Sebuah Hubungan

Sebuah Hubungan
Episode #25


__ADS_3

Pada saat akan melewati mobil yang kecelakaan Tania juga mengurungkan niatnya untuk tidak pulang dulu. Karena penasaran akhirnya dia memberhentikan kendaraannya lalu turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah mobil yang sedang dikelilingi banyak orang.


"Safa" Lirih Tania.


"Tidak Tania, mobil ini bukan milik Safa. Safa pasti sudah berada di rumahnya" Ucapnya pelan.


Meskipun Tania mencoba untuk meyakinkan dirinya untuk tetap tenang dan tidak panik.


Akhirnya diapun melihat kesamping dimana Safa berada dan membelakan matanya.


"Safa, Safa" Teriak Tania dari luar mobil sambil mengetuk-ngetuk jendela dan dia mencoba untuk membuka pintu mobil tersebut tapi susah karena terkunci dari dalam.


"Pak tolong, ini saudara saya. Tolong keluarkan dia" Ucap Tania pada orang-orang disekitarnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tapi pintunya terkunci kami tidak bisa mengeluarkan nya" Jawab salah satu bapak tersebut.


"Pak saya mohon, cepat keluarkan saudara saya dari dalam mobil. Tolong pecahkan saja kacanya pak, yang penting saudara saya selamat" Ucap Tania yang sudah menangis karena khawatir dengan keadaan Safa yang masih berada didalam mobil.


Sambil menunggu orang-orang membantu mengeluarkan Safa dengan cepat Tania menelpon papanya Safa. Karena Tania tahu kantor papanya Safa dekat dengan tempat kecelakaan.


Tut


Tut


"Om Tania mohon angkat telfonnya" Lirih Tania masih menangis dan terus-menerus menelpon Akhtar sampai diangkat.


"Halo, Tan ada apa? Banyak sekali panggilan darimu. Maaf tadi om ada meeting mendadak" Tanya Akhtar disebrang sana.


"Om hiks hiks" Ucap Tania bukannya menjawab pertanyaan Akhtar malah menangis.


"Tan ada apa? Mengapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Akhtar bingung.


"Om, Sa-Safa om hiks hiks" Tangis Tania pecah.


"Ada apa dengan Safa? Tania katakan dengan jelas kenapa dengan Safa?" Tanya Akhtar dengan gelisah.


"Sa-Safa kecelakaan...... " Jawab Tania sambil menjelaskan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Baiklah, kau tunggu disana om akan segera datang" Ucap Akhtar dengan mengakhiri telpon tersebut.


Pada saat Tania sedang menelpon Akhtar, Safa sudah dibawa keluar dari mobil dan Tania menyuruhnya untuk memasukan Safa kedalam mobilnya dan akan membawanya ke Rumah sakit.


Tania juga tidak lupa memberitahu pada Akhtar bahwa Tania sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.


Ketika Tania sampai dia berteriak memanggil perawat dan dokter untuk membantu Safa agar segera ditangani.


"Suster, dokter. Suster cepat tolong saudara saya, jangan sampai sesuatu terjadi padanya" Ucap Tania saat suster datang menghampirinya sambil menangis.


Tidak lama kemudian Safa langsung dibawa keruangan untuk diperiksa lebih lanjut.


"Loh, Tan kamu ada disini? Siapa yang sakit? " Tanya Afsana yang kaget melihat Tania mondar-mandir sambil menangis.


"Tana, cepat tangani Safa dia ada didalam sedang diperiksa suster. Safa mengalami kecelakaan" Ucap Tania menangis tersedu-sedu.


Semenjak Tania berteman dengan Safa, dia selalu menyayangi Safa layaknya saudara kandung, bukan karena orang tua mereka berteman tapi memang Safa adalah gadis yang sangat baik.


"Apa" Ucap Afsana kaget dia bergegas masuk kedalam dan langsung menangani Safa.


"Tania, bagaimana keadaan Safa?" Tanya Akhtar khawatir dengan rambut yang acak-acakan.


Akhtar takut karena kejadian tadi di kantor membuat Safa hilang konsentrasi saat menyetir mobil.


"Safa, sudah ditangani dokter. Karena Tana langsung yang menanganinya" Jawab Tania sambil menghapus air matanya.


Akhtar yang masih belum tenang dia meremas rambutnya dengan kasar dan duduk lesehan sambil menyender ditembok.


Kemudian Afsana keluar dari ruangan Safa dengan lemas. Akhtar yang melihat itu pun langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Afsana.


"Apa yang terjadi pada putriku?" Tanya Akhtar dengan keadaan mata merah karena kebanyakan menangis, rambut yang kusut serta yang miring.


"Safa baik-baik saja kan Tana?" Tanya Tania pelan.


"Safa dalam keadaan tidak baik-baik saja bang, Tan. Aku akan berusaha semampuku untuk membantu Safa bisa pulih seperti biasa" Jawab Afsana sedih.


"Apa yang kau katakan, seharusnya ketika kau sudah memeriksanya, Safa bisa baik-baik saja. Dokter macam apa kau ini hah?" Teriak Akhtar tidak Terima bahwa Afsana mengatakan jika putrinya tidak baik-baik saja, lalu berjalan kearah kursi yang tersedia disana.

__ADS_1


Semua orang yang berada di rumah sakit kaget dan melihat kearah Akhtar yang berteriak kepada Afsana. Afsana sudah bisa menebak jika dia mengatakan tentang keadaan Safa maka abangnya akan marah karena Safa adalah anak kesayangannya.


"Maksud Tana apa? Apa yang sebenarnya terjadi pada Safa?" Tanya Tania.


"Huh. Safa mengalami benturan yang sangat keras dibagian kepalanya. Benturan kepala memang bisa memberikan bahaya dan mengancam jiwa jika terbentur pada area vital ataupun benturan yang terjadi dengan keras. Dan....."Tutur Afsana ucapannya terpotong sambil melihat ke arah abangnya


"Dan apa Tana? Katakan?" Tanya Tania.


"Dan hal tersebut membuat Safa trauma kepala ringan" Jawabnya sambil melihat kearah abangnya yang juga sedang menatapnya.


Akhtar tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo'a. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri, mengapa tidak baik-baik berbicara dengan Safa mengenai masa lalunya.


"Apa itu akan berbahaya nantinya?" Lirih Akhtar.


"Trauma kepala ringan jika tidak segera ditangani bisa berkembang menjadi semakin parah dan berpotensi tinggi menyebabkan epilepsi. Gangguan pada sistem saraf pusat (neurologis) ini ditandai dengan gejala berupa kejang sampai hilang kesadaran. Jika trauma kepala ringan hingga berat dapat sangat mempengaruhi kesehatan seseorang, tidak hanya melibatkan fisik saja, melainkan juga kesehatan mental hingga kondisi sosio-ekonomi"Tuturnya kembali.


"Ma-maksud Tana Safa mengalami gegar otak?" Tanya Tania.


"Jika dibilang gegar otak tidak. Untungnya Safa tidak mengalami itu"


Tania yang mendengar kebenaran itu sedikit lega mengenai keadaan Safa. Akhtar yang mendengar itu juga sama leganya dengan Tania


Afsana mendekat ke arah abangnya.


"Apa abang sudah memberitahukan tentang Safa pada mami dan juga kakak?" Tanya Afsana yang sudah duduk disamping abangnya.


Seketika wajah Akhtar mengangkat dan melihat Afsana. Di sisi lain dia lupa untuk memberitahukan kejadian ini tapi disisi lain dia juga tidak ingin keluarga nya tahu. Tapi mau bagaimana lagi mereka juga harus tahu tentang keadaan Safa.


Akhtar hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Abang tidak tahu bagaimana reaksi mereka jika tahu tentang keadaan Safa, terutama kakak kamu" Jawab Akhtar dengan pandangan lurus kedepan.


"Bang jang pikirkan bagaiamana reaksi mereka, mereka juga berhak tahu apa yang terjadi pada Safa. Jika mereka tahu dari orang lain malah akan membuat mereka semakin kecewa terhadap abang" Ucap Afsana.


"Kau telpon saja mereka dan suruh datang ke rumah sakit" Ucap Akhtar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2