrahim menggendongnya dan membawa istrinya ke kamar mereka, di belakang nya diikuti Indra dan Lili. Setelah dibaringkan di atas ranjang, Lili mendekatkan minyak ke hidung Anin agar cepat sadar.
"A-Alya" Lirih Anin.
"Ya sayang Alya baik-baik saja" Jawab Ibrahim menghampiri istrinya dan memeluknya.
"Kalian di rumah saja ya temani Alya, aku dan Indra akan pergi ke markas" Ucap Ibrahim.
"Tolong balaskan rasa sakit ku pada orang yang berani menyentuh putri kita" Ucap Anin yang masih menangis dipelukan istrinya.
"Tentu saja, tidak akan aku biarkan dia bebas begitu saja setelah apa yang sudah dia perbuat pada putri kita" Jawabnya dengan menahan amarahnya.
"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik" Ucap Ibrahim mencium seluruh wajah Anin dan tidak lupa dia juga memberikan kecupan singkat pada bibir Anin.
Begitu pun dengan Indra, dia juga berpamitan pada istrinya dan melakukan hal yang sama yaitu memberi kan ciuman bertubi-tubi. Setelah berpamitan mereka berdua pun pergi ke markas.
"Aku akan menemui Alya" Ucap Anin yang sudah menurunkan kakinya dari atas ranjang.
"Akan aku temani" Jawab Lili sambil menggandeng lengan Anin.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Al ini mami dan bunda sayang. Apa kami boleh masuk?" Tanya Anin diluar kamar Alya.
"Mami bunda" Lirih Alya yang duduk berjongkok di pojokan kamar, dengan gorden yang masih tertutup dan lampu ia matikan.
"Engga mungkin itu mereka, bukan kah mereka akan kembali lusa. Atau jangan-jangan, tidak tidak mungkin jika itu mereka, bagaimana mereka masuk ke rumah ini" Gumam Alya yang masih ketakutan.
"Sayang bunda dan mami masuk ya" Ucap Lili sudah membuka sedikit pintu kamar Alya dengan pelan.
Ceklek
Lili mulai membuka pintu itu dengan lebar, mereka berdua tidak bisa melihat apa yang ada di dalam kamar Alya.
"Sayang kamu dimana nak? Ini mami dan bunda, kami sudah pulang sayang" Ucap Anin.
Anin mencari tombol untuk menyalakan lampu. Setelah menemukannya dia pun menyalakan lampu tersebut dan betapa terkejutnya mereka berdua melihat kamar Alya seperti kapal pecah, kamar Alya sangat berantakan beberapa pakaian, bahkan seprei dan selimut sudah tidak berbentuk.
"Al, Alya" Panggil Anin dengan lembut.
"Hiks hiks hiks" Isak tangis Alya mulai terdengar.
"Mba itu Alya" Ucap Lili menunjuk Alya.
"Ya Allah sayang" Ucap Anin sedih melihat keadaan putrinya.
"Jangan sentuh aku" Teriak Alya sambil menepis tangan Anin yang akan memegangnya.
"Sayang ini mami nak, mami sudah pulang apa Alya tidak merindukan mami" Ucap Anin sambil menangis.
"Mami" Lirih Alya melihat lekat maminya.
"Iya sayang ini mami, kemarilah" Ucap Anin mengulurkan tangannya.
"Mami" Ucap Alya langsung memeluk Anin.
"Mm-reka ingin me-melecehkan ku mi" Adu Alya sambil menangis di pelukan maminya
"Tidak akan ada yang berani menyentuhmu sayang, jika pun ada papi akan membuat perhitungan pada orang itu" Jawab Anin mengusap kepala dan punggung Alya.
"Bangunlah sayang, biar nanti mami nyuruh bu Nani untuk membereskan kamar mu, untuk sementara tidurlah dengan mami ya" Ucap Anin dan diangguki Alya.
__ADS_1
"Bunda" Panggil Alya, bukan hanya ditemani maminya dia juga ingin ditemani oleh bundanya.
"Bunda juga akan menemani kamu" Jawab Lili mengelus kepala Alya.
"Alya pergi duluan saja ke kamar mami, biar bunda ambilkan baju ganti buat Alya" Ucapnya lagi.
"Iya, Makasih bun" Ucap Alya.
"Sama-sama sayang" Jawab Lili.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ja kamu ga akan pulang?" Tanya Risa.
"Aku nunggu kakak, jika kakak ingin menginap biar aku pulang sekarang, lagian ibu kirim pesan mereka sudah pulang" Jawab Jauhar.
"Ya sudah kita pulang saja, mi aku pulang ya. Lain kali aku akan menginap di sini" Ucap Risa.
"Iya tidak apa-apa, tapi mami ikut ya mami ingin bertemu mereka" Ucap Humita.
"Tenang mami tidak akan melakukan apapun di rumah mu" Ucapnya lagi saat melihat raut wajah Risa.
"Afsana tolong panggilkan putriku" Titah Risa.
"Isshh, kau ini selalu saja menyuruhku" Sebal Afsana tapi tetap melakukan apa yang Risa katakan.
"Zen ayo kita pulang" Ajak Risa saat Zena sudah datang.
"Lho, apa kita ga jadi menginap?" Tanya Zena.
"Lain waktu saja sayang, nenek dan kakek mu sudah kembali ke rumah" Jawab Risa.
"Benarkah mereka sudah pulang?" Tanya Zena memastikan.
"Iya bawel masa gitu aja ga percaya" Sahut Jauhar.
"Aku nanya mommy bukan kau" Ketus Zena.
"Iya sayang, ayo kita pulang pasti mereka sedang menunggu kita" Ucap Risa.
"Ayo mami sudah siap" Ucap Humita yang tadi sedang mengambil tas untuk pergi.
"Safa ayo ikut, temani nenek" Ajak Humita.
"Iya nek" Jawab Safa.
"Safa ikut mobil Jauhar di temani Zena, biar kalian tidak melakukan hal diluar batas" Tegas Humita.
__ADS_1
"Ya allah mi, aku tidak akan melakukan apapun. Paling hanya cium saja, hehe" Ucap Jauhar sambil tertawa.
Bersambung