
"Oma mengerti bagaimana perasaan kamu, tapi begini ya sayang. Segala tindakan itu pasti punya alasan, kenapa, dan untuk apa. Oma tahu, orang tuamu itu sangat menyayangimu, dulu mereka sangat menantikan kehadiran kamu. Mungkin mereka punya alasan, kenapa bersikap seperti ini, yang jelas itu pasti yang terbaik untuk kalian, percaya sama Oma," kata Bu Mirna sambil merangkuh Bylla dengan lebih erat.
"Ini memang baik untuk Mika, tapi tidak untukku Oma. Jika memang ada alasan, katakan saja. Apa aku kurang baik, apa aku kurang cantik. Seharusnya katakan saja, agar aku bisa mengerti, agar aku bisa memperbaiki diri," gerutu Bylla sambil tetap menangis.
"Mungkin sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengatakan alasan itu sayang. Sudah, jangan menangis!" ucap Bu Mirna sambil mengusap air mata Bylla.
"Aku juga heran, kenapa Ella dan Kairi membedakan kalian. Padahal aku tahu, dulu mereka sangat menyayangi kamu, bahkan sejak kamu masih ada dalam kandungan. Apa mereka tidak mengerti, jika sikap yang tidak adil ini sangat melukai hatimu." Batin Bu Mirna dalam hatinya.
"Bahkan dengan mudahnya Mama dan Papa merestui hubungan Mika dan Kak Rubben, padahal aku yang lebih dulu mencintainya."
"Itu artinya Rubben tidak pantas untuk kamu, kamu terlalu istimewa untuk dia. Lagipula sekarang kan sudah ada Reymond, Oma lihat dia pria yang baik. Kau sepertinya juga bahagia bersama dengannya, hmm?"
"Iya Oma, Reymond memang lebih baik, daripada Kak Rubben. Tapi yang jadi masalah bukan itu, melainkan sikap Mama dan Papa. Apa mereka tidak memikirkan perasaanku? Apa hanya Mika yang pantas bahagia?"
Bu Mirna tak lagi menjawab ucapan Bylla, beliau hanya terus mengusap-usap rambut cucunya. Hatinya ikut sakit, kala melihat cucunya yang terus menangis.
"Oma akan mencoba berbicara dengan orang tuamu, Nak." Batin Bu Mirna dalam hatinya.
"Aku akan mandi Oma, berendam di air hangat, mungkin pikiranku akan sedikit rileks," ucap Bylla sambil menarik tubuhnya. Ia menyeka air matanya dengan lengannya.
"Ya sudah mandi sana, janji ya jangan menangis lagi! Ada Oma dan Opa, yang selalu ada di samping kamu, ya," kata Bu Mirna.
"Iya Oma," jawab Bylla seraya mengulas senyuman di bibir ranumnya.
Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju ke kamar mandi.
Sementara itu, Bu Mirna langsung mengeluarkan ponselnya, ketika tubuh Bylla sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Bu Mirna menghubungi satu nama yang ada dalam daftar kontaknya. Dan tak lama kemudian, sambungan telepon mulai terhubung.
"Hallo. Assalamu'alaikum Ma." Sapa seseorang di seberang sana, seseorang yang tak lain adalah Kairi.
"Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu, Kai?" tanya Bu Mirna.
"Alhamdulillah, kita di sini sehat Ma. Di sana bagaimana kabarnya, sehat-sehat semua, kan?"
"Sehat, tapi..."
"Tapi apa Ma?" tanya Kairi dengan cepat. Apakah terjadi sesuatu dengan ibunya.
"Kamu sekarang ada di mana?" bukannya menjawab, Bu Mirna malah balik bertanya.
"Ini masih di kantor Ma, ada apa?"
"Ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu, penting. Sebenarnya sama Ella juga, tapi karena kamu masih di kantor, ya sudah, Mama bicara sama kamu saja," ucap Bu Mirna.
"Hal penting apa, Ma?" tanya Kairi.
"Sebenarnya ada apa, kenapa kamu dan Ella membedakan Bylla dan Mika? Mereka itu sama-sama anak kamu. Asal kamu tahu Kai, sikap kalian itu membuat Bylla terluka. Kalau memang dia ada salah, katakan, agar dia bisa memperbaiki dirinya. Jangan membedakan seperti ini, kasihan Bylla." Kata Bu Mirna dengan panjang lebar.
Cukup lama Bu Mirna menanti jawaban dari Kairi, karena anak lelakinya itu tak kunjung membuka suara.
"Kai!" panggi Bu Mirna.
"Sebenarnya kami tidak berniat membedakan Ma, hanya saja keadaan yang memaksa kami untuk bersikap demikian." Ucap Kairi dengan pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Bu Mirna.
__ADS_1
"Sebenarnya..."
Kairi menjelaskan masalah yang terjadi dalam keluarganya, alasan kenapa mereka lebih menyayangi Mika. Bu Mirna terpaku seketika, beliau tak menyangka, jika anaknya menyimpan beban yang terlalu berat.
Setelah merasa lebih tenang, Bu Mirna melangkah keluar dari kamar Bylla, beliau pergi menemui suaminya.
Sekitar setengah jam kemudian, Bylla keluar dari kamar mandi. Tubuhnya di balut piyama pendek bermotif beruang, rambutnya yang panjang, ia gulung ke atas menggunakan handuk, buliran air sesekali menetes dari ujungnya.
Bylla kembali duduk di sofa, tak peduli meskipun rambutnya masih basah. Ia terlalu malas untuk menggunakan hair dryer, ia lebih memilih duduk diam sambil melamun.
Takdir tak pernah salah, takdir selalu indah.
Satu kalimat yang masih terngiang di ingatan Bylla. Seorang pemuda seperti Ghani, bisa mensyukuri apa yang terjadi dalam hidupnya, tanpa pernah mengeluh.
Bylla menghela nafas panjang, sejauh ini ia belum bisa bersikap seperti Ghani. Ia lebih sering mengeluh, dan selalu menyimpan rasa benci.
"Maaf Ghani, aku belum bisa berpikir seperti dirimu. Aku merasa takdirku belum indah. Meskipun aku berusaha untuk selalu bersyukur, tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengeluh." Gumam Bylla dengan pelan.
***
Satu minggu kemudian.
Hari ini adalah hari ulang tahun Bylla yang ke-25. Sejak tengah hari, Bylla sudah pulang dari kantornya. Ia sengaja pulang lebih awal, karena akan merayakan ulang tahunnya bersama keluarga. Selain Oma, dan Opa, juga ada Nenek Halimah, dan Leon. Mereka berkumpul, dan makan bersama. Bylla merasa bahagia, ia sedikit terhibur meskipun tidak ada kehadiran orang tuanya.
Nenek Halimah, dan Leon pulang setelah hari hampir senja. Setelah itu, Bylla langsung mandi, dan bersiap-siap pergi ke Restoran Wendis, sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota. Reymond menyewa seluruh tempat itu, untuk merayakan pesta ulang tahunnya.
Detik ini, Bylla sedang menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Tubuh sintalnya dibalut dress panjang warna biru muda, dengan hiasan pita, dan manik-manik putih di bagian pinggangnya. Rambut panjangnya, ia biarkan tergerai begitu saja, ia hanya menambah sedikit aksesoris di bagian depannya. Kalung dengan liontin bulan sabit, tampak menggantung manis di lehernya, ditambah anting-anting permata warna biru safir, penampilan Bylla malam ini nyaris sempurna. Setelah merasa cukup dengan penampilannya, Bylla meraih high hells warna putih, dan kemudian memakainya.
"Sepertinya sudah bagus," ucap Bylla sambil berputar-putar di depan cermin.
"Sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Reymond, katanya dia akan memberiku hadiah yang spesial, apa ya kira-kira," gumam Bylla sambil tersenyum.
"Bylla!" panggil Bu Mirna.
"Iya, Oma."
"Sania sudah menjemputmu, dia menunggu di ruang tamu," ucap Bu Mirna.
"Iya Oma, suruh menunggu sebentar ya," teriak Bylla.
Reymond tidak mengizinkannya berangkat sendiri. Ia menyuruhnya berangkat bersama Sania, teman dekatnya Bylla.
Sekali lagi Bylla memeriksa penampilannya, kalau saja ada yang kurang benar. Setelah memastikan tidak ada kesalahan, ia mulai melangkah meninggalkan kamarnya, ia berjalan menuju ke ruang tamu.
"Wihh, sangat perfect. Reymond pasti tidak bisa kedip saat menatapmu," goda Sania saat Bylla sudah tiba di ruang tamu.
"Kau pikir dia capung," sahut Bylla.
"Ihh kau ini, itu hanya perumpaan Byl."
"Perumpamaan?"
"Iya."
"Dirimu laksana capung yang tidak berkedip, hmmm bolehlah, lumayan keren," ucap Bylla sambil tersenyum miring.
"Bukan seperti itu Byl."
__ADS_1
"Terus?"
"Ah entahlah, tidak pernah menang ngomong sama kamu. Ayo cepat berangkat, sudah ditunggu sama Reymond!" ajak Sania sambil beranjak dari duduknya.
Bylla tertawa keras, saat melihat sahabatnya yang kesal karena ulahnya. Bu Mirna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dibalik sikap Bylla yang anggun, dan lemah lembut, ia juga menyimpan sifat yang jail, walaupun jailnya itu hanya untuk orang-orang terdekatnya.
"Oma, aku berangkat dulu ya," pamit Bylla sambil memeluk Bu Mirna.
"Hati-hati, jangan pulang terlalu malam!" kata Bu Mirna.
"Iya, Oma."
"Oma, kami berangkat dulu ya," ucap Sania sambil menyalami Bu Mirna.
"Iya, hati-hati," jawab Bu Mirna.
***
Tepat pukul setengah delapan malam, Sania menghentikan mobilnya di depan Restoran Wendis. Sania dan Bylla turun dari mobil, dan mereka mengernyit heran kala menatap restoran yang gelap gulita, tanpa ada secercah cahaya lampu yang meneranginya.
"San, kok gelap begini, Reymond mana?" tanya Bylla sambil menatap Sania.
"Aku juga tidak tahu Byl, tapi benar kok Restoran Wendis, kita tidak salah alamat," jawab Sania sambil celingukan ke sana, kemari.
Disaat Sania dan Bylla sedang kebingungan, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Nona Bylla ya?" tanya pelayan itu.
"Iya."
"Silakan Nona, Tuan Reymond sudah menunggu Anda. Mari saya antar!" kata pelayan itu sambil melangkah menuju taman yang ada di samping restoran. Bylla dan Sania mengikutinya di belakang.
"Tuan Reymond ada di sana, silakan!" kata pelayan itu saat mereka sudah tiba di taman.
"Terima kasih." Ucap Bylla.
Bylla dan Sania terus melangkah, mendekati tempat yang ditunjukkan oleh pelayan.
Tak lama kemudian, mereka menemukan lilin-lilin kecil yang ditata rapi di atas rerumputan hijau. Bylla tersenyum saat menatap nyala lilin itu, Reymond memang lelaki yang sangat romantis, pikirnya.
"Reymond mana sih Byl?" tanya Sania.
"Jalan saja terus," jawab Bylla.
Sania tidak menjawab, dia hanya mengangguk sambil terus mengikuti langkah Bylla.
Tak lama kemudian, mereka tiba di tengah taman, namun suasananya gelap, dan tak ada lagi nyala lilin.
"Rey, kamu di mana?" tanya Bylla dengan suara yang sedikit keras.
Satu detik setelah Bylla melontarkan pertanyaannya, tiba-tiba ada lampu hias yang menyala, tepat di hadapannya. Jantung Bylla berdetak cepat, saat menatap lampu hias yang membentuk sebuah tulisan 'WILL YOU MARRY ME' mungkinkah Reymond akan melamarnya?
Belum sempat Bylla memahami situasi yang terjadi, tiba-tiba lampu menyala dengan terang. Banyak bunga-bunga indah yang dirangkai, dan ditata di sana. Namun Bylla tak peduli, pandangannya terpaku pada sosok lelaki yang sedang berjalan ke arahnya. Senyumannya mengembang, tampak manis dan mempesona.
"Aku sudah berjanji akan memberimu hadiah yang spesial. Dan hadiahku adalah ini," ucap Reymond sambil menyodorkan kotak perhiasan yang berisi cincin permata, sangat indah.
"Bylla, maukah kau menikah denganku?" tanya Reymond sambil menatap Bylla.
__ADS_1
Bersambung....